Sekali lagi aku terbujur mati membaca bait demi sajak yang kau tuliskan. Tentang rindu, cinta, luka, hidup dan tikus-tikus istana Negara. Sekali lagi, aku iri pada wanita yang kau jadikan inspirasi setiap rima Seakan mampu berbicara, wanita itu bermakna segalanya Setahun lebih sudah kita tidak bersua, Apakabarmu? Bagaimana kabar kotamu disana? Masihkah hingar bingar seperti ibu kota? Atau sekarang sunyi senyap seperti pedalaman desa? Surabaya masih sama, Akupun juga. Yang selalu menantimu untuk pulang Menetap disini berlama-lama. Bercengkrama membahas jiwa dibawah lampu-lampu kota Berbicara tentang mimpi dan fana kehidupan dunia Bernostalgia, bercerita tentang kenangan aku dan kamu Ditemani kopi hitammu dan kopi susuku yang tanpa gula Tentunya bukan kenangan tentang kita, Karena kita belum pernah menciptakan kenangan apapun. Saat merindukanmu, kucoba mengobatinya dengan memesan kopi hitam favoritmu Meneguknya sembari mengingat semua nasehat...
melewati titik, melompati tanda tanya, menggilas tanda seru, mendobrak tanda kurung, kadang sulit untuk mendeskripsikan rasa. rasa mempunyai seribu makna yang sulit di tuliskan dalam sebuah kata.