Langsung ke konten utama
Kisah Kawan Tak Berujung

Aku tak tahu alasan Tuhan memilih kalian sebagai kawan
Dan hal itu masih kurenungkan
Tiap hari ku dapati kasih
Tiap malam ku dapati lawan bincang

Kalian bilang kita sama brengseknya,
Kalian bilang kita sama bangsatnya,
Tapi jangan lupa sampai hari ini kita masih saling menjaga
Sampai hari ini rindu juga masih tersampaikan

Nyatanya waktu sesingkat ini
Satu persatu kita tinggalkan almamater biru kuning di kota pahlawan

Jika Tuhan akan sempatkan kita lagi untuk bertemu
Berjanjilah di waktu itu jangan unggulkan jabatan
Jangan juga singgung tentang kekayaan

Tetaplah pada candaan tidak mutu itu,
Tetaplah dengan peluk sapaan itu
Tetaplah berbagi rokok yang menurut kalian tak rusak kesehatan, berbagi makanan dengan saling bersuapan

Nyatanya gelar sarjana bukan lagi kebanggaan saat ku tak bisa lihat lagi wajah kalian
Mimik wajah meringis kini berubah jadi tangis

Untuk kalian kawan yang ada di hati, terimakasih telah mengisi lembar cerita keseharian di masa studi
Ku tak mau jam terbang tinggi jadi alasan tak datang silaturahmi nanti
Terimakasih untuk tiga tahun tak berujung yang penuh cinta
Di akhir bait ini, namamu tidak lagi di dalam hati tapi sudah terselip dalam doa

Surabaya, 13 Juni 2017

Komentar