Jarak kita hanya sepanjang jalan dharmawangsa namun tak bisa
bertemu. Berkali – kali kupaksaan tetap tidak mampu untuk bertemu. Sial memang
pada hujan. Tapi aku juga gak bisa menyalahkan hujan. Hujan pun tak tahu kapan
ia akan jatuh dan membasahi, hujan itu ikhlas gak pernah marah kitanya aja yang
menyalahkan hujan padahal semesta sudah mengaturnya. Oiya semesta, semesta
selucu itu memang. Kadang – kadang semau – maunya saja mau gimana tapi kadang
juga mengikuti keinginan manusia. Aku jadi teringat pada malam itu, jarak kita
hanya selangkah, tangan kita sudah bersua tapi kita tak mampu mengenali satu
sama lain hingga siang itu. 7 desember 2016 sekitar pukul 11 kita berjumpa,
benar – benar berjumpa dengan tatapan mata. Tak bisa kulupakan siang itu,
serasa angin bertiup lebih kencang dan mataku terpaku. Siapa kamu?
Lalu kita berkenalan lewat temanku, baru aku tau siapa kamu.
Pengecut katamu, tapi nggak begitu. Aku lebih berani dari itu lho, itu Cuma cara
semesta mempertemukan kita adinda. Caranya benar – benar lucu kan? Aku tertawa
mengingat itu sungguh gak mampu lupa diriku. Benar – benar indah dan gak
menentu. Kalo ingat itu aku gak jadi marah sama hujan, mungkin ini juga cara
semesta untuk menyuruh aku menahan rindu agar saat bertemu, rindu ini jadi tak
mudah berlalu. Selalu mencintaimu
Cara kerja semesta memang begitu, kadang kita tak mampu
menerka akan terjadi seperti apakah waktu itu. Semesta terlihat rancu tapi juga
gak begitu, semesta itu kacau sekaligus teratur. Kalau kita percaya maka kita
tidak akan punya kecurigaan terhadap takdir kita. Kadang semesta menyakiti kita
dahulu agar kita tau rasa manis kebahagiaan kelak. Jangan menggerutu, semesta
itu lucu.
-onifurqoni
selepas senja menuju subuh
Komentar
Posting Komentar