Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

SEDIH DALAM SENANG

Apa? Apa yang aku rasakan sekarang? Apakah aku merasa senang? Apakah sedih yang sedang kurasa? Kapan? Kapan aku bisa merasakan? Kapankah senang menemani diriku? Kapahkah sedih melanda hariku? Dimana? Dimana kualami rasa ini? Rasa yang sebenarnya menjadi dambaan. Harapan semua orang yang memiliki hati. Siapa? Siapa yang dapat menghantarkanku menemuinya? Diakah yang mengisi senangku dalam impian? Sedihkah yang sebenarnya diberi ketika hati gundah? Bagaimana? Bagaimana bisa kumerasakan senang seperti saat ini? Tapi sedu sedang berkutat? Senang bisa diingat, Sedih sedikit bersua. Mengapa? Mengapa gundah dirasa? Ketika duka dan riang bersatu. Terkenang bergandengan, walau hanya kenangan yang terngiang. Bukan. Bukan itu yang ku mau. Bukan hanya serangkai kata. Bukan hanya sebuah harapan. Abdul Malik Akmal

Gadis Kecilku

Mata gadis kecil itu semakin sayu, Nanar dan terkulai tak berdaya, Tak seperti tatapannya di awal tahun, Bersinar bak supernova. Bibir gadis kecil itu semakin pucat, Kering dan pecah tak melekuk, Tak seperti senyumnya di awal tahun, Merekah bak bunga mawar. Setelah ia berdamai dengan waktu dan segala bujuk rayu, Sore itu kumendengarkan ia bersenandung dengan rintik di pelupuknya. Selama ini gadis kecilku berwatak periang, menebar senyum dan canda renyah, Gadis kecilku tak ingin memperlihatkan, Beban dosa yang ia pikul di pundaknya, Teramat pelan ia merintih, 'biarkan aku mempermainkan hatiku sendiri, bukan dia dan kongsinya yang culas. Aku percaya pada-Nya, setiap hembus doa yang kupanjatkan untuk-Nya, membuatku tak takut pada setan diujung sana.' Naif memang, Aku yang menganggap diri seorang lelaki, Hanya dapat mengutuk, Mengangguk berujar madu, Mengusap lembut tak berisyarat, Tanpa bisa memapah beriringan. Jika masih ada waktu, Ijinkan aku memperbai...

Tidak Mengenal

Pada setiap daun yang bergugur dari batang Mereka tidak lagi mengenal arti memaksa Pada setiap gerigi besi yang berputar dj dalam arloji Mereka tidak lagi mengenal arti menuntut Pada setiap tikus yang berdiam di penjara Mereka tidak lagi mengenal arti keserakahan Sama seperti aku Karena aku sedang mencintaimu Mencintaimu dengan diam Mencintaimu dalam angan Anganku tak butuh maksud hadirmu Anganku tak butuh balasmu Anganku tak butuh welas asihmu Karena mencintaimu tak serumit itu Yang ku tahu ini memang ku sengaja Menghitung jarak diantara bibir dan sujudku Menjelma nama dalam doa Diiringi gemuruh petir yang terkapar di ujung rintik mata Achmad Danang, 16-11-2016

Ilusi

Seharusnya kita bercengkrama Menikmati tiap tetes rasa pahit dan asam Bertukar pikiran tanpa memandang derajat Menikmati tiap hembusan asap Berlogika tanpa tenggelam dalam pola Membaur dan berceloteh tak berima Menembus batas setiap detak kehidupan Nyatanya kita hanya diam Tertunduk melihat pancar cahaya Terdiam mencuri kehidupan maya Terpaku pada sekotak tak bermakna Mencari celah setiap tuan dalam bayang Membuka mata menutup mulut dan telinga Acuh dan tak berbagi dengan sesama Inilah kita Melihat ilusi kehidupan sekarang Menjadi budak kemajuan zaman Achmad Danang, 14-11-2016, di depan secangkir kopi

Partikel

Teringat pada momen itu Di mana kita masih saling berbicara Saling melempar pandang Diiringi gemuruh badai Teringat pada momen itu Di mana kita masih saling berpegang Saling bertukar pikiran Diiringi deburan asap Teringat pada momen itu Di mana inderaku selalu bergejolak Mencium partikel yang engkau berikan Pada saat terakhir kita bertemu Dengan menitipkan partikel pada rajutku Seakan membantuku mengingat aromamu Engkau memaksaku menafsir polamu Tetapi menggiringku dalam jurangmu Timbul tanda tanya Tanya atas kesengajaan tingkahmu Seakan tak ingin ku melupakanmu Benarkah kau membiarkanku pergi? Benarkah engkau harus berlalu? Baru sebentar aku menggenggam Engkau sudah meminta untuk dilupakan Aku bukan penyair Tak pintar melagu dan merangkai Ini hanya kisah antar dua insan Terbelenggu keadaan Membawa simpul mati Hingga harus saling meniadakan Achmad Danang, 9-11-2016

11.11.16

Ku kira ini gejala semesta Gejala dari setiap rencana rencana yang telah tercipta Ku kira ini sebuah harmoni jiwa Harmoni yang langit sampaikan pada rasa Kenapa masih saja sibuk menerka Kenapa masih saja sibuk mengaitkan semesta Kenapa masih saja menyambungkan intuisi dan logika Ini adalah kemungkinan yang sangat mungkin terjadi Di antara sembilan ratus koma sembilan dari seribu kemungkinan Namun, sekali lagi. Setiap detakan waktu Setiap sudut keramaian Setiap denting peristiwa Setiap kalbu kemarin senja Dan setiap kabar yang tak berani dipertanyakan. Kau selalu ada dari setiap kemungkinan yang tak terdugakan. Kau selalu ada dari setiap kemungkinan yang ku nafaskan. Tidak, ini hanya terkaan yang kukaitkan dengan realita. Dan aku tidak mempercayainya sebagai sebuah kebetulan. ---------------------------------------- Kepada Sang Maha-Segalanya. Ku mohon jangan pertemukan kita disaat ku sedang membahasnya di kemarin senja Ku mohon jangan menghadirkan dia di ...

Hampa

Hampa. . Hampa telinga ini seiring semilir angin dari celah tinggi. Kurasakan sejuk meninggi. Kubayangkan surgaMu disini. Dosaku menolaknya kehadiranNya disini. Terjatuh dari mata ini dua tetes dari setiap ujung mata ku. Apakah itu air Surga?? Ahhh entahlah!!! Mungkin itu air Neraka. Namun tak mungkin datangnya sejuk kemudian tetesan air suci ini datang dari Neraka. Aku rasa Tuhan tersenyum dengan kebimbanganku.  - M F r s  24 okt '16

Kerahasiaan

Tak terdefinisi secara utuh Misteri kata bertulis rahasia Zat yang tak berlarut dalam sifat Partikel utuh yang terpatri di sudut fana Rahasia tidak pernah menyerah Menggerogoti tiap relung kehidupan Rahasia tidak pernah tumbang Rahasia mengakar di sanubari Hamba adalah rahasia Kau adalah rahasia Sumber diam adalah rahasia Perihal rasa adalah rahasia Polemik adalah rahasia Achmad Danang, 10-11-2016

Merah Jambu

Tertegun aku melihatmu Tersungging bibirku atas lakumu Tak kuasa aku menahan rasa Mulai kusadari warnamu merah jambu Berjuta warna telah tercipta Tetapi merah jambu menjadi bayangmu Warna kebanggaan kaum wanita Seperti rona di pipi tirusmu Masih terukir dalam ingatanku Merah jambu selalu menjadi pilihanmu Fanatisme yang mengekang Layaknya impian dalam angan Bukankah engkau sudah mengerti Merah jambu tak melemahkan Merah jambu memberi ketenangan Merah jambu sang pelipur lara Achmad Danang, 8-11-2016

Anomali

Pernahkah dikau merasakan kesunyian dalam keramaian? Pernahkah dikau merasakan sakit yang tak berluka? Ia pernah Lelaki itu pernah Tak sekali Dan tak terhenti Ia bukan pengagum kehidupan Karena tak lagi merasakan hidup Ia bukan penerka rasa Karena tak lagi merasakan cinta Harap bukan lagi berharap Ia tak lagi menuntut jawab Tertegun lelaki itu Terkulai lelaki itu Terjatuh lelaki itu Terkapar lelaki itu Begitukah akibat dari kehilangan? Terlalu pahit untuk bercerita ujarnya Begitukah ancaman dari mengharap? Terlalu indah untuk digambarkan ujarnya Lalu mengapa ia menjadi begini? Kutukan apa yang kini ia emban? Dengan lirih ia berkata "kejadian datang silih berganti, sebuah teka-teki, dengan sajak yang bertuan, aku mulai merasakan getaran, tanpa sebuah simpul yang terpasang. Dialah anomaliku, pengubah getaran dengan hasutan yang tak berbalas." Achmad Danang, 08-11-2016.

ubah

Semoga apa yang aku takutkan, takkan pernah terjadi. Entah bagaimana akhir kita, entah berpisah untuk menjadi kita atau berpisah untuk menjadi aku dan kamu, seperti sedia kala. Kalaupun harus menjadi aku dan kamu, kuharap kita tidak ada yg saling menyakiti atau saling meninggalkan, semoga kelak saat itu aku dan kamu saling memahami bahwa memang aku dan kamu tidak bisa di sebut kita lagi. Jangan berharap banyak padaku, tp percayalah disini aku berusaha, usaha terbaik ku sejauh ini adalah kepadamu. Menyampingkan idealisku, egoku, bukan untuk menjadi seperti yg kamu mau, tapi untuk menjadi aku yg lebih baik. Aku tidak ingin menjadi bagian masa lalu mu, yang kau ceritakan kepada dia-setelah aku, seperti kau menceritakan masa lalumu dulu kepadaku. Yang kau risihkan, kau sesalkan, kau muak-an. Kalaupun aku harus menjadi masa lalumu, aku ingin menjadi yang paling menyenangkan, yang paling kau rindukan dan yang paling kau kisahkan. Aku menyerah pada keadaan tak ingin kau tinggalkan. Aku ...

untukmu, pirs.

tatkala embun memadu kasih dengan dedaunan yang kecoklatan, rapuh, dan kaku sendiri memilu tatkala iris menangkap pelangi beradu mega dengan hujannya mengundang warna warni lagi kasihmu bukan kekasih kesahmu bukan meresah sebuah perpanjangan tangan yang kunamakan pertemanan kutemui kau pada akhirnya di persimpangan kekelaman kau menemuiku pula di persimpangan keraguan musim semi kita lalui, merekah tawa kita musim gugur kita nikmati, dengan basah air mata pun dingin hujan yang selalu kau ingin, dan hangat surya yang kusuka kadang angin memalingkan kita dari perjalanan atas pertemuan ini angin utara membawa logikamu berkelana menjauhi barat daya tempatku bersua aku bertanya namun bukan pada mereka mereka yang singgah di hatimu pula aku bertanya pada sang batin dan Penguasa apakah ini kau yang baru? atau aku yang baru mengenalmu? tak mengapa, kita tak harus selalu sama kujanjikan kau sewindu lagi nostalgia bersama senja atas cita cinta dan segala bahagia ...

Dalam Diam

Sang Pencipta menciptakan makhluk sempurna Sempurna dengan akal dan perasaan Tetapi para makhluk terkadang melupakan Apa yang membuat mereka sempurna Kisah seorang penikmat kehidupan Pecandu malam bersama temaramnya Sudut terluar di ujung kota Disitulah mereka dipertemukan Perkenalan tanpa terpikir perpisahan Naif mengalahkan ego Beradu dengan perputaran waktu Menjaga rasa penikmat kasih Dia pernah berkata dalam diam Perasaan akan mengalahkan logika Dia pernah berkata dalam diam Aksi mencerminkan hati Dia pernah berbisik pada alam Semoga alam menguatkan sel otaknya Dia pernah menangis pada alam Karena kenyataan tak sesuai dengan harapannya Dimensi ilusi berbentuk kenyamanan Apakah hanya sesaat atau akan kekal? Dimensi ilusi berbentuk kelembutan Apakah nyata karena memang begitu adanya?  Dalam diam dia mulai tersenyum Dalam diam dia mulai berharap Dalam diam dia mulai rapuh Dalam diam dia mulai tak berlogika Di...

Hari yang sama, tapi tak sama

Hari itu Pernah menjadi yang terindah dalam hidupku Hari itu Hari yang merubah fantasi dalam imajiku Hari itu Adalah saksi ucap setia bibir lidahku Hari itu Hari dimana dua hati pernah menjadi satu Namun hari itu Selalu saja menghampiriku Datang tanpa pernah memberitahu Seolah tak peduli perihal batinku Kini, ia kembali singgah dalam hidupku Untuk ketiga kalinya dalam ingatanku Paras indahmu hadir bahagiakan kalbu Membawa kemesraan tiga tahun lalu Maka, Kubangunkan alam sadarku Kudesak akal pikiranku Dan kutanyakan pada hati kecilku Inikah seorang yang telah menyentuh inti jantungku .? Selamat merayakan Hari jadi kita yang pernah ada                                                Dimashuri                                 ...

Hutan Para Bidadari

Terucap lewat untaian kata Nyanyian indah pelukis jiwa Tawa tangis dan bahagia Menyatu dalam rona Turunlah makhluk tak bersayap Turunlah dalam peraduan Bukalah mata hatimu Pancarkan sinar auramu Kutunggu kau di sini Di hutan para bidadari Kuharap kau mengerti Sebenarnya tempatmu di sini Apakah ku harus memanggilmu? Apakah ku harus membebaskanmu? Kujanjikan kau tempat terindah Kujanjikan kau kasih dan cinta Kan kujadikan kau putri dalam kastilku Maukah kau bersanding denganku, wahai penguasa hutan para bidadari?

RELA

Terasa hampa bila sendiri. Meminta ditemani sebuah alunan. Hanya ini yang bisa dilakukan lelaki. Menunggunya sembari menghisap batangan, Mengapa hatiku merasakan iri. Iri hanya pada sebuah lingkungan. Yang lebih sering menemani pemilik kaki. Jawabannya hanya satu, relakan. Dirasa kurang bila diberi.  Di siakan bila di dapatkan.  Mengharap jika tak tak memiliki. Itulah arti waktu kebersamaan. Abdul Malik Akmal