Entah apa makna dari tetesan duka ini
Basah yang selalu menghujani pipi
Kawan, apakah kau tau ini mengapa?
Bahkan hati dan logikaku sendiri tak mampu memaknainya
Tuhan, redakan basah ini
Yang masih, seringkali membuat pilu dihati
Rasanya bukan cinta, karena memang sudah memudar sejak lama
Rasanya juga bukan rindu, karena rindu sudah kubunuh mati sejak kepergiannya
Walaupun terkadang sempat hadir sebagai sebuah hal yang kunamai kenangan
Kawan, bantu aku menemukan jawabnya
Dari sekian hal yang tidak juga kuikhlaskan, bahkan aku tak tahu apa dan mengapa
Dari sebab apa yang membuat hujan di pipi aku tak tahu apa perangsangnya
Bukan cinta, bukan pula rindu
Lalu apa?
Aku akan berusaha menerka jika bukan cinta dan rindu jawabnya
Apakah karena kau terlihat baik baik saja atas ketidakbaikan kita?
Apakah aku begitu naïf hingga membencimu?
Apa karena aku tak kunjung melihatmu merumahkan wanita lain?
Kau sepertinya sudah, semoga kalian utuh
Segera beri tahu dunia, bahwa kau telah menemukannya
Atau karena aku, yang belum menemukan tuan yang lain
Untuk sekedar menaruh rindu dan paling tidak, tidak memikirkanmu
Serta mengingat segala sakit yang kau buat.
Banyak hal yang kutunda, bukan salahmu memang
Hanya saja aku yang tak bisa mengendalikan kemauan diri
Hanya aku saja yang terlalu larut dalam elegi ini
Aku sudah pergi, namun seperti masih pada titik yang sama
Entah memang setiap titik yang kutemui sama
Atau, memang ada yang menarikku kembali
Tunggu, aku bersumpah tak ingin kembali
Apalagi setelah kau menjadi seperti ini
Aku juga sudah bangkit, merajut kebahagiaan bersama kenangan-kenangan lain
Namun, setiap aku tersudut sendiri
Masih saja terasa bahwa aku menipu diri sendiri
Atas bahagia yang sebisa mungkin ku ciptakan sendiri
Lalu apa?
Hampir lima waktu kubisikan pada semesta tentang ini
Tak juga dunia menunjukan jawabnya
Atau, aku saja yang belum bisa memaknai takdir yang sudah digariskanNya?
Surabaya, 8 Juni 2017
Firda Fadhilah Lubis
Basah yang selalu menghujani pipi
Kawan, apakah kau tau ini mengapa?
Bahkan hati dan logikaku sendiri tak mampu memaknainya
Tuhan, redakan basah ini
Yang masih, seringkali membuat pilu dihati
Rasanya bukan cinta, karena memang sudah memudar sejak lama
Rasanya juga bukan rindu, karena rindu sudah kubunuh mati sejak kepergiannya
Walaupun terkadang sempat hadir sebagai sebuah hal yang kunamai kenangan
Kawan, bantu aku menemukan jawabnya
Dari sekian hal yang tidak juga kuikhlaskan, bahkan aku tak tahu apa dan mengapa
Dari sebab apa yang membuat hujan di pipi aku tak tahu apa perangsangnya
Bukan cinta, bukan pula rindu
Lalu apa?
Aku akan berusaha menerka jika bukan cinta dan rindu jawabnya
Apakah karena kau terlihat baik baik saja atas ketidakbaikan kita?
Apakah aku begitu naïf hingga membencimu?
Apa karena aku tak kunjung melihatmu merumahkan wanita lain?
Kau sepertinya sudah, semoga kalian utuh
Segera beri tahu dunia, bahwa kau telah menemukannya
Atau karena aku, yang belum menemukan tuan yang lain
Untuk sekedar menaruh rindu dan paling tidak, tidak memikirkanmu
Serta mengingat segala sakit yang kau buat.
Banyak hal yang kutunda, bukan salahmu memang
Hanya saja aku yang tak bisa mengendalikan kemauan diri
Hanya aku saja yang terlalu larut dalam elegi ini
Aku sudah pergi, namun seperti masih pada titik yang sama
Entah memang setiap titik yang kutemui sama
Atau, memang ada yang menarikku kembali
Tunggu, aku bersumpah tak ingin kembali
Apalagi setelah kau menjadi seperti ini
Aku juga sudah bangkit, merajut kebahagiaan bersama kenangan-kenangan lain
Namun, setiap aku tersudut sendiri
Masih saja terasa bahwa aku menipu diri sendiri
Atas bahagia yang sebisa mungkin ku ciptakan sendiri
Lalu apa?
Hampir lima waktu kubisikan pada semesta tentang ini
Tak juga dunia menunjukan jawabnya
Atau, aku saja yang belum bisa memaknai takdir yang sudah digariskanNya?
Surabaya, 8 Juni 2017
Firda Fadhilah Lubis
Komentar
Posting Komentar