Langsung ke konten utama

Manusia hebatku

Sejenak ku berfikir
Apakah hanya aku yang biasa saja dengan adanya hari ibu

Di keluargaku di biasakan semua hari sama saja
Tergantung kita mensyukurinya.
Tergantung kita memahaminya.
Tergangung kita menikmatinya.

Namun terkadang aku iri melihat mereka yg sangat seperti teman dengan keberadaan ibunya.

Dan AKU?
Aku di didik agar tetap menghormatinya tanpa atau dengan seperti teman.

Namun aku merasa lebih jarang seperti teman.
Namun didikan ibuku juga membuatku merasa sayang yg ga harus diungkapkan pada saat saat tiba.

Aku tak paham dengan maksud ibuku mendidik ini.
Rasanya seperti tanpa pemanis namun manis

Manis !!!
Aku sakit ibuku seperti hirau, namun Ia menangis saat solatnya.

Itulah manis yg tak nampak dari ibuku.
Namun yg kurasakan juga tak nampak.

Sejuk sekali hatiku.
Bahkan sakitku seperti lupa.

Hanya dengan tetesan air mata dibalik kain putih diatas sajadah nya.

Seiring dengan itu aku terhenti merasakan hatiku memeluknya dibelakangnya dengan erat.

Erat sekali rasanya.
Ingin ku membawanya ke Surga.

Engkau tak ada ujungnya menangisiku dengan tenang hatiku.

Malaikatku tak pernah terbang dengan sayapnya.
Sayapnya memeluk erat aku.

Engkau hebat!
Engkau kuat!
Engkau memerankan sang ayah 17 tahun tanpa bantuan siapapun.

Engkau jangan sakit.

Tunggu aku menyelesaikan semua untuk engkau.

Lalu kita sama sama ke surga.
Kugendong engkau hingga sampai.

-M F r s
22-12-16
23:14

Komentar