Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

gerobak pisang keju gubeng airlangga

Halo, apakabar? Bagaimana langit disana? Apakah sesyahdu Surabaya? Surabaya masih sama dengan segala teriknya, langit langit mendungnya. Embun dan senjanya pun masih sama, sama indahnya. Sudah berapa lama ya kita tak berjumpa? Semoga kita-pun masih sama, pada rasa peduli yang sama, satu sama lain. Jalan-jalan yang kita lewati dan singgahi juga masih menyimpan segala kenangannya Tak ada yang berubah. Rumah ibadah itu, rasanya masih menantimu untuk barisan paling depan dan memohon berlama-lama pada Sang segalanya. Juga kepulan kopi panas yang kau teguk sembari membaca harian ternama di Surabaya yang kau beli di Ibu tua itu. Sepertinya pemilik kedai kopi dan Ibu tua itu mencarimu dan beberapa kali menantimu, disana, sebuah tempat dimana kita paling banyak menghabiskan waktu bersama. Apa pemilik kedai kopi itu juga tau, bahwa kau telah jauh dari kami, Surabaya. Rumah seram itu pun masih menyimpan misterinya, tempat dimana kita biasa berlama-lama untuk periode y...

sebagian lain

Begitulah oktober dan november Awal dari akhir tahun yang selalu penuh cerita Awal dari musim yang penuh duka bagi orang-orang yang mengecap rindu pada sebuah ingatan Awal dari musim yang penuh makna bagi orang-orang yang ditahan oleh rintiknya, untuk berlama-lama dengan sosok yang dicinta Segala aroma dan mendung yang mengantarkannya Dan entah dibuka oleh gerimis manis ataupun deras yang sadis Musim penghujan selalu punya arti dibalik hadirnya Sebagian memaknai rintik sebagai pisau tajam yang menusuk luka semakin dalam Segala kenangan hanya bisa menjadi ingatan menyayat rongga dada, menambah duka, dan memberatkan kepala Menyadarkan bahwa memang ada sesuatu yang tak mungkin bisa kembali, seperti rintiknya Mengisyaratkan bahwa yang jatuh tak akan kembali lagi untuk membasahi Sebagian lagi memaknai rintiknya sebagai pengganti air mata Tetesan yang turun seperti membentuk sebuah pola Sebuah adegan lama yang pernah ada dikala hujan tiba Saat-saat dulu bersama, kini hanya m...

Siklus Langit: Siang

Aku mendamba langit yang tenang Kebiruan... Membuai khayalan Angin menari tanpa segan Di bawah hamparan cirrus dan altus yang beriringan Siang, adalah yang paling benderang Sungguh, indahnya langit yang begitu saja Yang sederhana Begitu pula dirinya Aku mencintai dirinya yang begitu saja Yang sederhana Dalam panorama yang indah itu Aku hanyalah butiran debu Dan cukup tahu diri untuk disebut upik abu Sementara itu Kutemukan makna tersirat Dalam tiap doa yang terjawab Menghapus ragu dan segala yang ambigu Tentang dia yang bersamaku Langkah yang kian ringan Menapaki jalanan masa depan Ini adalah selamat tinggal ku Walau tak jarang Segala tentang dirinya datang Sesak penuhi hati dan ingatan Inikah ujian keteguhan? Atau semesta tengah selipkan pesan? Aku terlalu lelah mencari arti Tidak lagi, tidak kali ini Segala yang datang Akan kunamakan kenangan Biarkan saja begitu... Bila tiba waktuku merindu Yang ada hanya aku Mengingat dirinya yang sempurn...

aku-pun tak ingin

maaf bila senjamu tak lagi jingga maaf bila tamanmu tak lagi berbunga maaf bila lautmu tak lagi berombak dan maaf bila semestamu kini tak lagi sama tenanglah, bila kau lah semestanya jingga mu kan kembali mengindahkan bunga mu kan kembali menghidupkan ombak mu kan kembali menguatkan dan semestamu, utuh, menyempurnakan. aku disini entah untuk apa mengapa dan bagaimana membuatmu semakin rela, atau malah membuatmu semakin membenci luka yang ada salah satu doa terbaikku, untukmu. ku harap segala lukamu segera pulih oleh waktu ku harap segala rindumu segera berporos temu ku harap segala air matamu berganti bahagia yang tak lagi semu ku harap segala rela-mu, tergantikan atau kembali dengan yang lebih baik. aku disini, jika memang perlu, ambilah kembali apa yang nanti separuhnya sudah menjadi aku. surabaya, 18 november 2017 00:32 firda fadhilah lubis

Baru Kusadari

Mulanya baik saja Masih tersegel rapi disudut hati Sampai hari itu tiba Perlahan merasuki memori Lama kusadari Waktu tak pernah kembali Bukan ia yang datang menerus, bertubi Yang selalu hadir selama ini Tapi kenangmu yang menjangkit sistem kerja otak kiri Rasamu yang menggerogoti hati Perlahan, dan pasti Empat tahun belakangan ini Karena yang fana adalah waktu, Kita abadi Maaf tahun ini terlambat sekali. Aku sibuk sendiri. Dan lagi, tak ada inspirasi. Tapi tenang saja, ini masih terus berlanjut. Hingga nanti .. Surabaya 17-11-17 dimashuri

Rindu.

Setiap detik ku butuh suara yang berniat ingin menghapuskan rindu ini yang terpendam dalam. Namun entah mengapa ku takut mendengar suara dan tampak wajah berseri itu. Ketakutan itu membuat rindu ini makin tak tertampung. Bak boomerang Tapi, entah mengapa aku malah membuat kacau ini semua. Seakan aku laki2 tolol yang berpikir begitu. Tapi ku merasakan sepeti itu. Batasan rinduku sudah penuh warna merah dalam termometer. Tapi dirasa warna merah dalam termometer itu hanyalah rayuan. Memang laki2 seperti ku pantas dibilang tolol.

Bersiaplah

Di gelap menjelang dini pagi. Tulang belakang berserakan dalam tubuh ini. Lagi lagi pemeran ini menjalankan apa yang tlah diaturNya. Meyakinkan dunia ini hanya fana belaka dan akan ada hikmah. Guna menebar nama yang seakan berguna nantinya. Dan. Tanpa munafik pemeran ini juga butuh alat tukar tuk menyambung nafasnya.

"aku membutuhkanmu"

Sekali lagi aku terbujur mati membaca bait demi sajak yang kau tuliskan. Tentang rindu, cinta, luka, hidup dan tikus-tikus istana Negara. Sekali lagi, aku iri pada wanita yang kau jadikan inspirasi setiap rima Seakan mampu berbicara, wanita itu bermakna segalanya Setahun lebih sudah kita tidak bersua, Apakabarmu? Bagaimana kabar kotamu disana? Masihkah hingar bingar seperti ibu kota? Atau sekarang sunyi senyap seperti pedalaman desa? Surabaya masih sama, Akupun juga. Yang selalu menantimu untuk pulang Menetap disini berlama-lama. Bercengkrama membahas jiwa dibawah lampu-lampu kota Berbicara tentang mimpi dan fana kehidupan dunia Bernostalgia, bercerita tentang kenangan aku dan kamu Ditemani kopi hitammu dan kopi susuku yang tanpa gula Tentunya bukan kenangan tentang kita, Karena kita belum pernah menciptakan kenangan apapun. Saat merindukanmu, kucoba mengobatinya dengan memesan kopi hitam favoritmu Meneguknya sembari mengingat semua nasehat...

Ironi Karti

Dan aku baru saja mengerti bila dirimu masih sempat mempedulikan aku lewat sosial media, padahal ketika kita bertatap mata seperti individu yang tak pernah mengenal sebelumnya. Ironi ya kita ini? Sama2 sering memperhatikan lewat layar kaca ponsel kita, tapi lucu sekali memang. Sampai saat ini pelukmu adalah salah satu komunikasi yang paling bisa kunikmati. Kita ini layaknya raga yg pernah bersatu lalu berpisah dan menjadi musuh, aku tak ingin demikian. Aku tetap ingin senyum nadirmu menghiasi hari-hariku, maaf saja saat itu kita bertikai dan beradu mulut. Bukan tanpa alasan, kita sama-sama masih kecil tidak dewasa sama sekali melawan keadaan. Biarlah itu menjadi sejarah buruk kita, toh saat tidak bersamamu aku menjadi paham caranya berkembang dan letak ketidakdewasaan kita dimana. Aku benar-benar paham sekarang bagaimana harus memperlakukan kamu, tenanglah persiapkan dirimu saja untuk jadi lebih istimewa.  Persiapkan saja waktu untuk kita bersua nantinya, waktu dimana kita sudah de...

Sajak semalam

1.Bumi tak perlu meminta ditemani bulan jika   bulan mengerti bahwa bumi sedang dilanda kegelapan 2.Gugusan bintang tidak akan bermunculan jika bukan pada waktunya  Bidadarilah yang bisa melihat gugusan di setiap harinya. 3.Cahaya bintang akan menghilang sejenak saat badai menghalangi

Sedang Rindu

Ibu, dan piringan hitam yang biasa ia putar Ayah, dan sofa merah tempat ia biasa bersandar Tak apa jika kita tak bersama, sudah ku ikhlaskan sejak lama Asal jangan terpisah doa Ialah oksigen dalam hidupku, makanan bagi jiwaku Yang kelaparan Terengah Tertatih Terlalu lelah berlari meraih mimpi Ibu, rumahku untuk pulang Ayah, binarku kala petang Kalian, cinta tak terpungkiri Menyatu dalam arteri dan menjadi abadi Dini hari, 25 Sept 2017 Ditulis ketika sedang rindu berat pada Mami Fani dan Papi Hiba Untuk teman-teman WAGZ yang mungkin sedang butuh semangat, baik tentang skripsi atau hal lain, coba ingat orang tua lalu minta doa Sedikti reminder:Al Isra'  23-24 dan Efesus 6:1-4 

SIKLUS LANGIT: PAGI

Sudut mataku masih melekat, alis dan dahi kian bertaut erat Hunus mentari menembus separuh diri Silaunya melukis bayang penumbra Pada satu sisi diriku, yang benderang karena dirimu Bak gerhana, sisi lainnya bermuram durja Entah apa yang membuatnya lara Mungkin kepingan beling atau batuan gamping Yang sudutnya kian tajam dan menghujam Atau aku yang lain, alter ego yang ingin bermain Menyandingkan cinta yang telah duduk manis di hati Mengundang tamu untuk sekadar minum teh di pagi hari Lalu pergi meninggalkan ragu Dan harapan Yang akan kutiupkan ke udara Bersama randa tapak yang mencari tempat  berpijak Mengangkasa pada atmosfer khas pagi hari Demi pagi yang memecah sepi Harusnya aku mengerti, aku tak pandai bermain hati Karena pagi masih tak mampu temukan arti

Siklus Langit: Fajar

Mataku tertuju ke timur Menatap pada horizon langit Menanti cahaya kemerahan dan sebuah harapan Semburat membentuk gradasi warna Perlahan meninggi bersama sang surya Bersama dengan itu, membawa turun basah embun Membasuh lelah sisa kemarin, atas juang demi juang melawan kehidupan Menghapus dingin sisa semalam, atas hati yang tak kunjung mendapat pelukan Burung gereja merangkai melodi, bersautan merajut harmoni Melagu cinta, cinta yang mana? Seperti fajar cinta datang bersama harapan Seperti fajar cinta adalah permulaan Temaram di ambang batas langit dan bumi Ada bimbang kala yang kujalani Tak sama dengan yang hadir dalam mimpi Atau yang datang sesekali dan membekas di hati Ciuman selamat pagi, lalu pergi tak undur diri Demi fajar yang menggiring pagi Sebuah ragu hadir dalam hati Dan nampaknya, fajar masih terlalu gelap untuk menemukan sebuah arti

Catatan Akhir Kuliah

Bukan tentang silsilah keluarga  Bukan perihal sanak saudara Tapi ini tentang rasa bersama Yang timbul karena terbiasa Rasa itu mengikat seperti simpul mati Tidak dapat lepas begitu saja Rasa itu hadir sendiri Tak pernah datang karena terpaksa Seperti sekotak pensil warna Yang mewarnai kertas yang sama Begitulah kita, Tak ada yang sewarna Yang melukis dalam garis waktu yang sama Dan bersama menghasilkan lukisan yang cantik jelita Lukisan indah berjudul kenangan masa kuliah Terima kasih telah melukis bersama Warnamu akan selalu kujaga Dalam hati dan kepala Surabaya 14-9-17 dimashuri
Penantian dan Kebodohan Ada harap karna kau beri tatap Ada kesan karna kau taruh perasaan Ada sakit yang tak bisa dijelaskan  Ada lara yang tak bisa dipaksa bersuara Seketika hidup hanya tunggu jawaban sang kuasa  Sepasang tulang rusuk yg diminta tak datang juga Nyatanya, Bukan aku yang kamu tuju, Apa karena aku tak pantas di rindu? Bukan pilu menggerutu tapi lelah menunggu Bukan asa tak sampai tapi lelah menggapai Apa aku salah menebar doa disetiap sujudku?  Padahal ayat suci jadi saksi kesungguhan hati Apa aku salah segera ungkap isi hati? Padahal jiwa dan hati jalani perbaikan diri Ah nyatanya aku yang berburuk sangka Aku juga yang menyalahi sabda Nya Berpikir jodoh seperti orang bodoh  Memang, Mengagumi dalam hati tak ada rugi Begitupun mencintai dalam doa itu tak ada dosa  Hanya saja kau perlu merubah, Harusnya lelah itu menjadi lillah  Nila Afrianti Gresik, 03 September 2017

hanya rindu, tak ingin kembali, sama sekali.

Kemana rindu ini harus kubunuh mati? Masalahnya rindu ini sudah pernah mati dan terkubur dengan rapi. Aku sendiri yang menggali dan menghidupkannya kembali Sama sekali tak ingin kembali Sudah sering ku bisikan kepada sang Rabbi Sudah pula kutuangkan dalam baris penuh imaji Tak pula berharap rindu ini berbalas Aku lebih nyaman jika merindu sendiri Kepada sesuatu yang ingin ku akhiri Bukankah jika saling merindu, Kebanyakan mereka ingin kembali? Tidak, sekali lagi aku tak ingin kembali. Hanya saja aku tak tahu Harus ku aruskan kemana muara rindu ini Surabaya, 3 Septemeber 2017 Firda Fadhilah Lubis 10.30

HIDUP DALAM MAYA

Tujuh nada menghiasi irama Tiga belas sial datangnya mendadak Terbiasa dengan hari bersama Tanpa memandang iya dan tidak Dua arah memberikan pilihan Delapan putaran tak dapat berhenti Dunia tetap dilanda penyesalan Dilema andil dalam teliti Sepuluh tetap kukuh merasa sempurna Satu kata tak memberi makna Serpihan kenyataan mudah tuk sirna Sayang mayamu berkuasa dalam fana Abdul Malik Akmal Montase Cafe Surabaya 2-09-2017

Jangan Salahkan Pemuda

Nasionalis tak di tampilkan oleh kaum kita dengan mulut terbuka dan aksi luar biasa. Hanya perlakuan dan kelakuan yang kita angkat dengan naungan pancasila. Jangan remehkan kita kaum pemuda yang kau kira hanya perepot bangsa! Pemuda adalah pelangkah terbaik di negeri kita! Seiring Bung Karno pun berucap tegas untuk kaum kita! Hanya saja tetua tetua yang mengaku wakil rakyat kita hanya bisa tampil di televisi dengan bangganya. Padahal !!! HAHAHAHA Kami tau dibalik kain dan peci hitammu engkau menyimpan bangkai dari rakyat yang seharusnya membuat Indonesia kita terbangun. INI KAH YANG DI SEBUT MERDEKA??? Indonesia memang sudah MERDEKA. Tapi Wakil kita masih Jepang saat itu! -M F r s 18-07-17

Kaulah yang bersinar

Ditemani butiran bintang yang menyinari malam ini , gerakan jemari yang ingin mewakili perasaan yang terbungkam  Hamparan pasir yang tak tahu arah tujuan , hanya mengandalkan angin sebagai petunjuk  Pohon-pohon mengiringi langkahnya dan tibahlah pada bukit yang memberikan banyak tempat untuk bersandar ,tapi hanya ada satu yang bersinar Jalanan yang curam dan gelapnya malam semakin mebuat terlihat samar ,sinar rembulan pun datang untuk  menemani langkah yang akan kulewati,  Tibahlah saat dimana semuanya telah diatur dan menempati tempat yang bersinar , kaulah yang bersinar

ruang bernama waktu

Waktu terasa begitu cepatnya, namun terasa lama untuk setiap detik sisa-sisa luka, dan rindu yang datang tiba-tiba. Melambat melama mengurungku disebuah ruangan bernama kenangan dan berkunci waktu, memaksaku tinggal disana beratapkan bayang-bayang dan beralaskan duka. Meninggalkanku dengan hembusan janji dan terik masa lalunya. Disana, Sunyi, padahal ada langkah yang begitu jelasnya menapak pergi. Menggigil, dengan janji yang berujung imaji. Terbakar habis, oleh seseorang yang memilih kembali, kepada sesuatu yang pernah membuatnya pergi dan mengantarkannya sampai mampu membuatku membukakan kunci pintu hati ini. Selamat, kau membuat ruangan ini kembali terkunci lagi. Surabaya, 16 agustus 2017 02.08 Firda Fadhulah Lubis

Senapan Mesin Kosong

Asing rasanya, melihat jejalan yang biasanya dipenuhi sesak kabut asap dan acap kali mengepulkan aroma rindu dibalut gas buang kendaraan bermotor. Beberapa hari ini sunyi sekali rasanya walaupun tepi jalan seolah mengabarkan riuh nyala motor membuat telinga ini tuli, maaf saja bila rasa berkata masa bodoh kepada semua. Sedih bukan? Walau saja minyak oli masih terus membasahi rotor supaya mesin tidak meneriakkan kesakitan dan tidak mengalami kerusakan. Roda juga begitu, terus saja menolong pengemudi supaya sampai ke tujuan. Tapi tidakkah kau merasakkan pahitnya menjadi roda? Kesakitan melawan aspal, menggigil didera air hujan. Dan kau begitu saja lupa tentang apa saja yang sudah mereka usahakan untuk dirimu. Bayangkan saja rasanya bersakit-sakit untuk membiarkan dirimu bahagia, kejam sekali dirimu yang lalu tidak bisa merawatnya dengan baik. Sadis sekali caramu membuatnya terluka tapi dirimu sengaja untuk tidak mengobatinya. Naas memang nasibnya atau dirimu saja yang keterlaluan kar...

perihal selepas kehilangan

Entah apa makna dari tetesan duka ini Basah yang selalu menghujani pipi Kawan, apakah kau tau ini mengapa? Bahkan hati dan logikaku sendiri tak mampu memaknainya Tuhan, redakan basah ini Yang masih, seringkali membuat pilu dihati Rasanya bukan cinta, karena memang sudah memudar sejak lama Rasanya juga bukan rindu, karena rindu sudah kubunuh mati sejak kepergiannya Walaupun terkadang sempat hadir sebagai sebuah hal yang kunamai kenangan Kawan, bantu aku menemukan jawabnya Dari sekian hal yang tidak juga kuikhlaskan, bahkan aku tak tahu apa dan mengapa Dari sebab apa yang membuat hujan di pipi aku tak tahu apa perangsangnya Bukan cinta, bukan pula rindu Lalu apa? Aku akan berusaha menerka jika bukan cinta dan rindu jawabnya Apakah karena kau terlihat baik baik saja atas ketidakbaikan kita? Apakah aku begitu naïf hingga membencimu? Apa karena aku tak kunjung melihatmu merumahkan wanita lain? Kau sepertinya sudah, semoga kalian utuh Segera beri tahu dunia, bahwa kau te...

Catatan api

"Tak perlu membakar kain hanya karena setitik noda , aku tak pernah membuang muka dari kau hanya karena sebuah kesalahan"  "Apapun yang kau tulis dan katakan,   itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari masalah adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan   Bukan sekedar mengatasnamakan alasan klasik" "Jika 6  orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya 5  yang menemukan jalan masuk. Tuan rumah seharusnya tidak mengatakan, “mungkin sudah jalannya"  seharusnya ia memberi tahu jalan kebenarannya." "Nasehat dari sahabat sangat diperlukan sehingga seperti air yang memberi penghidupan , ketahuilah bahwa nasehat adalah sebuah kalimat biasa ,tapi bila ia terus disampaikan akan berubah menjadi kenyataan ,supaya itu terwujud janganlah berpisah dari kerang jika tetesan air hujan belum lagi menjadi mutiara"

Equilibrium Minuial

Senjaku kini tidak lagi sepi. Lihatlah disana di ujung cakrawala, lautku berkabut oleh awan bukan oleh kedinginan. Tapi tak mengapa, karena senjaku hari ini kita bisa bertemu lagi. Malamku kini tidak gelap lagi. Mungkin sinarmu sudah menerangi nyalanya raga ini. Atau mungkin hati ini sudah terlalu meriah karena hadirmu kini sudah menghiasi hari. Surabaya, 18 Juli 2017 @agilranu (Agil Ranu Bintang)

perihal keluarga : tentang para krucil

Teruntuk habibi nur rahman, hanna humaira yudanto, muhammad hafizh alifandra hutomo, raynar nismara putra, shena michaella, dan ponakan-ponakan krucil lainnya. Terimakasih sudah membuat hidup onti, tante, bunda, mbak (haha ga pantes sama syekali dipanggil bunda, but raynar always call me "bunda firda") lebih berwarna dari sebelum-sebelumnya. Entah mulai kapan mulai suka sama anak kecil, kayaknya kelas 2/3 SMA waktu liburan kerumah temen dibali selama 2minggu, dia punya adik perempuan yg umurnya 2tahunan, jadi selama 2 minggu interaksi full sama krucil itu, namanya nana, kayaknya nana itu my first baby crush deh wkwkw, dari situ mulai ngamatin anak kecil sukanya apa sih, kalo nangis harus gimana, cara ngenalin benda-benda itu gimana sih, cara ngajarin nyanyi, dan lain sebagainya. Mulai dari situ berani gendong anak kecil, suka ngobrol sama anak kecil (yaaaaa walaupun ga direken dan ga nyambung wkwkw) Nasib mama adalah anak terakhir, jadi sepupu-sepupu pada jauh banget ja...

Malam itu

Malam itu . . . Lagi lagi tanpa hadirnya ayah. Sumpahku tak bermakna dalam sendu ku. Keringatku tak berarti dalam menyambung hidupku. Bebanku tuk mimpi mimpinya tak berujung hanya satu. Bebanku tuk mimpi mimpinya tak berarti imbalanku. Bebanku tuk mimpi mimpinya adalah mimpi kecilku saat 'laki laki tak hadir malam itu' berangkat lebih dulu. TAPI ! Mengapa? Mengapa Ia menggapku seperti itu? Menganggapku makhluk kotor!, makhluk durhaka!, makhluk cacat yang merepotkan!. Omonganku hanya sampahh!!!! Tak berguna!!!! Ah entahlahh!? Inshallah. Allah tetap bersamaku, Allah tetap bersamanya, dan Allah tetap bersama 'laki laki tak hadir malam itu' Semoga laki laki itu tak kecewa denganku. - M F r s 21-07-2017

TENTANG ELEMEN

sudah hampir tengah malam. aku duduk di pinggir jalan, tanpa alas karena celanaku memang sudah kotor dan yang aku benci adalah, sudah sesak juga. aku menikmati jalanan yang sepi dan juga seni gravity tidak terbaca oleh mataku, namun menurutku terlalu indah untuk dikatakan vandalisme. seorang teman lamaku disitu, menepuk bahuku sambil berkomentar. lebih terdengar seperti mengeluh. aku tahu karena aku juga sering melakukannya pada diriku sendiri ya, mengeluhkan tubuhku yang semakin melebar. kami disitu bukan tanpa alasan kami disitu karena ban motornya sedang bocor. dan ini sudah kali keempat sepanjang pertemanan kami. sialnya selalu terjadi saat perjalanan mengantarku pulang. dia memutuskan untuk merokok, dua meter di belakangku dan aku memutuskan untuk duduk dan melihat proses penambalan dengan seksama. ternyata tak cukup menarik sehingga hanya mampu bertahan sekitar lima menit saja. aku kembali menikmati jalanan yang sepi. menatap lampu jalan lalu menatap bulan, yang jika...

untuk WAGZ

teruntuk kalian, sebenar-benarnya makna pelipur lara bukti betapa baiknya sang maha kuasa memberikanku bukan hanya satu saja, namun kalian semua kelak kita tidak akan sedekat ini lagi kelak rindu itu akan menghampiri dan ketika saat itu tiba, kita akan tetap disana tersimpan rapi di sudut hati menggenggam jemari lelahmu, berjalan melawan arus waktu membawamu tepat di depan pintu di bawah atap rumah putih itu dimana aku, kamu, dan kita semua menuliskan kisah kasih bahagia diatas perkamen kecoklatan dengan tinta pengharapan setiap gulungan adalah kisah untuk masa depan terkadang kita tuliskan di kedai kopi kesukaan atau di tengah hiruk pikuk bendera biru-kuning dan kelabu terlalu sebentar rasanya beberapa tahun belakangan untuk dihabiskan bersama kalian, kawan tiga puluh satu pertanyaan yang sama* dalam sastra terindah yang ke lima puluh lima dan kalian adalah salah satu dari nikmat Tuhan yang tak akan ku dustakan *QS Ar Rahman Elfa Nandia Nuraga Ramadhan 20...

perihal kehidupan : tentang keputusan

Pertanyakan, perjuangkan dan temukan jalan keluar tentang apa saja yang sekiranya membuatmu mengganjal dan menghambat hari-harimu. Pertanyakan dalam doa atau dalam nyata. Selama doa tak mampu melegakanmu, bertindaklah! Selama tak melanggar norma agama dan budaya dan tidak merendahkan harga dirimu, lakukan saja apa yang membuatmu lega dan gembira. Lakukan hal-hal yang sekiranya bisa menghapus luka dan mendatangkan rela. Setidaknya kau telah mencoba, apapun hasilnya! Bukankah kau sekarang ada pada proses "pendewasaan"? Dimana segala hal kau pertimbangkan baik-buruknya. Dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya. Tinggal bagaimana kita berencana kedepannya, kita harus bersiap-siap akan konsekuensinya baik secara internal maupun eksternal. Internal, disini konsekuensi yang akan terjadi didalam kita, jiwa. Mungkin kau akan lega, namun bila hasilnya tak sesuai dengan dugaan kau akan kecewa, dan pasti menambah luka. Namun disini, percayalah serahkan hasilnya pada Tuhan, selam...

selamat tinggal, Juli.

Halo Juli , maaf sudah banyak mengecewakan, maaf sudah menggunakanmu sebagai keterangan waktu ku untuk pencapaian salah satu hal terbesar dalam hidupku, maaf sudah mengingkari segala janji-janjiku kepadamu. Juli , berjanjilah kau akan memaafkanku, jangan seperti ini, aku seperti merasakan sebuah pembalasan atas keingkaranku kepadamu. Ada yang dengan mudah pergi, bersama segala janji yang selalu kami bahas di setiap malam menjelang pagi. Juli, sesakit itukah kau kuingkari? Sehingga kau berdoa kepada Tuhan untuk mengingatkanku dan menegurku dalam sebuah janji yang kini telah lenyap pergi.  Juli, sudah begitu banyak doa yang ku bisikan dengan menyebut dirimu, aku tidak pernah lelah menyebutmu sampai pada keadaan bahwa dirimu sudah benar-benar tak bisa ku capai. Begitu banyak usaha-usaha yang ku usahakan untukmu Juli, tapi itu dulu.  Juli, aku begitu berat melepaskanmu, tapi disini usahaku belum mampu membuktikan kepadamu, bahwa aku telah berusaha semaksimal mungk...

kita dan nanti

“nanti, kita…..” Atau “kita, nanti….” Nanti, sebuah keterangan waktu Yang membuatku melayang di atas imaji Kita, sebuah keterangan pelaku Yang membuatku berharap kita menyatu sampai jadi debu Surabaya, 27 Juni 2017 23.00 Firda Fadhilah Lubis