Terimakasih senja, telah membuat aku bertemu dengannya. Diam menggigil ditengah kerumunan, menitik fokus pada indah lekuk ciptaan Tuhan. Sengaja saja aku terdiam melihat parasmu yang aku nikmati seperti ketika aku menyeduh kopi dengan airmataku sendiri. Pahitnya bersembunyi dibalik senyummu yang lagi-lagi membuat aku lupa cara mengingat masa lalu sembari menawarkan cara pandang untuk melihat semesta yang baru. Benar saja, manis sekali, tidakkah kau iba? Melihat aku mengais harapan di kejauhan ragamu, Mengendus aroma batin yang menelisik di sela pori yang ingin bertukar frasa. Sedangkan kau? Malah berbalas seadanya. Sebenarnya aku ingin saja seegois hujan, mengabarkan kesedihan tanpa memberi penjelasan. Ah, biarkan saja hujan egois, aku tidak sama sepertinya. Aku ingin memilikimu sejak diawal kita bersua, sepertinya sama egois tapi nyatanya tidak. Aku membiarkanmu menari dalam pekat harum aroma kopi. Aku membiarkanmu menyanyi di depan khalayak pribadi. Aku juga membiarkanmu berlari...
melewati titik, melompati tanda tanya, menggilas tanda seru, mendobrak tanda kurung, kadang sulit untuk mendeskripsikan rasa. rasa mempunyai seribu makna yang sulit di tuliskan dalam sebuah kata.