Langsung ke konten utama

11.11.16

Ku kira ini gejala semesta
Gejala dari setiap rencana rencana yang telah tercipta

Ku kira ini sebuah harmoni jiwa
Harmoni yang langit sampaikan pada rasa

Kenapa masih saja sibuk menerka
Kenapa masih saja sibuk mengaitkan semesta
Kenapa masih saja menyambungkan intuisi dan logika

Ini adalah kemungkinan yang sangat mungkin terjadi
Di antara sembilan ratus koma sembilan dari seribu kemungkinan

Namun, sekali lagi.
Setiap detakan waktu
Setiap sudut keramaian
Setiap denting peristiwa
Setiap kalbu kemarin senja
Dan setiap kabar yang tak berani dipertanyakan.

Kau selalu ada dari setiap kemungkinan yang tak terdugakan.
Kau selalu ada dari setiap kemungkinan yang ku nafaskan.

Tidak, ini hanya terkaan yang kukaitkan dengan realita.
Dan aku tidak mempercayainya sebagai sebuah kebetulan.


----------------------------------------

Kepada Sang Maha-Segalanya.
Ku mohon jangan pertemukan kita disaat ku sedang membahasnya di kemarin senja
Ku mohon jangan menghadirkan dia di saat hati sedang merelakan kerinduannya di ambang semesta.
Kau tahu, aku sangat tidak mempercayai kebetulan.
Karena dalam ayatMu, bahkan daun jatuh pun atas kehendakMu.
Dia tak mungkin di tempat itu, tapi ku selalu menemukannya.
Bahkan di alur dan waktu yang sangat tidak seharusnya sekalipun.
Dia selalu hadir, dan ada aku di bagian itu.
Dari segala kemungkinan yang terjadi, banyak sekali yang mustahil namun selalu terjadi.
Kau tahu, aku selalu mengaitkan peristiwa dengan suatu pertanda.
Pertanda retorika sempurna dari takdir yang telah Engkau lukiskan.
Atau, Kau ubah saja segala kecemasan pertanda ini menjadi hal yang lumrah.

Ku mohon, aku tidak ingin hidup diantara kecemasan yang kubuat sendiri.
Aku tidak ingin memikirkan hal yang tidak seharusnya ku bayangkan.
Aku tidak ingin hidup dengan keraguan atas apa yang ku jalani sekarang.
Aku tidak ingin hidup dengan segala keterkaitan dari segala kemungkinan.

Jauhkanlah apa yang seharusnya jauh, dan ikhlaskanlah hati ini.
Dekatkanlah apa yang seharusnya dekat, namun jangan Kau biarkan cinta ini melibihi cintaku kepadaMu dan kedua orangtuaku.

Surabaya, November 2016
Di bawah pohon kersen yang tertebang diantara hiruk pikuk keramaian di tengah hujan yang tiba tiba turun dengan kejamnya, dan di depanku tepat di seratus delapan puluh derajat, ada kamu.

Komentar