Halo,
apakabar? Bagaimana langit disana? Apakah sesyahdu Surabaya?
Surabaya
masih sama dengan segala teriknya, langit langit mendungnya.
Embun dan
senjanya pun masih sama, sama indahnya.
Sudah berapa
lama ya kita tak berjumpa?
Semoga
kita-pun masih sama, pada rasa peduli yang sama, satu sama lain.
Jalan-jalan yang kita lewati dan singgahi juga masih
menyimpan segala kenangannya
Tak ada yang berubah.
Rumah ibadah itu, rasanya masih menantimu untuk barisan
paling depan dan memohon berlama-lama pada Sang segalanya.
Juga kepulan kopi panas yang kau teguk sembari membaca
harian ternama di Surabaya yang kau beli di Ibu tua itu.
Sepertinya pemilik
kedai kopi dan Ibu tua itu mencarimu dan beberapa kali menantimu, disana,
sebuah tempat dimana kita paling banyak menghabiskan waktu bersama.
Apa pemilik kedai kopi itu juga tau, bahwa kau telah jauh
dari kami, Surabaya.
Rumah seram itu pun masih menyimpan misterinya, tempat
dimana kita biasa berlama-lama untuk periode yang cukup lama.
Tapi satu,
gerobak penjual pisang keju itu kini entah kemana.
Tempat
dimana untuk pertama kalinya kita berdua bersama
Dalam perjalannya,
Pertama kalinya aku duduk dibelakangmu, menikmati senja di jalan Dharmawangsa
Pertama kalinya aku duduk dibelakangmu, menikmati senja di jalan Dharmawangsa
Sekali lagi,
hanya kita berdua
Kau dan aku saja
Padahal ku tahu, kau sudah tidak mau berdekatan dengan yang bukan mahramnya
Apa kau menganggapku bukan wanita? Hehehe hanya bercanda...
Apakah kau
tau?
Berkali-kali
disini aku mengucapmu disetiap setelah salam ku
Berkali-kali
pula disini aku menanti suatu kebetulan yang dulu selalu terjadi berkali-kali
Sesekali aku
mengenangmu, dengan penuh bahagia
Tanpa ada
luka apalagi duka
Tentang segala
makna yang kau tanamkan
Tentang segala
hal-hal baik yang kau berikan
Dan tentang
segala perasaan,
Dimana aku,
untuk pertama kali, setelah sekian lama
Menjadi wanita
yang sangat bahagia
Karena diberi
tatapan paling sempurna
Karena diperlakukan
dengan tulus adanya
Membuatku merasa
dicintai, sebagai seutuhnya manusia
Tanpa memandang
fisik maupun materi seperti kebanyakan lainnya
Terimakasih atas
segala makna bahagia yang pernah ada
Terimakasih telah
membuatku menemukan kembali apa arti cinta
Cinta kepada
Sang pemilik semesta
Dan cinta
pada segala hal-hal baik di dunia.
Surabaya, 4 Juli 2017
Firda Fadhilah Lubis
Komentar
Posting Komentar