Sudut mataku masih melekat, alis dan dahi kian bertaut erat
Hunus mentari menembus separuh diri
Silaunya melukis bayang penumbra
Pada satu sisi diriku, yang benderang karena dirimu
Bak gerhana, sisi lainnya bermuram durja
Entah apa yang membuatnya lara
Mungkin kepingan beling atau batuan gamping
Yang sudutnya kian tajam dan menghujam
Atau aku yang lain, alter ego yang ingin bermain
Menyandingkan cinta yang telah duduk manis di hati
Mengundang tamu untuk sekadar minum teh di pagi hari
Lalu pergi meninggalkan ragu
Dan harapan
Yang akan kutiupkan ke udara
Bersama randa tapak yang mencari tempat berpijak
Mengangkasa pada atmosfer khas pagi hari
Demi pagi yang memecah sepi
Harusnya aku mengerti, aku tak pandai bermain hati
Karena pagi masih tak mampu temukan arti
Komentar
Posting Komentar