Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Di akhir, ada doaku untukmu.

Kurasa semesta tau, betapa gulananya aku Aku tau, hari ini tidak seperti biasanya Terimakasih telah memberikanku pagi yang indah Dengan surya yang tak terlalu banyak menampakan wujudnya Aku menemukan sebuah harapan baru pagi ini Tunggu, kau tau kan aku tidak begitu menyukai matahari? Bagiku sengatannya hanya akan membuat hariku semakin runyam saja Menyiutkan pandangan mata dan memberatkan kepala Jangan marah padaku surya, aku tetap menyukaimu, bilamana hadirmu tak banyak Aku akan tetap membutuhkanmu, selalu Terimakasih telah memberikanku siang yang menyejukkan Sepertinya surya sedang tak ingin tampak Ya, langit mendung dan tanpa bayangan mampu membuatku terpana Bising jalanan yang tak seberapa ramai dan aku banyak melihat orang tersenyum siang ini Namun, sepertinya soreku tak seindah pagi dan siangku Sore itu jalanan begitu sesak ramai oleh orang yang ingin kembali pulang Bukankah sebuah rumah akan tetap menjadi pulang? Semua berlomba-lomba, te...

Sumbang

Sebenarnya aku tak tahu Ada lagu yang tepat kumainkan untukmu Karena semua itu hanya barisan kata tanpa nada Yang muncul karena rasa dan suasana Sebenarnya aku tak tahu Kalau kau begitu menikmati tiap canda dan perilaku Mencermati lekuk bahasa tubuhku Yang tak biasa, katamu Kini kudapati Aku ada di persimpangan Antara benar dan salah Antara lagi dan terima kasih Kuharapkan Kau dapat menemukanku di persimpangan Selamatkanku dari pilihan pilihan Dan menuntunku melewati tikungan Dengan cahaya lilin yang kian pelan Karena sebenarnya aku tak tahu Bagaimana merangkai sesuatu itu Tanpamu Surabaya 27-2-17 dimashuri

Resah

Bukannya ku tak mampu melupakanmu, Melainkan ku tak mau. Bukan berarti ku tak mencoba, Apa daya hati dan pikiran tak senada. Entah aku yang pesimis, Atau memang kita yang sudah habis. Namun, apakah benar mencintaimu adalah sebuah kejahatan? Sebab aku terpenjara bersama semua kenangan. ard 23-02-17 

Minor, Mayor

aku benci ketika aku menyukai kala mataku dan matamu bertemu atau mendapati diriku tersenyum kecil akan satu dua baris kata tak bermakna terkadang aku pun terbawa dalam harmoni lalu berimaji dan berpuisi kala kau melagu dengan jemari di fret satu dengan segala perlakuanmu, kuharap kau tak menyalakan lagi lilin lilin yang telah ku padamkan dan merangkai kembali sesuatu yang telah kita akhiri, tanpa pernah kita mulai bahkan memang tak pernah ada "kita" karena kau dan aku tak pernah melihat tanda tanda itu karena kau dan aku tak pernah mengucap, bahwa kau dan aku satu dan ketika petikan jemarimu berhenti melagu dikala itu pula aku kembali ke realita meyakini bahwa aku hanya berilusi dengan perasaanku sendiri yang ku tahu, masih kutemukan kau disitu menyatu bersama riuh tawa bahagia membagi cerita dalam aroma tembakau seperti biasa seperti kemarin dan seperti hari ini Surabaya, februari 2017 Elfa Nandia

Bali

Sedikit banyak kali ini dirimu membenahi diri.  Ditengah ironi permasalahan yang begitu mengguncang negeriku yang permai ini, benar sekali Tolak Reklamasi. Banyak aktivis kala itu membangun opini dilanjut dengan menulis narasi menolak reklamasi, mereka berpendapat proyek merupakan eksploitasi alam permai kita oleh kaum industrialis yang sedang membangun koloni di sekitar pemerintahan yang korupsi. Dirimu akhir-akhir ini memang indah dengan banyak pembenahan yang semakin terasa pulau ini bersolek untuk para pengunjung yang datang.  Terimakasih kembali saya ucapkan kepada Tuhan atas anugerah yang kau tutup dengan indahnya langit senja berwarna jingga di penghujung ufuk barat cakrawala. Bali, 28 Januari 2017 @agilranu (Agil Ranu Bintang)

Senyum

Penikmat mata bukan vagina Dari selatan Pulau Surga Definisi berbeda dari surga dunia Tuhan memberi kasih dan anugerah Dari pesisir Taman Surga Saat ini kita menelanjangi karya indah-Nya Hanya saja lebih nikmat dipandang Daripada hanya sekadar digoyang Rintik hujan berkawan dengan ujung senja Menemani hati yang sedang rapuh Yang indah di mata tapi tidak di rasa Gemericik air mengaduh riuh Bercumbu ditengah rindu Rindu menitihkan air kala bersujud dipangkuan-Mu Lombok, 23 Januari 2017 @agilranu (Agil Ranu Bintang)

Aku ingin tahu

Aku ingin tahu Kenapa manusia dapat berdiri dengan kuat .? Padahal poros bumi tak mencengkramnya dengan erat Atau mungkin, langkah kaki ini yang bergerak terlampau lambat .? Aku ingin tahu Kenapa manusia dapat berlagak sok hebat .? Padahal sadar pun hilang saat menenggak satu kerat Atau mungkin, raga nya memang terbuat dari kawat .? Aku ingin tahu Kenapa manusia dapat menjawab dengan tepat .? Padahal belum tentu otaknya bekerja dengan akurat Atau mungkin, kesadaran telah sepenuhnya didapat .? Aku ingin tahu Kenapa kau begitu sukar tuk mendekat .? Padahal perhatianmu telah kugenggam erat Atau mungkin, cara yang kupakai memang sudah berkarat .? Jadi, Kenapa kau tidak merapat .? Agar mudah kupeluk tanpa syarat Dan bersama kita tinggalkan Surabaya barat Surabaya 14-2-17 dimashuri 

Tanda Tanyaku Atas Kepergianmu

Ditengah malam yang gelap gulita Kutemui perempuan beparas pria Hahaha bercanda, kamu itu manis apa adanya :) Yang selalu memberi warna di setiap harinya Aku dan kamu dulu hanya teman bercerita Aku hanya ingin menemani dikala kesepianmu melanda Hingga rasa nyaman itu ada diantara kita Sekali lagi tujuanku hanyalah ingin menemanimu saja Semua berubah saat kita hanya berdua Saling terbuka tentang rasa dan keadaan yang ada Bukan kita yang meminta, tapi itu berjalan dengan sendirinya Hingga kuberikan apa yang tak semestinya Kita sudah bicara, walau ini salah kita tetap menikmatinya Kita tau akhirnya akan seperti apa, tapi bukan begini caranya Mungkin bisa dengan cara yang lebih pantas Bukan berlari seperti ombak di laut lepas Ya bersembunyi, seperti apa yang terjadi saat ini Seolah tertahan oleh ketakutanmu, tak ada satu kata pun terdengar oleh telingaku Aku yakin kita sama-sama ingin pergi Tapi rasa kecewaku sudah mewakili apa yang terjadi di sore itu Tak datang s...

Menahan untuk Bertahan

Awalnya aku bahagia semenjak kau berucap cinta Menyayangiku dan memberikan perhatianmu yang luar biasa Tapi entah ada apa Semua berubah semenjak kau mulai berulah Kita sama-sama tau, ikatan ini bukanlah mainan Ikatan ini adalah harapan dimana kita saling menaruh angan Masa depan, hal utama yang kita jadikan tujuan Dimulai dari kepercayaan hingga kelak menjadi keyakinan Namun apa yang terjadi saat ini Berbeda dari apa yang di inginkan hati Perlahan kau mulai mengingkari Janji-janji yang kau buat sendiri Laranganmu adalah alasan agar aku tidak mendua Namun nyatanya kau sendiri yang melakukannya Berduaan dengan si dia, dia, dan dirinya Tanpa merasa bersalah, kau membandingkanku dengan mereka Orang bilang itu pengkhianatan Orang bilang itu keterlaluan Namun aku hanya bisa menahan Agar hati ini kuat untuk bertahan Aku berkeyakinan Yang baik akan bertahan Yang buruk akan menghilang perlahan Selama kita terus memperbaiki diri dan selalu berdoa kepada Tuhan ...

Mi

andai aku seorang penyair akan aku tuliskan sebuah prolog untuknya kunamakan itu mula bercerita tentang awal kita berjumpa, kala kelopak matamu tak kuasa menahan tangis bahagia akan kutuliskan sebuah dialog untuknya kunamakan itu "kita" bercerita tentang aku dan kau yang saling bertukar mimpi dan harapan, diselingi kemelut kehidupan tak terlupakan dan akan aku tuliskan sebuah epilog untuknya kunamakan itu doa bercerita tentang aku dan hanya aku yang memenangkan sebuah perasaan bernama cinta yang tak bisa terucapkan dan tak pernah bisa ku kurangkan Surabaya, Februari 2017 Elfa Nandia Nuraga

Ma

terkadang aku tidak tahu, dimana logikaku tersisihkan, terlupakan kudapan sehari hari yang kunikmati dengan secangkir kopi yang mengingatkan pahitnya hidup tetap dapat dinikmati terkadang aku tidak menemukan, dimana kau yang dulu berapi api, jauh dari elegi setengahnya ku ikhlaskan bersama bahagiamu sendiri terkadang aku tidak menginginkan, jauh dari ladang kasih sayang dengan caranya sendiri mengasihi dengan caranya sendiri berdiri, bersama kedua nama yang abadi di bahunya terkadang aku masih berandai andai ah, Tuhan... aku mohon jangan murka aku tak bermaksud menolak takdirMu andai doamu dan doaku sekata andai balada dan tembang sukacita kita seirama andai dekapmu tak hanya memori di masa itu andai aku cerminan kebahagiaanmu andai kisahmu mengisahkanku dan kasihku mengasihimu Surabaya, Februari 2017 Elfa Nandia Nuraga

Kuseduh Puisi Kesendirianku

Kubuka hari ini dengan sentuhan hangat matahari, yang membelalakkan mata dan membuka imajinasi Jarum jam terus berputar tak berhenti, menandakan waktu tak bisa diulang lagi Jika bertemu sesuatu yang kausesali, kau akan berharap jarum jam berputar ke kiri Namun hal itu tak akan terjadi, oleh karenanya menyendiri adalah solusi Menyendiri bukan berarti sepi, masih ada hal lain yang bisa menemani Tak selalu berwujud putra dan putri, kadang juga berwujud kopi dan puisi Keduanya hanyalah benda mati, yang terasa hidup jika kau nikmati Puisi hanyalah tulisan, berisi kata mewakili perasaan Yang bisa kuungkapkan, namun bukan melalui lisan Dan kopi hanyalah minuman, yang kuseduh dalam kesendirian sebagai pengganti pahitnya kehidupan Keduanya sama-sama memiliki peran, membantuku menjauh dari penyesalan dan mendekatkanku pada perbaikan Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengijinkanku memiliki hati, kopi, dan puisi untuk terus bisa kunikmati walau dalam keadaan sendiri   - nurria...

Puan Berkelana Lagi

Aku kira beginilah nanti jadinya Kau pergi, meninggalkan, dan berbahagia Sedang aku tetap disini Dicengkram bumi bersama sepi Meski semua kata sudah kucoba  Derap kaki selalu menuntunmu ke juanda Hak suara pun seakan tak berdaya Walau kau tahu kita tak suka air mata Bukannya soal jarak waktu Namun ini tentang hati dan rindu Yang tadinya telah lama bersatu Kini terbagi dua dalam pilu Dan, Bila rindu ini masih milikmu Kuhadirkan sebuah tanya untukmu Harus berapa lama aku menunggumu Aku menunggumu                                                                   Surabaya 4-2-17 dimashuri

Sial Kau Rindu

Selalu datang tanpa diundang Selalu pergi tanpa permisi Kau kira aku senang dengan kedatanganmu? Cuih, menyambutmu saja aku tak mau Kenapa kau selalu memilihku? Kenapa bukan dia saja yang kau tuju? Kuberi tahu, kedatanganmu adalah belenggu Dari secercah kisah di masa lalu Karna kau aku memikirkannya Karna kau pula aku menginginkannya Kedua hal itu bagaikan ombak Yang akan menyeretku tenggelam jika aku tak melawan Kalaupun dia selalu diam, mungkin aku bisa bertahan Tapi jika dia memberi harapan, hancur sudah semua pertahanan Tunggu dulu, bagaimana dengan dia? Apakah dia juga merasakan hal yang sama? Memikirkanku dan menginginkanku kembali? Hahaha bodoh, tanda tanya apa itu Seharusnya aku membuatnya menjadi titik, agar aku bisa melanjutkan kisahku di paragraf baru Dengan kamu yang ada di masa depan, bukan dia yang ada di masa lalu   - nurriansyahr - Surabaya, 09-02-17

Terimakasih

Dan lagi hari ini Melepas penatnya emosi Hari ini kita mencari Apa arti bahagia di surga kecil        Kabar baiknya makin jadi        Awan di langit menyambut        Selamat datang surga        Kita berjumpa lagi Lombok, 22 Januari 2017 @agilranu (Agil Ranu Bintang)