Langsung ke konten utama

pertemuan keempat.

Kita pernah ada disebuah ruang
Berdua, diantara hiruk-pikuk yang ada
Menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit bersama
Membicarakan hal yang fana, tapi nyata
Tentunya bukan membicarakan tentang kita

Awal pertemuan kita adalah sebuah garis waktu
Yang ditarik hingga menjadi sebuah titik temu
Tak ada yang istimewa pada saat itu,
Sama sekali

Pertemuan kita yang kedua pun bukan kita yang menginginkannya
Lagi-lagi terpaksa oleh keadaan yang mengharuskan kita untuk menyatu
Pada saat itu hiruk pikuk sangat menyengat
Membuat mata berjelalat dan pikiran semburat

Pertemuan ketiga,
Kali ini kita bersepakat untuk bertemu
Seperti yang kuceritakan di bait pertama
Hiruk pikuk yang ada seperti tak ada
Suara-suara tersamarkan
Hanya ada kita, aku dan kamu
Berserta hal-hal tentang kita dan mereka

Cerita dan tawa terus mengiringi pertemuan itu
Sampai pada saat kita menatap dan saling tertawa,
Tawa-pun berhenti, dan kita berani menatap lebih lama
Dalam diam kegaduhan
Dalam sunyi keramaian

Kau menemukan sesuatu?
Aku, belum.
Apalagi kau, tidak mungkin.

Pertemuan keempat kita,
Ada dalam ritme keramaian yang sama
Bedanya, kegaduhan malam ini adalah dari orang-orang terbaik kita
Dan kita memilih untuk tak bertegur sapa, hanya melihat lalu memaling muka
Seolah-olah tidak pernah ada tiga pertemuan sebelumnya

Surabaya, 10 Juni 2017
Selepas Imsak.
Firda Fadhilah Lunis

Komentar