Langsung ke konten utama

Aroma dan Rasa

Terimakasih senja, telah membuat aku bertemu dengannya. Diam menggigil ditengah kerumunan, menitik fokus pada indah lekuk ciptaan Tuhan. Sengaja saja aku terdiam melihat parasmu yang aku nikmati seperti ketika aku menyeduh kopi dengan airmataku sendiri. Pahitnya bersembunyi dibalik senyummu yang lagi-lagi membuat aku lupa cara mengingat masa lalu sembari menawarkan cara pandang untuk melihat semesta yang baru. Benar saja, manis sekali, tidakkah kau iba? Melihat aku mengais harapan di kejauhan ragamu, Mengendus aroma batin yang menelisik di sela pori yang ingin bertukar frasa. Sedangkan kau? Malah berbalas seadanya.

Sebenarnya aku ingin saja seegois hujan, mengabarkan kesedihan tanpa memberi penjelasan. Ah, biarkan saja hujan egois, aku tidak sama sepertinya. Aku ingin memilikimu sejak diawal kita bersua, sepertinya sama egois tapi nyatanya tidak. Aku membiarkanmu menari dalam pekat harum aroma kopi. Aku membiarkanmu menyanyi di depan khalayak pribadi. Aku juga membiarkanmu berlari, Agar kelak kau tahu apa itu cinta yang hakiki.

Repetisi kedipan mata untuk membasahi kornea, sesederhana itu aku ingin memilikimu. Tunggulah hingga rambut hitam ini memutih sempurna. Kenapa? Lama? Memang! Karena aku tidak mau memilikimu begitu saja, aku juga ingin berkembang dan menua bersama.

Waru, 29 Mei 2017
@agilranu (Agil Ranu Bintang)

Komentar