Langsung ke konten utama

"aku membutuhkanmu"

Sekali lagi aku terbujur mati membaca bait demi sajak yang kau tuliskan.
Tentang rindu, cinta, luka, hidup dan tikus-tikus istana Negara.
Sekali lagi, aku iri pada wanita yang kau jadikan inspirasi setiap rima
Seakan mampu berbicara, wanita itu bermakna segalanya

Setahun lebih sudah kita tidak bersua,
Apakabarmu?
Bagaimana kabar kotamu disana?
Masihkah hingar bingar seperti ibu kota?
Atau sekarang sunyi senyap seperti pedalaman desa?

Surabaya masih sama,
Akupun juga.
Yang selalu menantimu untuk pulang
Menetap disini berlama-lama.
Bercengkrama membahas jiwa dibawah lampu-lampu kota
Berbicara tentang mimpi dan fana kehidupan dunia
Bernostalgia, bercerita tentang kenangan aku dan kamu
Ditemani kopi hitammu dan kopi susuku yang tanpa gula
Tentunya bukan kenangan tentang kita,
Karena kita belum pernah menciptakan kenangan apapun.

Saat merindukanmu, kucoba mengobatinya dengan memesan kopi hitam favoritmu
Meneguknya sembari mengingat semua nasehatmu
Gelapnya malam dan pahitnya kopi mampu mengiringi rinduku
Membuat rasa “aku membutuhkanmu” menjadi semakin dalam
Rasanya bintang dan bulan enggan bersinar,
Mereka serentak membiarkanku tersesat dan tenggelam dalam kehilangan yang tak pernah sedikitpun memiliki

Tiba-tiba aku teringat sebuah janji 
Ya, kau tidak seperti pria lain yang mudah mengumbar berjanji berkali-kali
Namun, aku seperti wanita lain yang mudah percaya dan mengingat pekat sebuah janji
Kau pernah berjanji sesuatu, hanya satu hal
Yaitu tentang sebuah kepulanganmu
Untuk memberikan pelajaran hidup untukku.

Kuharap suatu hari, tertepatilah janji itu
Walaupun sudah dengan cincin di jari manismu, ataupun jari manisku.

Selamat bekerja keras dan berjuang untuk segala subyek dalam sajak rindu dan cintamu.
Tertanda,
Aku, yang sekejap saja begitu yakin kau adalah terakhirku.


Surabaya, 23 Oktober 2017
17.45-18.03
Firda Fadhilah Lubis




Komentar