Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Batasku Sampai Di Sini

meman ini jelekku sekaliku jatuh cinta aku benar mencita  tak seolah mencinta caraku memang berbeda aku tak bisa seperti kebanyakan yang mencinta melihatkan memang ini tetap jadi salahku yang lalu biar berlalu aku yang berusaha  belum tentu kamu anggap aku yang hanya bisa ikut di dalammu aku memang tak punya banyak waktu mungkin itu yang menjadi masalah bagimu aku beruaha menyempatkan tapi tetap aku bajinganmu yang tak ada setiapnya

Satu Banding Satu

untuk apa berbicara jika ahirnya tak di dengar. dirasanya tak pernah enak saat membalas. kau memang boleh mencecar. tak selamanya hal itu tanpa balas. kita sudah menjalin satu banding satu. dimana perasaan yang sama telah terukir. namun serasa tak pas jika pada batasku aku tak bisa meluap. dimana luapanku adalah petaka bagiku sendiri. tiap ku meluap kau jadi membisu seperti tak ingin melihat wajahku lagi. aku tak ingin berpisah, aku tak ingin mendengar kata pisah. yang ku dengar pernah kuucap lebih baik aku menyingkir dari hidupmu. aku tak ingin sesungguh sungguhnya. aku hanya dapat memohon jangan berpaling hanya karena hal kecil yang bisa di perbaiki.

Penunggu Waktu Bukan Begini

semuanya hanya mendengar untuk menunggu waktunya masuk kedalam pembicaraan. sadarkah kalian? sebenarnya apa mau kalian tak mau menghargai sekeliling? ego kalian sebesar itukah? yang satu terdiam karena tak mendengar apa kata mereka, yang lain hanya bisa menunggu lawan membisu sedikit sehingga masuk percakapan, tak bisakah kalian melihat sekeliling? tak semua menikmati apa yang kalian asikkan. bukan maunya untuk mencaci, tapi egois sekali kalian hadir semau kalian tanpa peduli sekitar kalian, tuhan tolong jauhkan aku dari semua yang hadir tanpa peduli hati. tanpa tau rasa apa yang dirasa semua. pentingnya hanya diri sendiri tak peduli aku, tak peduli kamu, tak peduli kalian, tak peduli semua. 

Terdiam

aku bukannya ingin menutupi apa dari kamu aku belum siap dengan apa tanggapanmu aku berselisih dengan batin untuk ungkapkan aku berahir membisu melihat reaksimu aku bertanya apa yang salah aku berungkap maaf jika terjadi adanya aku bersyukur semuanya pernah terjadi aku berharap yang ada tetaplah begitu aku bersanding dengan nyaman aku sadar tak mungkin tak mengungkapkan aku takut berpisah jarak, tapi aku lebih takut berpisah denganmu

Sang Pengisi

bisa-bisanya dia cuma mengikuti wadah hadirnya untuk mengisi ruang yang kosong bicara sebatas membalas cakap hanya berlagak bagai pelipur lara aku tak punya sikap aku biarkan hidup mengalir aku yang hanya mengikuti mereka aku terbawa angin yang semilir sejatinya aku bukan yang ini seharusnya bukan adanya begini selamanya kuingin jadi aku setelahnya aku tetap berharap begitu

Sebelum Pustaka

Aku rasa Sampailah kita di penghujung cerita Kau menikah dan berbahagia Sedang aku berkelana menderita Mengembara serupa Ahasveros Dikutuk sumpahi Eros Aku terseok dalam durjana Tak temukan cinta tersisa Baiknya juga aku sudahi Labirin cinta ini Sebab kau tetap disana Aku terperangkap tak tau arah                                                                                 Surabaya                                     16-7-19                      dimashuri

Bagian Terakhir

Jadi, sudah halaman terakhir saja Paragraf pamungkas luar biasa Yang mungkin ditunggu pembaca Baris akhir dari kisah kasih sekolah Kata penutup kenangan masa kuliah “Selamat menempuh hidup baru” Setelah ini, kau mulai lembaran baru Buatlah indah kata pertama Menjadi satu baris penuh suka cita Tidak apa, terus saja Sebab kau telah jauh kesana Aku terjebak dalam pustaka                                                 Surabaya                                        16-7-19                             dimashuri

Selepasmu

Selepas perpisahan itu, kau menanyakanku apa yang aku rasakan Apakah aku rindu? Sayangnya tidak Apakah aku sedih? Sayangnya tidak Apakah aku menangis? Sayangnya tidak Ah sudahlah, lupakan Aku memang tidak pandai untuk berbohong    - nurriansyahr - Surabaya, 03/02/19

Pemain Peran

Banyak yang bilang, kau adalah pemain hebat Berbagai macam peran drama, kau pasti pernah terlibat Menghadapi lawan main siapapun kau selalu mampu Membawa diri kedalam suasana baru untuk beradu Sempurna... Begitu para penonton menilainya Jangankan penonton, lawan mainmu saja kau buat tak berdaya Seolah olah yang kau perankan adalah benar adanya Hingga tak sadar kau bawa itu ke dalam dunia nyata Bermain peran seolah olah semua orang adalah lawan mainmu Yang bisa saja kau tipu dengan keahlian beraktingmu Itu yang membuatmu bertingkah seenaknya Menganggap semua orang bisa kau perdaya Tapi kau lupa ada satu orang yang tidak mempan dengan caramu Karna bagaimana aslimu, dia sudah tau Siapakah dia? Dialah aku, sang sutradara   - nurriansyahr - Surabaya, 31/01/19