Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Manusia hebatku

Sejenak ku berfikir Apakah hanya aku yang biasa saja dengan adanya hari ibu Di keluargaku di biasakan semua hari sama saja Tergantung kita mensyukurinya. Tergantung kita memahaminya. Tergangung kita menikmatinya. Namun terkadang aku iri melihat mereka yg sangat seperti teman dengan keberadaan ibunya. Dan AKU? Aku di didik agar tetap menghormatinya tanpa atau dengan seperti teman. Namun aku merasa lebih jarang seperti teman. Namun didikan ibuku juga membuatku merasa sayang yg ga harus diungkapkan pada saat saat tiba. Aku tak paham dengan maksud ibuku mendidik ini. Rasanya seperti tanpa pemanis namun manis Manis !!! Aku sakit ibuku seperti hirau, namun Ia menangis saat solatnya. Itulah manis yg tak nampak dari ibuku. Namun yg kurasakan juga tak nampak. Sejuk sekali hatiku. Bahkan sakitku seperti lupa. Hanya dengan tetesan air mata dibalik kain putih diatas sajadah nya. Seiring dengan itu aku terhenti merasakan hatiku memeluknya dibelakangnya dengan erat. E...

Semoga, nanti

Perhatikan, Apa yang kau tebar akan menuai Menuai rasa di jiwa yang telah lama lara Menuai harap di kehampaan yang telah lama berputus asa. Menuai lepuhan luka atas ketakutan yang telah lama. Semoga, nanti Lagu pengantar tidurku bukan tentang kerinduan pada orang yang tak mungkin kembali Semoga, nanti Lagu pengantar tidurku bukan tentang kehilangan atau penghianatan Semoga, nanti Kamu bisa menerima aku apa adanya, tenang, aku akan berusaha menjadi lebih baik bukan pasrah pada kata apa adanya saja. Semoga, nanti Kamu bukan bayang bayang yang membuatku mati, kesepian, di tengah gelak tawa jutaan manusia. Semoga, nanti Lagu lagu tentang abadinya cinta yang mengiringi tidurku yang selalu diselipkan senyum simpul kedamaian Semoga, nanti Kita akan selalu menjadi kasih yang paling kita kisahkan disaat indra peraba sudah mengeriput dan indra penglihatan mulai merabun. Semoga, seterusnya Semesta merestui kesatuan kita.

GUBAH

Kadang merasa aku tak perlu Kadang merasa aku ingin Itu menjikkan !? Itu juga harus !! Sampai kapan aku seperti koala? Yang malas tanpa daya. Kadang menjadi perangkai bunga itu indah Kadang menjadi penyusun kata itu surga Hanya sebelah kita yang bisa merasa Bukan firasat kita semata -M F r s 2-12-16

terlalu pagi atau terlalu malam

terlalu pagi atau terlalu malam entah matahari yang terlalu baik atau bulan yang terlalu jemawa? atau bahkan sebaliknya? takdir Tuhan tak pernah salah dengan banyak kepedihan yang di simpanNya banyak mutiara. terkadang di dalam mutiara yang berkilau di simpanNya retak di dalamnya. Tuhan hanya tersenyum mengatur segalaNya dengan takdir yang tak pernah salahNya. tidak akan ada maksud yang jahilNya. ada pun maksudNya untuk keberkahan hambanya. 11-12-16 00.30 -M F r s

/desember/

bulan yang ku nanti akhirnya tiba dimana aku akan mengakhiri sebuah masa janji yang pernah terucap pada bulan yang sama sebagian telah ku taati sebagian lain ku lalai inilah saatnya bernafas lega meruntuhkan beban pilu di pundak kanan kiri bahkan punggung belakang tak jarang sesak di dada dan nyilu di kepala beban? beban yang selalu aku nikmati disetiap segala untaian yang terlilit beban yang selalu aku diami disetiap detik waktu berputar beban yang selalu aku syukuri disetiap rahmat yang diperpanjang tangankan beban yang selalu aku harapkan disetiap bentuk perbaikan diri desember, 2016 firda lubis

SEDIH DALAM SENANG

Apa? Apa yang aku rasakan sekarang? Apakah aku merasa senang? Apakah sedih yang sedang kurasa? Kapan? Kapan aku bisa merasakan? Kapankah senang menemani diriku? Kapahkah sedih melanda hariku? Dimana? Dimana kualami rasa ini? Rasa yang sebenarnya menjadi dambaan. Harapan semua orang yang memiliki hati. Siapa? Siapa yang dapat menghantarkanku menemuinya? Diakah yang mengisi senangku dalam impian? Sedihkah yang sebenarnya diberi ketika hati gundah? Bagaimana? Bagaimana bisa kumerasakan senang seperti saat ini? Tapi sedu sedang berkutat? Senang bisa diingat, Sedih sedikit bersua. Mengapa? Mengapa gundah dirasa? Ketika duka dan riang bersatu. Terkenang bergandengan, walau hanya kenangan yang terngiang. Bukan. Bukan itu yang ku mau. Bukan hanya serangkai kata. Bukan hanya sebuah harapan. Abdul Malik Akmal

Gadis Kecilku

Mata gadis kecil itu semakin sayu, Nanar dan terkulai tak berdaya, Tak seperti tatapannya di awal tahun, Bersinar bak supernova. Bibir gadis kecil itu semakin pucat, Kering dan pecah tak melekuk, Tak seperti senyumnya di awal tahun, Merekah bak bunga mawar. Setelah ia berdamai dengan waktu dan segala bujuk rayu, Sore itu kumendengarkan ia bersenandung dengan rintik di pelupuknya. Selama ini gadis kecilku berwatak periang, menebar senyum dan canda renyah, Gadis kecilku tak ingin memperlihatkan, Beban dosa yang ia pikul di pundaknya, Teramat pelan ia merintih, 'biarkan aku mempermainkan hatiku sendiri, bukan dia dan kongsinya yang culas. Aku percaya pada-Nya, setiap hembus doa yang kupanjatkan untuk-Nya, membuatku tak takut pada setan diujung sana.' Naif memang, Aku yang menganggap diri seorang lelaki, Hanya dapat mengutuk, Mengangguk berujar madu, Mengusap lembut tak berisyarat, Tanpa bisa memapah beriringan. Jika masih ada waktu, Ijinkan aku memperbai...

Tidak Mengenal

Pada setiap daun yang bergugur dari batang Mereka tidak lagi mengenal arti memaksa Pada setiap gerigi besi yang berputar dj dalam arloji Mereka tidak lagi mengenal arti menuntut Pada setiap tikus yang berdiam di penjara Mereka tidak lagi mengenal arti keserakahan Sama seperti aku Karena aku sedang mencintaimu Mencintaimu dengan diam Mencintaimu dalam angan Anganku tak butuh maksud hadirmu Anganku tak butuh balasmu Anganku tak butuh welas asihmu Karena mencintaimu tak serumit itu Yang ku tahu ini memang ku sengaja Menghitung jarak diantara bibir dan sujudku Menjelma nama dalam doa Diiringi gemuruh petir yang terkapar di ujung rintik mata Achmad Danang, 16-11-2016

Ilusi

Seharusnya kita bercengkrama Menikmati tiap tetes rasa pahit dan asam Bertukar pikiran tanpa memandang derajat Menikmati tiap hembusan asap Berlogika tanpa tenggelam dalam pola Membaur dan berceloteh tak berima Menembus batas setiap detak kehidupan Nyatanya kita hanya diam Tertunduk melihat pancar cahaya Terdiam mencuri kehidupan maya Terpaku pada sekotak tak bermakna Mencari celah setiap tuan dalam bayang Membuka mata menutup mulut dan telinga Acuh dan tak berbagi dengan sesama Inilah kita Melihat ilusi kehidupan sekarang Menjadi budak kemajuan zaman Achmad Danang, 14-11-2016, di depan secangkir kopi

Partikel

Teringat pada momen itu Di mana kita masih saling berbicara Saling melempar pandang Diiringi gemuruh badai Teringat pada momen itu Di mana kita masih saling berpegang Saling bertukar pikiran Diiringi deburan asap Teringat pada momen itu Di mana inderaku selalu bergejolak Mencium partikel yang engkau berikan Pada saat terakhir kita bertemu Dengan menitipkan partikel pada rajutku Seakan membantuku mengingat aromamu Engkau memaksaku menafsir polamu Tetapi menggiringku dalam jurangmu Timbul tanda tanya Tanya atas kesengajaan tingkahmu Seakan tak ingin ku melupakanmu Benarkah kau membiarkanku pergi? Benarkah engkau harus berlalu? Baru sebentar aku menggenggam Engkau sudah meminta untuk dilupakan Aku bukan penyair Tak pintar melagu dan merangkai Ini hanya kisah antar dua insan Terbelenggu keadaan Membawa simpul mati Hingga harus saling meniadakan Achmad Danang, 9-11-2016

11.11.16

Ku kira ini gejala semesta Gejala dari setiap rencana rencana yang telah tercipta Ku kira ini sebuah harmoni jiwa Harmoni yang langit sampaikan pada rasa Kenapa masih saja sibuk menerka Kenapa masih saja sibuk mengaitkan semesta Kenapa masih saja menyambungkan intuisi dan logika Ini adalah kemungkinan yang sangat mungkin terjadi Di antara sembilan ratus koma sembilan dari seribu kemungkinan Namun, sekali lagi. Setiap detakan waktu Setiap sudut keramaian Setiap denting peristiwa Setiap kalbu kemarin senja Dan setiap kabar yang tak berani dipertanyakan. Kau selalu ada dari setiap kemungkinan yang tak terdugakan. Kau selalu ada dari setiap kemungkinan yang ku nafaskan. Tidak, ini hanya terkaan yang kukaitkan dengan realita. Dan aku tidak mempercayainya sebagai sebuah kebetulan. ---------------------------------------- Kepada Sang Maha-Segalanya. Ku mohon jangan pertemukan kita disaat ku sedang membahasnya di kemarin senja Ku mohon jangan menghadirkan dia di ...

Hampa

Hampa. . Hampa telinga ini seiring semilir angin dari celah tinggi. Kurasakan sejuk meninggi. Kubayangkan surgaMu disini. Dosaku menolaknya kehadiranNya disini. Terjatuh dari mata ini dua tetes dari setiap ujung mata ku. Apakah itu air Surga?? Ahhh entahlah!!! Mungkin itu air Neraka. Namun tak mungkin datangnya sejuk kemudian tetesan air suci ini datang dari Neraka. Aku rasa Tuhan tersenyum dengan kebimbanganku.  - M F r s  24 okt '16

Kerahasiaan

Tak terdefinisi secara utuh Misteri kata bertulis rahasia Zat yang tak berlarut dalam sifat Partikel utuh yang terpatri di sudut fana Rahasia tidak pernah menyerah Menggerogoti tiap relung kehidupan Rahasia tidak pernah tumbang Rahasia mengakar di sanubari Hamba adalah rahasia Kau adalah rahasia Sumber diam adalah rahasia Perihal rasa adalah rahasia Polemik adalah rahasia Achmad Danang, 10-11-2016

Merah Jambu

Tertegun aku melihatmu Tersungging bibirku atas lakumu Tak kuasa aku menahan rasa Mulai kusadari warnamu merah jambu Berjuta warna telah tercipta Tetapi merah jambu menjadi bayangmu Warna kebanggaan kaum wanita Seperti rona di pipi tirusmu Masih terukir dalam ingatanku Merah jambu selalu menjadi pilihanmu Fanatisme yang mengekang Layaknya impian dalam angan Bukankah engkau sudah mengerti Merah jambu tak melemahkan Merah jambu memberi ketenangan Merah jambu sang pelipur lara Achmad Danang, 8-11-2016

Anomali

Pernahkah dikau merasakan kesunyian dalam keramaian? Pernahkah dikau merasakan sakit yang tak berluka? Ia pernah Lelaki itu pernah Tak sekali Dan tak terhenti Ia bukan pengagum kehidupan Karena tak lagi merasakan hidup Ia bukan penerka rasa Karena tak lagi merasakan cinta Harap bukan lagi berharap Ia tak lagi menuntut jawab Tertegun lelaki itu Terkulai lelaki itu Terjatuh lelaki itu Terkapar lelaki itu Begitukah akibat dari kehilangan? Terlalu pahit untuk bercerita ujarnya Begitukah ancaman dari mengharap? Terlalu indah untuk digambarkan ujarnya Lalu mengapa ia menjadi begini? Kutukan apa yang kini ia emban? Dengan lirih ia berkata "kejadian datang silih berganti, sebuah teka-teki, dengan sajak yang bertuan, aku mulai merasakan getaran, tanpa sebuah simpul yang terpasang. Dialah anomaliku, pengubah getaran dengan hasutan yang tak berbalas." Achmad Danang, 08-11-2016.

ubah

Semoga apa yang aku takutkan, takkan pernah terjadi. Entah bagaimana akhir kita, entah berpisah untuk menjadi kita atau berpisah untuk menjadi aku dan kamu, seperti sedia kala. Kalaupun harus menjadi aku dan kamu, kuharap kita tidak ada yg saling menyakiti atau saling meninggalkan, semoga kelak saat itu aku dan kamu saling memahami bahwa memang aku dan kamu tidak bisa di sebut kita lagi. Jangan berharap banyak padaku, tp percayalah disini aku berusaha, usaha terbaik ku sejauh ini adalah kepadamu. Menyampingkan idealisku, egoku, bukan untuk menjadi seperti yg kamu mau, tapi untuk menjadi aku yg lebih baik. Aku tidak ingin menjadi bagian masa lalu mu, yang kau ceritakan kepada dia-setelah aku, seperti kau menceritakan masa lalumu dulu kepadaku. Yang kau risihkan, kau sesalkan, kau muak-an. Kalaupun aku harus menjadi masa lalumu, aku ingin menjadi yang paling menyenangkan, yang paling kau rindukan dan yang paling kau kisahkan. Aku menyerah pada keadaan tak ingin kau tinggalkan. Aku ...

untukmu, pirs.

tatkala embun memadu kasih dengan dedaunan yang kecoklatan, rapuh, dan kaku sendiri memilu tatkala iris menangkap pelangi beradu mega dengan hujannya mengundang warna warni lagi kasihmu bukan kekasih kesahmu bukan meresah sebuah perpanjangan tangan yang kunamakan pertemanan kutemui kau pada akhirnya di persimpangan kekelaman kau menemuiku pula di persimpangan keraguan musim semi kita lalui, merekah tawa kita musim gugur kita nikmati, dengan basah air mata pun dingin hujan yang selalu kau ingin, dan hangat surya yang kusuka kadang angin memalingkan kita dari perjalanan atas pertemuan ini angin utara membawa logikamu berkelana menjauhi barat daya tempatku bersua aku bertanya namun bukan pada mereka mereka yang singgah di hatimu pula aku bertanya pada sang batin dan Penguasa apakah ini kau yang baru? atau aku yang baru mengenalmu? tak mengapa, kita tak harus selalu sama kujanjikan kau sewindu lagi nostalgia bersama senja atas cita cinta dan segala bahagia ...

Dalam Diam

Sang Pencipta menciptakan makhluk sempurna Sempurna dengan akal dan perasaan Tetapi para makhluk terkadang melupakan Apa yang membuat mereka sempurna Kisah seorang penikmat kehidupan Pecandu malam bersama temaramnya Sudut terluar di ujung kota Disitulah mereka dipertemukan Perkenalan tanpa terpikir perpisahan Naif mengalahkan ego Beradu dengan perputaran waktu Menjaga rasa penikmat kasih Dia pernah berkata dalam diam Perasaan akan mengalahkan logika Dia pernah berkata dalam diam Aksi mencerminkan hati Dia pernah berbisik pada alam Semoga alam menguatkan sel otaknya Dia pernah menangis pada alam Karena kenyataan tak sesuai dengan harapannya Dimensi ilusi berbentuk kenyamanan Apakah hanya sesaat atau akan kekal? Dimensi ilusi berbentuk kelembutan Apakah nyata karena memang begitu adanya?  Dalam diam dia mulai tersenyum Dalam diam dia mulai berharap Dalam diam dia mulai rapuh Dalam diam dia mulai tak berlogika Di...

Hari yang sama, tapi tak sama

Hari itu Pernah menjadi yang terindah dalam hidupku Hari itu Hari yang merubah fantasi dalam imajiku Hari itu Adalah saksi ucap setia bibir lidahku Hari itu Hari dimana dua hati pernah menjadi satu Namun hari itu Selalu saja menghampiriku Datang tanpa pernah memberitahu Seolah tak peduli perihal batinku Kini, ia kembali singgah dalam hidupku Untuk ketiga kalinya dalam ingatanku Paras indahmu hadir bahagiakan kalbu Membawa kemesraan tiga tahun lalu Maka, Kubangunkan alam sadarku Kudesak akal pikiranku Dan kutanyakan pada hati kecilku Inikah seorang yang telah menyentuh inti jantungku .? Selamat merayakan Hari jadi kita yang pernah ada                                                Dimashuri                                 ...

Hutan Para Bidadari

Terucap lewat untaian kata Nyanyian indah pelukis jiwa Tawa tangis dan bahagia Menyatu dalam rona Turunlah makhluk tak bersayap Turunlah dalam peraduan Bukalah mata hatimu Pancarkan sinar auramu Kutunggu kau di sini Di hutan para bidadari Kuharap kau mengerti Sebenarnya tempatmu di sini Apakah ku harus memanggilmu? Apakah ku harus membebaskanmu? Kujanjikan kau tempat terindah Kujanjikan kau kasih dan cinta Kan kujadikan kau putri dalam kastilku Maukah kau bersanding denganku, wahai penguasa hutan para bidadari?

RELA

Terasa hampa bila sendiri. Meminta ditemani sebuah alunan. Hanya ini yang bisa dilakukan lelaki. Menunggunya sembari menghisap batangan, Mengapa hatiku merasakan iri. Iri hanya pada sebuah lingkungan. Yang lebih sering menemani pemilik kaki. Jawabannya hanya satu, relakan. Dirasa kurang bila diberi.  Di siakan bila di dapatkan.  Mengharap jika tak tak memiliki. Itulah arti waktu kebersamaan. Abdul Malik Akmal

#file_lama_bapak #1

Hallo Nak!                          Hmm, memulainya dari mana ya Nak? Bapak bingung memilih kata pembuka. Tapi memang mengawali akan selalu jadi hal yang susah to? Atau langsung saja ya Nak? Sorry sorry, bahkan sudah ada 3 tanda tanya yang Bapak pakai sebagai pembuka. Tapi tanda tanya selanjutnya, adalah tanda tanya besar. Yang harus kamu jawab dengan jujur, gak boleh bohong loh ya. Sudahkah Bapak menjadi orang tua yang baik buatmu? Apa sudah kamu jawab, hmm? Jujur nih? Apa masih bohong hayooo? Terserah jawabmu apa sih, yang penting itu adalah jawaban tulus benar. Kalau jawabmu adalah sudah, semoga Bapak selalu bisa jadi orang baik buatmu. Kalau jawabmu adalah belum, itu adalah alasan mengapa Bapak menuliskan ini. Bapak tidak tahu seperti apa kehidupan yang akan Bapak jalani saat kamu hadir, bertumbuh, bertambah usia dan semakin lama menjalani kehidupanmu di bawah kolong langit i...

Hai, apa kabar?

Hari ini terulang kembali Dari yang muda menjadi menua Dari yang sehat menjadi sakit Dari yang suci menjadi pendosa Dari yang hidup menjadi mati Bertitipkan salam kepada Kitab Hingga Sang Malaikat mencatat Berkisah salam kepada doa Hingga Sang Kuasa mengiyakan Aku bukanlah yang pertama Perasa pedih untuk kehilangan Aku bukanlah yang pertama Penikmat peluh perjuang kehidupan Kepada ruang sempit nan gelap Tertelan tubuh tak bernyawa Di sanalah mereka berada Menunggu terompet itu bergema Hai adikku sayang Semoga ruang itu selalu luas untukmu Hai adikku sayang Semoga ruang itu selalu terang untukmu Semoga setiap doa selalu tersampaikan Meskipun kakak ini tak sebaik dirimu Khususonilarukhi Ahmad Nizar Permana Al-fatihah...

Perihal Rasa

Ada yang mengumbar tentangnya Ada juga yang menyimpannya dan menyampaikannya pada Sang Pencipta Rasa Aku memilih untuk membagi rasa pada semesta Meletakannya di pojok pojok keramaian kota Membiarkannya terbakar dibawah panas matahari Melukiskannya di sudut sudut bintang malam yang bercahaya Dan merelakan kerinduannya saat hujan tiba Kadang seperti daun, yang rapuh dan mudah tumbuh. Tak jarang juga seperti ranting, yang sering terlupa keberadaannya, namun menjadi tempatmu tumbuh. Pernah sesekali seperti batang, kuat, tidak ingin pergi seperti daun, dan tidak mudah tumbuh seperti keduanya. Namun, sering kali kau hancurkan, kau tebang habis, namun tak sampai akhirnya. Hingga pada suatu ketika, rasa yang kau harapkan mati, masih sering tumbuh tidak sebagaimana mestinya. Suatu saat, aku akan menjadi akar. Kepada kita yang saling menemukan. Surabaya, 25 Oktober 2016 16:16

Tak Lagi Suci

saat hitam menelan biru awan kurapatkan mata ada lukisan wajahmu di rasi itu ada rindu diwaktu yang berlalu itu ada doa di setiap lima bagaimana bisa aku merusak sebuah sajak yang seharusnya suci menjadi sesuatu yang tak lagi hakiki karena menuliskan rindu pada seorang yang telah mengikat janji suci pada seorang bidadari surgawi surabaya, 24 oktober 2016 firda fadhilah lubis

Dalam Temaramnya Malam

Perlahan, sangat pelan Hingga malam kan menjelang Cahaya kota kelam Mesra menyambut sang petang Disini kuberdiskusi dengan kawan Di sebuah tempat yang sangat nyaman Sedikit remang, namun tenang Ditemani secangkir kopi Berbicara tentang nyata dan fantasi Mencoba memecahkan teka-teki Arti cinta, persahabatan, dan emosi Malam ini, sekali lagi Kami belajar dengan hati Dimashuri  

Empati

Mereka pernah berkata Kesedihanku akan pergi Terhempas angin Angin selatan yang penuh debu Terbawa sampai ufuk timur Terjauh Dan ku pun terdiam Bertanya dalam hati Kapan ini kan berakhir Dan terbawa sampai ufuk timur Terjauh Dan aku Pernah melangkahkan kaki Dan terjengkal Tak sadar dan melantunkan 'Terang yang kudambakan Hilanglah semua yang kutanya' Dimashuri 24 - 10 - 2016 

Terngiang

bercak air terlukis dalam kacamata ku lagi lagi awan kembali kelabu. tak kuat kelabu itu menjadi sendu Oh Tuhan hadirkan orang itu seru lah agar Dia memelukku aku hampir lupa dengan wajah itu tak kuat air mata ini bak kelabu awan itu ini kah yang dinamakan rindu??? Oh Tuhan, apakah aku rindu ayahku??? Tuhan!!! Hadirkan dia agar aku merasakan bagaimana arti hidup yang sebenarnya engkau minta. Semoga engkau mendengarnya Tuhan, Semoga Tuhan menyampaikannya kepadamu ayah.                                                                 surabaya                                                             23 okt 2016 -M F r s

Rintihan Sang kaki

20 tahun kaki berjalan.  tanpa mememperhatikan setiap larangan yang ada. sekarang, diriku tak dapat berjalan menggunakan kaki ini terlalu jauh. bukan karena tak mau, tapi tak mampu. bukan karena putus asa, tapi sakit selalu dirasa. bukan karena lelah, tapi sakit mulai berulah. bukan karena pemalas, tapi masa lalu menuntut balas. baru disadari usia bukan tolak ukur daya tahan dan kemampuannya. mungkin perjalanan sang kaki mengitar gunung berahir disini. Abdul Malik Akmal

Rahasia

Aku, Kamu, dan Kita Apakah aku sejatinya pernah menjadi aku? Romansa kata dibalik tatapan lelaki. Apakah kamu sejatinya pernah menjadi kamu? Romansa kata dibalik perkataan wanita. Apakah kita sejatinya pernah menjadi kita? Romansa kata dibalik pencitraan sosial.  Apakah kalian yakin pernah menjadi kalian? 

kelabu awan di hari jum'at

kelabu awan di hari jum'at terbalik dalam ingatan. saat kecil tak berdaya kerabat berdatangan menyambut dengan kepanikan. berlari memasuki rumahku yang telah berbaring sakit. kepala keluargaku itu!?? entah aku masih tidak tau aku tidak tau. yang aku tau sang ayah masih berbaring sakit tertiba terdengar panggilan namaku ini. aku tidak tau. mengapa ada tangisan??? aku masih tidak tau. terbenak dalam pikiran anak kecil itu. apakah itu org yg tadi sakit berbaring dalam rumahku??? mengapa engkau tangisi ?? aku masih tidak tau. surabaya 21 okt 2016 - M F r s

Rindu

Kembang senyum pagi hari Senyum tipis ini sangat membuat hari Tentang peluk yang kau janjikan hari itu Detik ini makin kurasa rindu      Senyum satir rasa rindu      Dan itu benar-benar aku      Hanya duduk diam merasakan hal itu      Mencoba bernafas dengan kaku      Indah karena menolak melawan rindu Probolinggo, Januari 2016 @agilranu (Agil Ranu Bintang)
Dan akhirnya detak ini terhenti padamu. Dan akhirnya denyut ini melewati selasela pola pikirmu. Berliku penuh haru, namun, bahkan semili-pun tanpa tersesat. Karena aku tau, padamu adalah jalan pulangku. Yang selama ini kulewati sebatas angan. Kubanyangkan sebatas harapan. Entah siapa yang menggerakan laju hati dan pikirku. Untuk begitu sempurna melewati lukisan kalbumu. Surabaya, Oktober 2016 Firda Fadhilah Lubis.

Apa Kabar Hari Ini?

Selamat datang kembali Kita yang sama-sama berdalih Berkabung dalam dosa Terkasih dalam amarah      Tapi coba lihat mata nanarnya      Tanpa arti tanpa makna      Ingin teriak dan memaki      Namun apa daya, yang dulu ter'kasih'      Menjadi hanya kata terimakasih Surabaya, Oktober 2016 @agilranu (Agil Ranu Bintang)

Ah

Selalu saja, entah ada apa Kenapa hati ini susah untuk berpindah Kenapa tidak memilih beberapa diantara yg ada Kenapa selalu satu diantara beribu Dan kenapa itu harus kamu Sepertinya aku akan tinggal, di persimpangan antara mengejarmu atau membiarkanmu Lalu aku harus bagaimana, berfikir? Tidak, logikaku sudah tak mampu melawan hati Di saat usahaku sia-sia Di saat diamku menjadi pertanda Pasrah, kubiarkan mulutku berucap "aku menyerah" Tapi lagi-lagi hati ini berbeda arah Memaksaku berhenti dan mengambil jalan sebaliknya Ia merasa kalau ini belum apa-apa Masih banyak waktu untuk berusaha Masih banyak cara untuk mendekatinya Semua orang berhak berandai Semua orang berhak berharap Andai aku bisa mendapatkanmu, mungkin tidak akan ada lagi andaian dariku Namun jika andaian itu tak bisa kudapat, berarti ini tidaklah nyata, kuharap   - nurriansyahr - Surabaya, 09-10-16

Selamat Pergi

Selamat pergi. Selamat meninggalkan sebagian dari semua ini. Selamat menemukan dari sebagian yang kau cari. Dari tempat ini, aku juga ingin pergi. Dari tempat ini, aku juga ingin tinggal. Pergi darimu untuk menjadikan cita ku yang samar menjadi nyata. Tinggal denganmu bersama bayang bayang semu tubuhmu, suara dan gerakmu. Sekali lagi, jangan sibuk menerka. Tak tertuju hanya untuk sepotong hati saja. Tak melulu soal cinta dan sejenisnya. Teruntuk semua penghuni tempat ini. Jangan pernah berhenti untuk megakhiri, berentilah untuk sekedar beristirahat dan berterimakasih pada Illahi. Bawalah bekalmu untuk pergi, tapi jangan hati ini. Jika dirasa tak perlu, tak usah kembali. 03:21 (9 Okt 2016) Firda Fadhilah Lubis

KAMU

Saat kupejamkan mata tuk mengelak Tanpa sadar bayangmu terus menyeruak Bayang itu lambat-lambat menguap Menjadi sulit untuk diusap Ketika ku tersadar, ku sudah berada dalam mimpi Berselancar dalam pikiran yang kuciptakan sendiri Menghadirkan ombak-ombak memori dalam hati Menghasilkan sosok dirimu, sendiri Hangat mentari di pagi hari Ingatkan aku akan hal ini Pagi itu, lagu itu, dirimu Dan semua kenangan tentangmu Bayangmu pun kian menguat Menyulitkanku tuk melesat Semua terlalu manis untuk dilupakan Namun terlalu pahit untuk diingat Maka kubiarkan semua itu tetap disini Tersimpan rapi dalam memori Dikunci oleh imajinasi dengan berselimut mimpi Agar kubisa mengenangmu tuk diriku sendiri Kutulis puisi ini dengan perasaan yang tak dapat kujelaskan Memang tak serumit rumus fisika ataupun matematika Namun aku benar-benar tak tahu perasaan apa ini ? Apa namanya ? Dan suatu saat jika kau benar-benar membacanya, mungkin kau bisa menger...

Last Day

Masih kuingat hari itu, jumat 23 desember 2011. Dini hari. Seperti biasa kita melakukan kegiatan rutin, telepon. Ah menyenangkan sekali mengingat hal itu, dulu setiap subuh kita selalu berlomba siapa yang bangun lebih dulu dan dialah yang berkewajiban untuk membangunkan yang lainnya. Hari itu aku yang lebih dulu, sejak sore aku bersama empat orang sahabatku memang tidak tidur, kami sibuk mempersiapkan acara HIKMAH FIXED GEAR COMPETITION. Kami benar-benar bekerja sendiri, mulai dari hal kecil seperti tanda pengenal peserta sampai ngecat arena lomba. Benar-benar super. Jarum jam di ruang osis tempat kami menginap menunjukkan pukul 03.37. Mendekati subuh, hal ini membuatku mengurungkan niat untuk beristirahat sekedar memejamkan mata setelah lelah sehari semalam bekerja. Teman-temanku yang lain sibuk mencari posisi terbaik untuk membaringkan tubuh mereka yang sudah mencapai batas kemampuan. Aku sibuk ngecek memastikan semua yang kami kerjakan benar dan siap untuk digunakan saat acara ...

Aku Ingin Menjadi Kamu

Sesekali, aku ingin menjadi kamu,  yang dengan mudah pergi,  tanpa peduli yang menunggu,  yang suka hilang semaumu.  Orang yang dirindukan,  tetapi kadang sering terlihat mengabaikan.  Orang yang dipercaya, tetapi masih saja memilih dusta.  Menjadi kamu barangkali akan menyenangkan.  Bisa menyakiti,  lalu datang dengan permohonan maaf.  Bisa menduakan,  kemudian mengatakan semuanya sebuah khilaf.  Atau,  menjadi orang yang diharapkan,  tetapi memilih mengecewakan.  Orang yang berjanji,  juga yang memilih mengingkari.           Aku ingin menjadi kamu  yang dengan mudah mengatakan  semuanya sudah berakhir.  Atau,  yang mampu mengatakan tanpa beban,  kita bukan apa-apa lagi.  Juga,  yang sanggup mengatakan  lupakan saja semua kenangan kita.  Lalu,  pergi tanpa pernah merasa ber...
Mencintaimu Sekarang Mencintaimu sekarang itu seperti melihat film aku suka tokoh-tokoh di dalamnya namun biasa dengan kehidupan asli sang pemeran Mencintaimu sekarang itu seperti melihat film aku suka jalan ceritanya dan penasaran akan lanjutannya sama seperti kamu yang penuh tanda tanya bagiku Mencintaimu sekarang itu seperti melihat film aku selalu mendapat makna dari setiap peristiwa yang terjadi entah itu berakhir manis atau pahit sama seperti kamu yang menampar dan menyadarkanku akan perihal suatu Mencintaimu itu seperti melihat film saat aku merindukanmu dalam teater alam sadarku aku putar lagi film kita dulu saat kamu masih lugu dan saat film kita telah usai aku letakkan kembali film itu dalam tumpukan album yang selalu aku jaga rapi yang salah satunya aku beri nama ' kita yang dulu ' HBP 24 Agustus 2016, Surabaya

Menginginkannya Lagi

Tertegun diam melihat sebuah kejadian, lalu menilai dari sudut pandang hati Entah seberapa dalam aku kebelakang menelisik jauh tentang apa yang sudah terlewati Ini bukan perihal siapa yang ada disana tetapi mengenai apa yang pernah kumiliki Puluhan minggu aku menunggu ratusan hari aku menanti, semuanya telah kulewati begitu saja tanpa berusaha untuk mencari Bagiku mencari bukan semata-mata menunjuk lalu mendekati, tetapi suatu proses penyerahan hati kepada hati Awalnya aku biasa namun lama-lama aku mulai gelisah, memikirkan sebuah kekhawatiran yang aku khawatirkan tentang hilangnya sebuah perasaan dan merindukan perhatian tanpa kepura-puraan Aku mulai terusik akan hadirnya sebuah rindu, yang terus memaksaku untuk maju memilih satu diantara beribu Kapan dan siapa nantinya yang datang aku tak tahu Yang terpenting menurutku kuperbaiki dulu diriku dan bersiap untuk menunggu, lagi.   - nurriansyahr - Surabaya, 02-07-16

Salah

Tak semestinya ini terjadi, lingkaran rasa melilit hati Sudah kucoba untuk pergi, dari berjalan hingga berlari Apa daya aku disini, keras menolak namun tetap menikmati Ini masalah hati, bukan permainan anak yg kapanpun bisa disudahi Seolah seperti tertusuk duri, semakin dalam semakin perih Aku tak pernah berfikir, mengapa sentuhan itu membuat darah terus berdesir Yg kuingat hanya kata saat kau mengucapkannya, "kalau kau juga merasa, ungkapkan saja tanpa harus menutupinya" Kita mencoba bersikap biasa, namun hasil berkata sebaliknya Kita tau ini salah, masih ada mereka diantara kita Ya mereka, pemilik hati di luar sana Setia menunggu tanpa tau keadaan seperti apa Mungkin ceritanya berbeda, kau dengannya dan aku bersamanya Tapi kita bisa berbuat apa, bukan kita yg mengada-ada Ini benar adanya walau sekuat apapun kita mencoba Tak kutampik aku juga merasakannya Memang perasaan kita sama, sesaat bahagia namun sakit sebagai akhirnya   - nurriansyahr - Surabaya...

Entah

Semua kejadian menorehkan cerita Tersusun rapi antara suka, duka, dan cinta Saat aku datang disuatu ketika, perasaan yg ada bukanlah apa-apa Hanya senang yg kurasa, terbungkus halus dinginnya udara Semua begitu biasa, sampai kau datang menyebut nama Kau ini siapa, wanita biasa dengan sejuta cerita Membuatku bertanya-tanya, apa maksud dari wajah yg penuh tawa Apakah ini pertanda, adanya awal dimulainya cerita Detik menghilang berganti menit, menit menjauh mendekati jam Perjalanan singkat obrolan hangat, terasa lama walau hanya sesaat Entah kenapa ini bisa, tadinya maya menjadi nyata Bukan aku yg meminta, ini datang secara tiba-tiba Karena apa atau siapa, aku tidak tau jawabannya Yg kutahu hanya Aku disini namun pikiran dan hati masih tetap berada disana   - nurriansyahr - Surabaya, 20-06-16
Sejuta Cerita Merbabu Berdua (part 1) Datangnya Hari Ini M asa kuliah menjadi awal kisah perjalanan hidup sendiri tanpa di dampingi pengayom hidup masa kecil disampingku. mengisi hari dengan memacu roda dua bermesin menuju rumah dari ilmu. mengisi pikiran membangun presepsi baru sebagai maha dari seorang siswa. Guru dari seorang maha siswa selalu perhatian dengan memberikan bimbingan baik di dalam maupun diluar rumah ilmu. D atang masa dimana rumah ilmu menutup dirinya untuk sementara waktu di tandai dengan merahnya tanggal di setiap kalender negara. sebagai maha dari seorang siswa selalu menemukan cara untuk mengisi hari untuk mengistirahatkan batin, pikiran, dan fisik mereka demi penyerapan ilmu yang lebih baik di saat rumah ilmu membuka dirinya kembali. aku mencoba bercerita tentang salah satu kegiatan yang ku lakukan  tak lama ini ketika rumah ilmu  sedang tidak menerima pengunjung. H ari kamis hingga minggu pada tanggal 5 hinggal 8 mei 2016, para mah...