Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Aroma dan Rasa

Terimakasih senja, telah membuat aku bertemu dengannya. Diam menggigil ditengah kerumunan, menitik fokus pada indah lekuk ciptaan Tuhan. Sengaja saja aku terdiam melihat parasmu yang aku nikmati seperti ketika aku menyeduh kopi dengan airmataku sendiri. Pahitnya bersembunyi dibalik senyummu yang lagi-lagi membuat aku lupa cara mengingat masa lalu sembari menawarkan cara pandang untuk melihat semesta yang baru. Benar saja, manis sekali, tidakkah kau iba? Melihat aku mengais harapan di kejauhan ragamu, Mengendus aroma batin yang menelisik di sela pori yang ingin bertukar frasa. Sedangkan kau? Malah berbalas seadanya. Sebenarnya aku ingin saja seegois hujan, mengabarkan kesedihan tanpa memberi penjelasan. Ah, biarkan saja hujan egois, aku tidak sama sepertinya. Aku ingin memilikimu sejak diawal kita bersua, sepertinya sama egois tapi nyatanya tidak. Aku membiarkanmu menari dalam pekat harum aroma kopi. Aku membiarkanmu menyanyi di depan khalayak pribadi. Aku juga membiarkanmu berlari...

Astary

Paras cantik berkaki jenjang Kerudung coklat yang begitu rupawan Dan terimakasih senja Yang membuatku terengah dalam jumpa Aku bahkan melihat cahaya Ketika senja sudah meredupkan sinarnya Aku ingin menatapmu manja Tapi apa daya Kau terlalu indah saat kita bersua Berharap kita berbalas pesan Dan berujung di pertemuan Tapi... Sepertinya diriku tak begitu menarik Untuk dirimu perhatikan Sebenarnya aku takut.. Takut saat hanya bisa melihat senyum itu dari kejauhan Takut saat derap kaki itu melangkah lebih jauh Takut ketika senja tak lagi mengizinkan perjumpaan Takut terlalu puitis mencintai langkah manismu Aku terlalu membudakkan diriku pada sajak Matamu menyilaukan raga ini Pipimu mengartikan lapangnya sebuah perjumpaan Tapi senyum tipismu membuat aku sedih Karena kamu tidak benar-benar aku miliki, kamu hanya wanita menggantikan cahaya senja yang mulai meredupkan sinarnya. Yang tak begitu menginginkan jumpa di kemudian hari. Bungurasih, 1 Ramadan 1438H @ag...

Aku Adalah Jurang Ketiadaan Kita

Mungkin memang, ada sebagian kecil dari aku yang turut hilang bersama kepergianmu. Ada bagian dari aku yang turut kau bawa pergi, oleh sebab itu aku tak akan pernah menjadi sama, seperti aku yang dulu. Aku adalah pengingat janji yang paling baik, sebenarnya kau tak perlu berjanji atau mengucapkan pengharapan kepada aku, alangkah baiknya jika waktu itu kau mengucapnya kepada langit. Dan semesta yang akan mengamini dan menjaga janji-janjimu. Jika sudah begini, aku adalah orang yang paling jahat, mengira kau adalah pengingkar janji, mengira kau adalah pria dewasa yang tak bisa komitmen dengan apa yang di ucapkan. Bukankah pria yang di pengang adalah segala tutur dan janji-janjinya? Sudah kau lihat kan? Betapa jahatnya perkiraanku, walaupun terkadang aku tau kau tidak seburuk itu. Untuk sementara kubiarkan luka ini semakin menganga, ku biarkan kecewa ini semakin merajalela. Daripada harus kutimbun dan menghadirkan luka dan kecewa yang sama di kemudian hari. Aku tak pernah sekecewa ini ...
Laju detik pun melambat melambat melama Menjelma detik yang tak berdetak Namun selalu beganti, bertambah Menjelma tak terlihat Dan tak lama aku pun memucat Kerumuman ini semakin padat Dan beberapa lilitan tali semakin menjerat Mengikat begitu kuat Kopi pun menjadi semakin pekat Beriringan dengan hasrat yang butuh sekat Tentang hidup yang tak kujung mangkat Hampir seperempat abad aku ada Namun belum juga bermanfaat Ditambah cobaan yang begitu berat Aku kuat, tapi layaknya besi Akupun bisa berkarat Isi kepala ini begitu padat Aku hanya bisa berharap pada yang maha pemberi kuat Semoga semua cobaan yang begitu berat Dapat meluruhkan dosaku yang begitu rekat Surabaya, 6 Mei 2017 Firda Fadhilah Lubis 17.59 - semoga aku segera menemukan hari kemenangan setelah begitu lama berpuasa -

Diawal mei

Sekarang pukul 22.37 di awal mei ini. Tertatap dari sebuah cermin. Ku melihat mata itu penuh simpanan emas. Emas yang sepertinya masih membatu. Perlu hembusan nafas doa untuk itu. Dan mungkin dengan sentuhan keringat. Tertatap lagi masih di cermin itu. Senyum paksaan yang terlihat. Ahh sudahlah.. Kulakukan apa yang terlewat di kepalaku dulu lah !!! -M F r s 1-5-17

P E N E N T U A N

Secuil emosi merobek saku otakku. Dengan doa aku menjahitnya. Namun luka yang membekas tak tertahan menjadi maut bagiku. Kutambal lagi dengan keyakinan dan usaha. Entah apa yang akan Sang Kuasa kehendak memberi takdirnya untuk sobekan kali ini. Hanya bisa bergantung tanpa tali atau ranting yg menyelamatkanku kali ini. -M F r s 1-5-17