Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

#file_lama_bapak #1

Hallo Nak!                          Hmm, memulainya dari mana ya Nak? Bapak bingung memilih kata pembuka. Tapi memang mengawali akan selalu jadi hal yang susah to? Atau langsung saja ya Nak? Sorry sorry, bahkan sudah ada 3 tanda tanya yang Bapak pakai sebagai pembuka. Tapi tanda tanya selanjutnya, adalah tanda tanya besar. Yang harus kamu jawab dengan jujur, gak boleh bohong loh ya. Sudahkah Bapak menjadi orang tua yang baik buatmu? Apa sudah kamu jawab, hmm? Jujur nih? Apa masih bohong hayooo? Terserah jawabmu apa sih, yang penting itu adalah jawaban tulus benar. Kalau jawabmu adalah sudah, semoga Bapak selalu bisa jadi orang baik buatmu. Kalau jawabmu adalah belum, itu adalah alasan mengapa Bapak menuliskan ini. Bapak tidak tahu seperti apa kehidupan yang akan Bapak jalani saat kamu hadir, bertumbuh, bertambah usia dan semakin lama menjalani kehidupanmu di bawah kolong langit i...

Hai, apa kabar?

Hari ini terulang kembali Dari yang muda menjadi menua Dari yang sehat menjadi sakit Dari yang suci menjadi pendosa Dari yang hidup menjadi mati Bertitipkan salam kepada Kitab Hingga Sang Malaikat mencatat Berkisah salam kepada doa Hingga Sang Kuasa mengiyakan Aku bukanlah yang pertama Perasa pedih untuk kehilangan Aku bukanlah yang pertama Penikmat peluh perjuang kehidupan Kepada ruang sempit nan gelap Tertelan tubuh tak bernyawa Di sanalah mereka berada Menunggu terompet itu bergema Hai adikku sayang Semoga ruang itu selalu luas untukmu Hai adikku sayang Semoga ruang itu selalu terang untukmu Semoga setiap doa selalu tersampaikan Meskipun kakak ini tak sebaik dirimu Khususonilarukhi Ahmad Nizar Permana Al-fatihah...

Perihal Rasa

Ada yang mengumbar tentangnya Ada juga yang menyimpannya dan menyampaikannya pada Sang Pencipta Rasa Aku memilih untuk membagi rasa pada semesta Meletakannya di pojok pojok keramaian kota Membiarkannya terbakar dibawah panas matahari Melukiskannya di sudut sudut bintang malam yang bercahaya Dan merelakan kerinduannya saat hujan tiba Kadang seperti daun, yang rapuh dan mudah tumbuh. Tak jarang juga seperti ranting, yang sering terlupa keberadaannya, namun menjadi tempatmu tumbuh. Pernah sesekali seperti batang, kuat, tidak ingin pergi seperti daun, dan tidak mudah tumbuh seperti keduanya. Namun, sering kali kau hancurkan, kau tebang habis, namun tak sampai akhirnya. Hingga pada suatu ketika, rasa yang kau harapkan mati, masih sering tumbuh tidak sebagaimana mestinya. Suatu saat, aku akan menjadi akar. Kepada kita yang saling menemukan. Surabaya, 25 Oktober 2016 16:16

Tak Lagi Suci

saat hitam menelan biru awan kurapatkan mata ada lukisan wajahmu di rasi itu ada rindu diwaktu yang berlalu itu ada doa di setiap lima bagaimana bisa aku merusak sebuah sajak yang seharusnya suci menjadi sesuatu yang tak lagi hakiki karena menuliskan rindu pada seorang yang telah mengikat janji suci pada seorang bidadari surgawi surabaya, 24 oktober 2016 firda fadhilah lubis

Dalam Temaramnya Malam

Perlahan, sangat pelan Hingga malam kan menjelang Cahaya kota kelam Mesra menyambut sang petang Disini kuberdiskusi dengan kawan Di sebuah tempat yang sangat nyaman Sedikit remang, namun tenang Ditemani secangkir kopi Berbicara tentang nyata dan fantasi Mencoba memecahkan teka-teki Arti cinta, persahabatan, dan emosi Malam ini, sekali lagi Kami belajar dengan hati Dimashuri  

Empati

Mereka pernah berkata Kesedihanku akan pergi Terhempas angin Angin selatan yang penuh debu Terbawa sampai ufuk timur Terjauh Dan ku pun terdiam Bertanya dalam hati Kapan ini kan berakhir Dan terbawa sampai ufuk timur Terjauh Dan aku Pernah melangkahkan kaki Dan terjengkal Tak sadar dan melantunkan 'Terang yang kudambakan Hilanglah semua yang kutanya' Dimashuri 24 - 10 - 2016 

Terngiang

bercak air terlukis dalam kacamata ku lagi lagi awan kembali kelabu. tak kuat kelabu itu menjadi sendu Oh Tuhan hadirkan orang itu seru lah agar Dia memelukku aku hampir lupa dengan wajah itu tak kuat air mata ini bak kelabu awan itu ini kah yang dinamakan rindu??? Oh Tuhan, apakah aku rindu ayahku??? Tuhan!!! Hadirkan dia agar aku merasakan bagaimana arti hidup yang sebenarnya engkau minta. Semoga engkau mendengarnya Tuhan, Semoga Tuhan menyampaikannya kepadamu ayah.                                                                 surabaya                                                             23 okt 2016 -M F r s

Rintihan Sang kaki

20 tahun kaki berjalan.  tanpa mememperhatikan setiap larangan yang ada. sekarang, diriku tak dapat berjalan menggunakan kaki ini terlalu jauh. bukan karena tak mau, tapi tak mampu. bukan karena putus asa, tapi sakit selalu dirasa. bukan karena lelah, tapi sakit mulai berulah. bukan karena pemalas, tapi masa lalu menuntut balas. baru disadari usia bukan tolak ukur daya tahan dan kemampuannya. mungkin perjalanan sang kaki mengitar gunung berahir disini. Abdul Malik Akmal

Rahasia

Aku, Kamu, dan Kita Apakah aku sejatinya pernah menjadi aku? Romansa kata dibalik tatapan lelaki. Apakah kamu sejatinya pernah menjadi kamu? Romansa kata dibalik perkataan wanita. Apakah kita sejatinya pernah menjadi kita? Romansa kata dibalik pencitraan sosial.  Apakah kalian yakin pernah menjadi kalian? 

kelabu awan di hari jum'at

kelabu awan di hari jum'at terbalik dalam ingatan. saat kecil tak berdaya kerabat berdatangan menyambut dengan kepanikan. berlari memasuki rumahku yang telah berbaring sakit. kepala keluargaku itu!?? entah aku masih tidak tau aku tidak tau. yang aku tau sang ayah masih berbaring sakit tertiba terdengar panggilan namaku ini. aku tidak tau. mengapa ada tangisan??? aku masih tidak tau. terbenak dalam pikiran anak kecil itu. apakah itu org yg tadi sakit berbaring dalam rumahku??? mengapa engkau tangisi ?? aku masih tidak tau. surabaya 21 okt 2016 - M F r s

Rindu

Kembang senyum pagi hari Senyum tipis ini sangat membuat hari Tentang peluk yang kau janjikan hari itu Detik ini makin kurasa rindu      Senyum satir rasa rindu      Dan itu benar-benar aku      Hanya duduk diam merasakan hal itu      Mencoba bernafas dengan kaku      Indah karena menolak melawan rindu Probolinggo, Januari 2016 @agilranu (Agil Ranu Bintang)
Dan akhirnya detak ini terhenti padamu. Dan akhirnya denyut ini melewati selasela pola pikirmu. Berliku penuh haru, namun, bahkan semili-pun tanpa tersesat. Karena aku tau, padamu adalah jalan pulangku. Yang selama ini kulewati sebatas angan. Kubanyangkan sebatas harapan. Entah siapa yang menggerakan laju hati dan pikirku. Untuk begitu sempurna melewati lukisan kalbumu. Surabaya, Oktober 2016 Firda Fadhilah Lubis.

Apa Kabar Hari Ini?

Selamat datang kembali Kita yang sama-sama berdalih Berkabung dalam dosa Terkasih dalam amarah      Tapi coba lihat mata nanarnya      Tanpa arti tanpa makna      Ingin teriak dan memaki      Namun apa daya, yang dulu ter'kasih'      Menjadi hanya kata terimakasih Surabaya, Oktober 2016 @agilranu (Agil Ranu Bintang)

Ah

Selalu saja, entah ada apa Kenapa hati ini susah untuk berpindah Kenapa tidak memilih beberapa diantara yg ada Kenapa selalu satu diantara beribu Dan kenapa itu harus kamu Sepertinya aku akan tinggal, di persimpangan antara mengejarmu atau membiarkanmu Lalu aku harus bagaimana, berfikir? Tidak, logikaku sudah tak mampu melawan hati Di saat usahaku sia-sia Di saat diamku menjadi pertanda Pasrah, kubiarkan mulutku berucap "aku menyerah" Tapi lagi-lagi hati ini berbeda arah Memaksaku berhenti dan mengambil jalan sebaliknya Ia merasa kalau ini belum apa-apa Masih banyak waktu untuk berusaha Masih banyak cara untuk mendekatinya Semua orang berhak berandai Semua orang berhak berharap Andai aku bisa mendapatkanmu, mungkin tidak akan ada lagi andaian dariku Namun jika andaian itu tak bisa kudapat, berarti ini tidaklah nyata, kuharap   - nurriansyahr - Surabaya, 09-10-16

Selamat Pergi

Selamat pergi. Selamat meninggalkan sebagian dari semua ini. Selamat menemukan dari sebagian yang kau cari. Dari tempat ini, aku juga ingin pergi. Dari tempat ini, aku juga ingin tinggal. Pergi darimu untuk menjadikan cita ku yang samar menjadi nyata. Tinggal denganmu bersama bayang bayang semu tubuhmu, suara dan gerakmu. Sekali lagi, jangan sibuk menerka. Tak tertuju hanya untuk sepotong hati saja. Tak melulu soal cinta dan sejenisnya. Teruntuk semua penghuni tempat ini. Jangan pernah berhenti untuk megakhiri, berentilah untuk sekedar beristirahat dan berterimakasih pada Illahi. Bawalah bekalmu untuk pergi, tapi jangan hati ini. Jika dirasa tak perlu, tak usah kembali. 03:21 (9 Okt 2016) Firda Fadhilah Lubis

KAMU

Saat kupejamkan mata tuk mengelak Tanpa sadar bayangmu terus menyeruak Bayang itu lambat-lambat menguap Menjadi sulit untuk diusap Ketika ku tersadar, ku sudah berada dalam mimpi Berselancar dalam pikiran yang kuciptakan sendiri Menghadirkan ombak-ombak memori dalam hati Menghasilkan sosok dirimu, sendiri Hangat mentari di pagi hari Ingatkan aku akan hal ini Pagi itu, lagu itu, dirimu Dan semua kenangan tentangmu Bayangmu pun kian menguat Menyulitkanku tuk melesat Semua terlalu manis untuk dilupakan Namun terlalu pahit untuk diingat Maka kubiarkan semua itu tetap disini Tersimpan rapi dalam memori Dikunci oleh imajinasi dengan berselimut mimpi Agar kubisa mengenangmu tuk diriku sendiri Kutulis puisi ini dengan perasaan yang tak dapat kujelaskan Memang tak serumit rumus fisika ataupun matematika Namun aku benar-benar tak tahu perasaan apa ini ? Apa namanya ? Dan suatu saat jika kau benar-benar membacanya, mungkin kau bisa menger...