Langsung ke konten utama

Sejuta Cerita Merbabu Berdua (part 1)

Datangnya Hari Ini



Masa kuliah menjadi awal kisah perjalanan hidup sendiri tanpa di dampingi pengayom hidup masa kecil disampingku. mengisi hari dengan memacu roda dua bermesin menuju rumah dari ilmu. mengisi pikiran membangun presepsi baru sebagai maha dari seorang siswa. Guru dari seorang maha siswa selalu perhatian dengan memberikan bimbingan baik di dalam maupun diluar rumah ilmu.

Datang masa dimana rumah ilmu menutup dirinya untuk sementara waktu di tandai dengan merahnya tanggal di setiap kalender negara. sebagai maha dari seorang siswa selalu menemukan cara untuk mengisi hari untuk mengistirahatkan batin, pikiran, dan fisik mereka demi penyerapan ilmu yang lebih baik di saat rumah ilmu membuka dirinya kembali. aku mencoba bercerita tentang salah satu kegiatan yang ku lakukan  tak lama ini ketika rumah ilmu  sedang tidak menerima pengunjung.

Hari kamis hingga minggu pada tanggal 5 hinggal 8 mei 2016, para mahasiswa mendapat "istirahat" panjang setelah mereka menerima ilmu dan pengujian ilmu yang didapati selama lebih dari setengah semester. takku sia-siakan waktu ini dan berfikir apa yang bisa kulakukan untuk mengisi kekosongan 4 hari ini. hari berganti silih berganti menunggu datangnya istirahat itu. tugas dari para maha gurupunku kerjakan dengan semangat liburan. namun belum kutemukan jawaban apa yang harus kulakukan untuk mengisi kekosongan 4 hariku.

Pantai 3 warna, terucap nama pantai dari seorang teman. gunung lawu, rencana seorang teman lagi. mengapa  baru sekarang lokasi itu terucap? menjadi buntut rencana sahabat lebih terasa ringan, namun apa daya hati berkata buntut mengembalikan nasi matang menjadi beras kembali.

Aku berpegang teguh pada prinsip hidup sebagai seorang maha pelajar. "JANGAN PERNAH GANTUNGKAN KEBAHAGIAANMU PADA ORANG LAIN karena KEBAHAGIAAN MUTLAK DIBUAT OLEH DIRIMU SENDIRI." seorang mahasiswa dihadapkan pada sebuah pilihan haruskah menjadi buntut ataukah membuat kepala baru.

Otak bekerja tanpa henti untuk berfikir,
Tangan dan mata mencari tak pernah berhenti,
Merenung bersama angin semilir,
Untuk mencari jawaban harus kemana aku dalam "istirahat"ku ini?

Ku mulai penelusuranku di dunia tanpa batas jarak dan waktu,
Tanpa kusadar dialah jawaban semua risauku,
Untuk melukis kisah di halaman baru ,
Mengistirahatkan batin, pikiran demi menerima ilmu sang maha guru.



abdul malik akmal
surabaya 23.mei.2016

Komentar