Langsung ke konten utama

Ma

terkadang aku tidak tahu, dimana logikaku
tersisihkan, terlupakan
kudapan sehari hari yang kunikmati
dengan secangkir kopi
yang mengingatkan pahitnya hidup tetap dapat dinikmati

terkadang aku tidak menemukan, dimana kau yang dulu
berapi api, jauh dari elegi
setengahnya ku ikhlaskan bersama bahagiamu sendiri

terkadang aku tidak menginginkan, jauh dari ladang kasih sayang
dengan caranya sendiri mengasihi
dengan caranya sendiri berdiri, bersama kedua nama yang abadi di bahunya

terkadang aku masih berandai andai
ah, Tuhan... aku mohon jangan murka
aku tak bermaksud menolak takdirMu

andai doamu dan doaku sekata
andai balada dan tembang sukacita kita seirama
andai dekapmu tak hanya memori di masa itu
andai aku cerminan kebahagiaanmu
andai kisahmu mengisahkanku
dan kasihku mengasihimu

Surabaya, Februari 2017
Elfa Nandia Nuraga

Komentar