Langsung ke konten utama

selamat tinggal, Juli.

Halo Juli, maaf sudah banyak mengecewakan, maaf sudah menggunakanmu sebagai keterangan waktu ku untuk pencapaian salah satu hal terbesar dalam hidupku, maaf sudah mengingkari segala janji-janjiku kepadamu.

Juli, berjanjilah kau akan memaafkanku, jangan seperti ini, aku seperti merasakan sebuah pembalasan atas keingkaranku kepadamu. Ada yang dengan mudah pergi, bersama segala janji yang selalu kami bahas di setiap malam menjelang pagi.

Juli, sesakit itukah kau kuingkari? Sehingga kau berdoa kepada Tuhan untuk mengingatkanku dan menegurku dalam sebuah janji yang kini telah lenyap pergi. 

Juli, sudah begitu banyak doa yang ku bisikan dengan menyebut dirimu, aku tidak pernah lelah menyebutmu sampai pada keadaan bahwa dirimu sudah benar-benar tak bisa ku capai. Begitu banyak usaha-usaha yang ku usahakan untukmu Juli, tapi itu dulu. 

Juli, aku begitu berat melepaskanmu, tapi disini usahaku belum mampu membuktikan kepadamu, bahwa aku telah berusaha semaksimal mungkin. Aku akui, memang, banyak hal yang menyita perhatianku dalam proses pencapaianku kepadamu, sehingga aku kadang enggan memperjuangkan sebuah Juli yang aku impikan sejak lama. 

Begitu lama, sedamba itu aku padamu, Juli.

Terimalah maafku, ikhlaskanlah segala janji-janjiku kepadamu, berdoalah kepada Tuhan atas kebaikanku.

Jangan siksa aku, sudah kudapatkan pelajaran darimu, Juli.
Bahwa dilepas dan tidak diperjuangkan adalah kesakitan yang paling anarki. 

Surabaya, 27 Juni 2017
23.00 - 00.00
Firda Fadhilah Lubis

Komentar