Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Manusia manusia tak berurat malu

dengan begitu semua menjadi lucu dengan begitu semua menjadi seru dengan begitu pula semua menjadi sendu, haru, bahkan syahdu. - lagi lagi wagz - 25/10/18 - M F r s

Sang Sutradara

Kamu ini menyebalkan sekali Mengikat janji dengan ludah sendiri Sehidup semati lagi Tunggu dulu, ini pasti ironi Begini, Bukannya tidak terbesit sama sekali bahwa kau akan kembali Hanya saja rasanya seperti tragedi Terjadi cepat sekali tanpa kompromi Ayolah, Jangan mengumbar mimpi Seakan hidupmu adalah ideal bagi mahasiswi Role model wanita masa kini Dambaan mereka para priayi Kalau boleh berspekulasi Jangan jangan ini semua hanya narasi Plot twist yang kau tulis dalam deskripsi Agar semua sesuai dengan hati Jadi, Sebenarnya ada apa ini ?                                                           Surabaya                                                 7-11-18 ...

Gugur Susur Bubur

Ibu, kemarin sore aku lihat ayah di dalam sana, di antar banyak orang, tapi mereka enggan tinggal, pasti sepi tak ada aku dan ibu yang temani. Mereka berkata ayah pulang ke peraduan, tempat siapa itu, ibu? Rumah ayah di sini, aku ingin ia kembali. Nak, hari ini kita hanya berdua, tak perlu meracau kata pilu, ayah sudah pergi ke tujuan kita semua. Rayakan dengan pesta, ia orang baik yang tak mau tahta, bak lumpur menyelimuti mutiara, tempatnya di hati para jelata. Aku tak tahu takdir esok kan menggiring mereka kemana, sudikah emas terganti oleh batuan? Menghamba pada keadaan? Atau malah istana yang ku bangun kan menjadi gubuk reot. Tak perlu sesali. Biarkan aku kembali, lebur dan terurai.

Tujuan

Ia mengucap salam saat pertama kita bertemu, tangannya menelungkup, senyumnya ayu, rautnya tak sekaku kayu. Wanita itu berucap tak lama kita kan tiba. Satu jam. Barang satu jam lagi aku kan bertemu dengan kekasih, tak sabar. Gelap, pikirku. Ini masih pagi, harusnya jendela itu wajib di buka. Ya, memang terbuka, tapi gelap. Entah. Aku merasa pria sebelahku bergetar, tangannya mengadah dan bibirnya merapal doa. Ah, ia ketakuan. Ku lihat arlojiku, rusak, jarumnya tak bergerak dari angka 7, aku sudah pegal duduk. Kucium wangi itu, parfum dari pengucap salam di lorong, ku tanya kapan kita akan sampai. "Kita sudah sampai, pak" ujarnya. Tapi gelap, aku tak tahu. Apakah di sini tujuanku? Dingin. Kekasihku, aku takut.