Langsung ke konten utama

TENTANG ELEMEN

sudah hampir tengah malam.
aku duduk di pinggir jalan, tanpa alas
karena celanaku memang sudah kotor dan yang aku benci adalah, sudah sesak juga.
aku menikmati jalanan yang sepi
dan juga seni gravity
tidak terbaca oleh mataku, namun menurutku terlalu indah untuk dikatakan vandalisme.
seorang teman lamaku disitu, menepuk bahuku sambil berkomentar. lebih terdengar seperti mengeluh.
aku tahu karena aku juga sering melakukannya pada diriku sendiri
ya, mengeluhkan tubuhku yang semakin melebar.
kami disitu bukan tanpa alasan
kami disitu karena ban motornya sedang bocor. dan ini sudah kali keempat sepanjang pertemanan kami. sialnya selalu terjadi saat perjalanan mengantarku pulang.
dia memutuskan untuk merokok, dua meter di belakangku
dan aku memutuskan untuk duduk dan melihat proses penambalan dengan seksama. ternyata tak cukup menarik sehingga hanya mampu bertahan sekitar lima menit saja.
aku kembali menikmati jalanan yang sepi. menatap lampu jalan lalu menatap bulan, yang jika aku tak salah, tertutup awan altocumulus
terlintas di benakku bagaimana kalau aku berubah menjadi manusia serigala. ah, bodoh saja.
lalu terlintas lagi tentang studiku yang belum selesai, padahal dua bulan lagi akan masuk semester 9
aku memutuskan untuk tidak memikirkannya. hampir 24jam dalam setiap hariku aku memikirkan hal itu. yang benar saja.
oh ya, aku lupa mengatakan bahwa kami baru saja selesai ngopi dengan dua teman lainnya.
lalu aku menoleh ke belakang, memastikan apakah temanku masih disitu.
rokoknya sudah mulai habis. aku menatapnya selama beberapa detik, lalu aku terbawa pada masa lalu. masa dimana kami duduk di bangku SMA, lebih tepatnya kelas 2 IPS salah satu SMA negeri di tengah Kota Surabaya.
aku teringat bagaimana aku begitu senang dapat menjadi bagian dari kelas kecil itu.
pikiranku mengerucut
aku teringat oleh enam teman lelakiku.
aku sering merindukan mereka. tapi aku cukup dewasa untuk memahami bahwa mereka (dan juga aku) sudah punya prioritas yang berbeda.
sebenarnya ketika SMA, aku hanya dekat dengan lima dari mereka, karena yang satu lagi seringkali menghabiskan waktu bersama kekasihnya. tentu saja aku tidak bisa terlalu akrab dengan temanku yang satu ini.
(seringkali kekasih mereka cemburu padaku, aku tak tahu kenapa. ini sangat memuakkan)
keenam temanku sudah kuanggap seperti elemen dalam hidupku
mereka adalah api, air, bumi, udara, dan angin.

ANGIN. angin adalah elemen yang menyejukkan hati dari amarah dan senang akan kebebasan. dia temanku yang ban motornya sedang ditambal. aku seringkali marah dan ngomel karena dia hampir tidak pernah tepat waktu. dan ketika aku sibuk menceramahinya, raut wajahnya tetap begitu. tetap tenang. dia adalah definisi nyata dari KEBEBASAN. bayangkan saja, bahkan ketika kekasihnya melarangnya ke Bali, dia masih tetap berangkat. hebatnya dia mengendarai motor sendirian. sendirian. entah kenapa, aku merasa chemistry diantara kami berkurang. padahal saat SMA aku merasa dia lah yang paling dekat denganku. kami sama bodohnya.

API. seorang temanku yang ini adalah api. aku tahu bahkan saat aku belum mengenalnya lebih dekat. dalam filosofi Jepang api adalah simbol amarah dan emosi serta melambangkan gerak yang cepat dan bertenaga. dia yang paling sering berbicara dengan nada tinggi padaku, juga lebih sering mengkritikku. dia yang pertama ku kenal. mulai saat kami masih polos sampai sekarang. sampai banyak perubahan yang kurasakan, tapi kunikmati saja. jujur kami sudah tak sedekat dulu, sekali lagi mungkin karena prioritas yang sudah berbeda. tapi aku tahu dia akan selalu ada untukku. begitu pula sebaliknya.

AIR. seorang teman lainnya adalah air. air melambangkan ketenangan, kesabaran, fleksibilitas, dan daya tarik (tentu saja "daya tarik" tidak berlaku untukku). si air adalah temanku yang paling sering menghubungi, entah sekedar menanyakan kabar atau mengajakku makan siang. tapi hal ini hanya berlaku kalau dia sedang "sendiri". si air selalu tenang, sabar, dan selalu mengiyakan mauku. dari dulu selalu begitu. bukan hanya padaku saja, tapi pada yang lain juga. sekali lagi, ini hanya berlaku kalau dia sedang "sendiri". tatapannya selalu penuh kesabaran.

UDARA. udara dan angin tidak sama. udara seringkali dianggap langit menurut filosofi Jepang. udara melambangkan kehampaan, kekuatan, kreativitas, dan spontanitas. dua orang temanku kuanggap adalah udara. mungkin akan kubedakan dengan udara dingin dan udara panas saja.
udara dingin adalah temanku yang terlihat diam. tapi percayalah, dia tidak bisa diam. dia paling suka bercerita tentang apapun itu. entah hanya sekedar menunjukkan kacamata hitam idamannya sampai cerita tentang celana dalamnya yang sudah sempit. dia sering merasa "hampa" jika tidak ada wanita (si air juga).
udara panas adalah temanku yang paling kurindukan candanya. kami sering belajar bersama semenjak kuliah. dia lebih tertutup soal masalah pribadinya sehingga aku harus menyiapkan pancing terlebih dulu untuk mendengar ceritanya. dia yang paling berani dan yang paling percaya diri.

BUMI. bumi menggambarkan sesuatu yang keras dan nyata. temanku yang satu ini memang sekeras batu, mungkin memang karakternya begitu. dia adalah yang dulu selalu bersama kekasihnya. kami lebih dekat ketika masuk kuliah. dia jarang terlihat konyol di depanku, kritiknya seringkali disertai saran. dia tak banyak bicara. sangat berbeda denganku, manusia "banyak cincong". jika bertemu dia cenderung cuek padaku, tetapi selalu menanggapiku di chat. dia cukup sabar melihat tingkahku walau sering dibalas dengan tatapan muak dan jijik, walau begitu aku tahu dia menyayangiku. dia selalu menjagaku.

ban sudah selesai, perjalanan mengantar "elfa si gendut" pun berlanjut.
rumahku hanya 5menit dari tempat tambal ban tadi. dan selama itu aku berdoa agar kami dapat berteman sampai tua nanti. semoga mereka selalu bahagia, selalu dalam lindungan Tuhan, dan semoga mereka sukses di masa depan.
tentu saja aku pernah merasa kesal pada mereka, dan aku yakin mereka pun demikian.
banyak yang masih tidak kuketahui tentang mereka.
aku tidak tahu apakah mereka juga menganggapku se-spesial aku menganggap mereka.
aku tidak tahu apakah mereka benar menjagaku seperti aku percaya mereka benar demikian
aku tidak tahu apakah mereka menikmati ngopi dan berbagi cerita bersamaku seperti aku menikmati momen momen itu
aku tidak tahu apakah mereka menyayangiku setulus aku menyayangi mereka.
aku tidak tahu.
mungkin ini berlebihan, tetapi itulah aku. ketika aku menyayangi, aku melakukannya dengan segenap hati.
dan aku harap mereka juga begitu.

with love,
elfo

Komentar