Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Sajak semalam

1.Bumi tak perlu meminta ditemani bulan jika   bulan mengerti bahwa bumi sedang dilanda kegelapan 2.Gugusan bintang tidak akan bermunculan jika bukan pada waktunya  Bidadarilah yang bisa melihat gugusan di setiap harinya. 3.Cahaya bintang akan menghilang sejenak saat badai menghalangi

Sedang Rindu

Ibu, dan piringan hitam yang biasa ia putar Ayah, dan sofa merah tempat ia biasa bersandar Tak apa jika kita tak bersama, sudah ku ikhlaskan sejak lama Asal jangan terpisah doa Ialah oksigen dalam hidupku, makanan bagi jiwaku Yang kelaparan Terengah Tertatih Terlalu lelah berlari meraih mimpi Ibu, rumahku untuk pulang Ayah, binarku kala petang Kalian, cinta tak terpungkiri Menyatu dalam arteri dan menjadi abadi Dini hari, 25 Sept 2017 Ditulis ketika sedang rindu berat pada Mami Fani dan Papi Hiba Untuk teman-teman WAGZ yang mungkin sedang butuh semangat, baik tentang skripsi atau hal lain, coba ingat orang tua lalu minta doa Sedikti reminder:Al Isra'  23-24 dan Efesus 6:1-4 

SIKLUS LANGIT: PAGI

Sudut mataku masih melekat, alis dan dahi kian bertaut erat Hunus mentari menembus separuh diri Silaunya melukis bayang penumbra Pada satu sisi diriku, yang benderang karena dirimu Bak gerhana, sisi lainnya bermuram durja Entah apa yang membuatnya lara Mungkin kepingan beling atau batuan gamping Yang sudutnya kian tajam dan menghujam Atau aku yang lain, alter ego yang ingin bermain Menyandingkan cinta yang telah duduk manis di hati Mengundang tamu untuk sekadar minum teh di pagi hari Lalu pergi meninggalkan ragu Dan harapan Yang akan kutiupkan ke udara Bersama randa tapak yang mencari tempat  berpijak Mengangkasa pada atmosfer khas pagi hari Demi pagi yang memecah sepi Harusnya aku mengerti, aku tak pandai bermain hati Karena pagi masih tak mampu temukan arti

Siklus Langit: Fajar

Mataku tertuju ke timur Menatap pada horizon langit Menanti cahaya kemerahan dan sebuah harapan Semburat membentuk gradasi warna Perlahan meninggi bersama sang surya Bersama dengan itu, membawa turun basah embun Membasuh lelah sisa kemarin, atas juang demi juang melawan kehidupan Menghapus dingin sisa semalam, atas hati yang tak kunjung mendapat pelukan Burung gereja merangkai melodi, bersautan merajut harmoni Melagu cinta, cinta yang mana? Seperti fajar cinta datang bersama harapan Seperti fajar cinta adalah permulaan Temaram di ambang batas langit dan bumi Ada bimbang kala yang kujalani Tak sama dengan yang hadir dalam mimpi Atau yang datang sesekali dan membekas di hati Ciuman selamat pagi, lalu pergi tak undur diri Demi fajar yang menggiring pagi Sebuah ragu hadir dalam hati Dan nampaknya, fajar masih terlalu gelap untuk menemukan sebuah arti

Catatan Akhir Kuliah

Bukan tentang silsilah keluarga  Bukan perihal sanak saudara Tapi ini tentang rasa bersama Yang timbul karena terbiasa Rasa itu mengikat seperti simpul mati Tidak dapat lepas begitu saja Rasa itu hadir sendiri Tak pernah datang karena terpaksa Seperti sekotak pensil warna Yang mewarnai kertas yang sama Begitulah kita, Tak ada yang sewarna Yang melukis dalam garis waktu yang sama Dan bersama menghasilkan lukisan yang cantik jelita Lukisan indah berjudul kenangan masa kuliah Terima kasih telah melukis bersama Warnamu akan selalu kujaga Dalam hati dan kepala Surabaya 14-9-17 dimashuri
Penantian dan Kebodohan Ada harap karna kau beri tatap Ada kesan karna kau taruh perasaan Ada sakit yang tak bisa dijelaskan  Ada lara yang tak bisa dipaksa bersuara Seketika hidup hanya tunggu jawaban sang kuasa  Sepasang tulang rusuk yg diminta tak datang juga Nyatanya, Bukan aku yang kamu tuju, Apa karena aku tak pantas di rindu? Bukan pilu menggerutu tapi lelah menunggu Bukan asa tak sampai tapi lelah menggapai Apa aku salah menebar doa disetiap sujudku?  Padahal ayat suci jadi saksi kesungguhan hati Apa aku salah segera ungkap isi hati? Padahal jiwa dan hati jalani perbaikan diri Ah nyatanya aku yang berburuk sangka Aku juga yang menyalahi sabda Nya Berpikir jodoh seperti orang bodoh  Memang, Mengagumi dalam hati tak ada rugi Begitupun mencintai dalam doa itu tak ada dosa  Hanya saja kau perlu merubah, Harusnya lelah itu menjadi lillah  Nila Afrianti Gresik, 03 September 2017

hanya rindu, tak ingin kembali, sama sekali.

Kemana rindu ini harus kubunuh mati? Masalahnya rindu ini sudah pernah mati dan terkubur dengan rapi. Aku sendiri yang menggali dan menghidupkannya kembali Sama sekali tak ingin kembali Sudah sering ku bisikan kepada sang Rabbi Sudah pula kutuangkan dalam baris penuh imaji Tak pula berharap rindu ini berbalas Aku lebih nyaman jika merindu sendiri Kepada sesuatu yang ingin ku akhiri Bukankah jika saling merindu, Kebanyakan mereka ingin kembali? Tidak, sekali lagi aku tak ingin kembali. Hanya saja aku tak tahu Harus ku aruskan kemana muara rindu ini Surabaya, 3 Septemeber 2017 Firda Fadhilah Lubis 10.30

HIDUP DALAM MAYA

Tujuh nada menghiasi irama Tiga belas sial datangnya mendadak Terbiasa dengan hari bersama Tanpa memandang iya dan tidak Dua arah memberikan pilihan Delapan putaran tak dapat berhenti Dunia tetap dilanda penyesalan Dilema andil dalam teliti Sepuluh tetap kukuh merasa sempurna Satu kata tak memberi makna Serpihan kenyataan mudah tuk sirna Sayang mayamu berkuasa dalam fana Abdul Malik Akmal Montase Cafe Surabaya 2-09-2017