Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Tak pernah sama

Hujan yang datang tak pernah memberi sinyal. Yang jatuh tak pernah mengeluh. Tergabung dalam kebersamaan. Membentuk nada yang beriringan. Prespektifmu mungkin berbeda. Pandangmu dia hanya masalah. Datang bagai tamu tak diundang. Menunda apa yang kau mau. Yang ku tau dia adalah teman. Menemani si gundah. Bersamanya ku rasa nyaman Memeluknya untuk berbagi kisah.

Haruskah berpisah (ep1)

Dua minggu bersama serasa menyenangkan. Dirimu hadir mengisi si polos yang buta karena cinta. Dengan lugunya terasa senang walau hanya berpegang tangan diatas kursi. Hari demi hari terus terasa menyenangkan dengan hadirmu.  Malam itu aku terbangun lantaran alunan dering kotak genggam. Dalam senang kulihat itu pesan sang pujaan. "Kita harus berpisah". Singkat, tanpa belas kasih. Rasanya salah tak pernah terjadi dalam singkat. Apa salahku? Penantian alasan tak kunjung usai. Bagaimana rela terjalin, jika kaupun tak berucap mengapa. Cintaku tak bisa usai hanya dengan kata sepihakmu.

Kita memang berbeda

Saat politikmu menjadi sebuah permainan untuk kelompokmu. Bagaimana mau kami berteriak mendukungmu? Saat sejarah menjadi senjata besarmu. Tak salah semua menganggap hanya tumpangan belaka. Harapanmu semua melompat kegirangan atas kedatanganmu? Mana bisa kami sesenang itu kedatangan sosokmu. Kami senang dirimu datang? Iya, memang kami senang. Tapi tak sesenang itu. Lihat kami hanya manusia biasa yang datang dengan pangkat lebih tinggi. Mau kau bandingkan dengan bapak proklamasi? Dia bergerak dengan hati tanpa harap pasti untuk diri sendiri. Yang terpenting masyarakat. Yang ini bukan sekedar retorika dan bukan hanya kata kata penenang seperti yang politikusmu serukan.