Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Jangan Salahkan Pemuda

Nasionalis tak di tampilkan oleh kaum kita dengan mulut terbuka dan aksi luar biasa. Hanya perlakuan dan kelakuan yang kita angkat dengan naungan pancasila. Jangan remehkan kita kaum pemuda yang kau kira hanya perepot bangsa! Pemuda adalah pelangkah terbaik di negeri kita! Seiring Bung Karno pun berucap tegas untuk kaum kita! Hanya saja tetua tetua yang mengaku wakil rakyat kita hanya bisa tampil di televisi dengan bangganya. Padahal !!! HAHAHAHA Kami tau dibalik kain dan peci hitammu engkau menyimpan bangkai dari rakyat yang seharusnya membuat Indonesia kita terbangun. INI KAH YANG DI SEBUT MERDEKA??? Indonesia memang sudah MERDEKA. Tapi Wakil kita masih Jepang saat itu! -M F r s 18-07-17

Kaulah yang bersinar

Ditemani butiran bintang yang menyinari malam ini , gerakan jemari yang ingin mewakili perasaan yang terbungkam  Hamparan pasir yang tak tahu arah tujuan , hanya mengandalkan angin sebagai petunjuk  Pohon-pohon mengiringi langkahnya dan tibahlah pada bukit yang memberikan banyak tempat untuk bersandar ,tapi hanya ada satu yang bersinar Jalanan yang curam dan gelapnya malam semakin mebuat terlihat samar ,sinar rembulan pun datang untuk  menemani langkah yang akan kulewati,  Tibahlah saat dimana semuanya telah diatur dan menempati tempat yang bersinar , kaulah yang bersinar

ruang bernama waktu

Waktu terasa begitu cepatnya, namun terasa lama untuk setiap detik sisa-sisa luka, dan rindu yang datang tiba-tiba. Melambat melama mengurungku disebuah ruangan bernama kenangan dan berkunci waktu, memaksaku tinggal disana beratapkan bayang-bayang dan beralaskan duka. Meninggalkanku dengan hembusan janji dan terik masa lalunya. Disana, Sunyi, padahal ada langkah yang begitu jelasnya menapak pergi. Menggigil, dengan janji yang berujung imaji. Terbakar habis, oleh seseorang yang memilih kembali, kepada sesuatu yang pernah membuatnya pergi dan mengantarkannya sampai mampu membuatku membukakan kunci pintu hati ini. Selamat, kau membuat ruangan ini kembali terkunci lagi. Surabaya, 16 agustus 2017 02.08 Firda Fadhulah Lubis

Senapan Mesin Kosong

Asing rasanya, melihat jejalan yang biasanya dipenuhi sesak kabut asap dan acap kali mengepulkan aroma rindu dibalut gas buang kendaraan bermotor. Beberapa hari ini sunyi sekali rasanya walaupun tepi jalan seolah mengabarkan riuh nyala motor membuat telinga ini tuli, maaf saja bila rasa berkata masa bodoh kepada semua. Sedih bukan? Walau saja minyak oli masih terus membasahi rotor supaya mesin tidak meneriakkan kesakitan dan tidak mengalami kerusakan. Roda juga begitu, terus saja menolong pengemudi supaya sampai ke tujuan. Tapi tidakkah kau merasakkan pahitnya menjadi roda? Kesakitan melawan aspal, menggigil didera air hujan. Dan kau begitu saja lupa tentang apa saja yang sudah mereka usahakan untuk dirimu. Bayangkan saja rasanya bersakit-sakit untuk membiarkan dirimu bahagia, kejam sekali dirimu yang lalu tidak bisa merawatnya dengan baik. Sadis sekali caramu membuatnya terluka tapi dirimu sengaja untuk tidak mengobatinya. Naas memang nasibnya atau dirimu saja yang keterlaluan kar...