Sayang, bukankah
kita akan melewati sebuah masa dimana sesuatu yang terjadi adalah hal yang sama
berulang-ulang setiap hari sampai puluhan tahun?
Setiap pagi,
mata terbuka disamping ku adalah dirimu dan begitu sebaliknya, kita akan shalat
subuh jamaah dan setelah salam saling berjabat tangan kemudian mengadahkan
tangan untuk sebuah pengaharapan, aku akan menunggu tukang sayur lewat dan
memutar otak untuk membuat menu yang berbeda setiap harinya, menyajikan makanan
dan minuman untuk mengawali hari kita.
Demi
sesuap nasi kita bergegas pergi, tak lupa aku akan salim, kau akan mencium
kedua pipi dan keningku sembari dalam hati kita saling mendoakan dan berharap
hari ini akan berjalan dengan lancar.
Kita
sepakat untuk sama-sama bekerja, saling membantu satu-sama lain, ya karena
banyaknya cicilan yang harus segera kita bayar demi membangun rumah impian dan
rumah yang akan menjadi tempat yang paling dirindukan untuk siapapun yang
menginginkan pulang.
Sang surya pun
mulai sembunyi, ah waktunya pulang sayang, akhirnya aku bisa melihatmu lagi
setelah seharian bergumul dengan benda mati dan orang-orang hidup namun jiwanya
mati demi sesuap nasi, rekan kerjaku kurang mencintai apa yang dilakukan jadi
ketika mereka bekerja mereka akan terlihat seperti mayat hidup atau bisa juga
terlihat seperti robot, bekerja bukan dengan gerakan hati namun hanya kepentingan
duniawi, aku harap kita tidak seperti itu sayang.
Akhirnya
sampai juga dirumah, bukan hal yang aneh jika tidak melihatmu dirumah karena
memang kau selalu pulang dua jam setelah aku tiba dirumah, pasti kau lelah ya? Tenang,
aku akan segera bergegas membersihkan diri dan menyiapkan makan malam yang
semoga akan menghilangkan rasa lelahmu.
Ada
suara pagar terbuka! Aku selalu tersenyum mendengar deritan pagar itu, aku
berlari bergegas membuka pintu sebelum kau mengetuknya.
“Assalamualaikum”
“Walaikumsallam, mas”
Sayangnya
ritual pertemuan pulang kerja selalu tak seindah ritual berangkat kerja, aku
hanya salim kemudian kau bergegas menuju kamar dan segera membersihkan diri. Aku
menutup pintu dan bergegas ke ruang TV. Tak lama kemudian kau duduk disampingku,
ada dua kemungkinan disini.
Pertama, kau
menyenderkan kepala ke sofa dengan kepala mengadah keatas, mata tertutup, dan
menarik nafas panjang kemudian aku yang memulai bicara “Mas, makanan nya sudah
siap lho. Beda kayak tadi pagi, ini aku masak lagi, nasi goreng sama fuyunghai
ala ala kesukaannya Mas”.
Kedua, kau yang
menyakan duluan “Makan apa malam ini Fir?” dan aku menjawab lalu kita
bersama-sama ke meja makan.
“Sudah shalat
Isha, Fir?”
“Belum mas,
emang nunggu mas biar bisa shalat berjamaah”
“Lain kali,
shalat jangan di tunda ya sayang, tadi kebetulan waktu adzan aku lagi di jalan,
coba kalo waktu adzan aku aku masih di kantor, pasti aku shalat di kantor, kan
sama aja kamu harus shalat sendiri”
Aku hanya
tersenyum, andai kau tahu mas, menjadi makmum mu adalah salah satu hal terindah
dalam hidupku, mengaminkan alfatihahmu adalah sebuah kedamaian yang tak bisa ku
jelaskan dalam rangkaian kata.
Setelah shalat,
kau kembali kedepan TV melihat berita yang kau lewatkan seharian, dan aku
disampingu sibuk membalas chat teman-temanku
yang sedang membahas salah satu store
ternama akan buka di mall terdekat di
kota kami.
Tak ada
percakapan yang terjadi, aku mulai menguap dan merenggangkan sendi-sendi badan.
“Kalau ngantuk
di kamar aja, jangan ketiduran disini, malah sakit semua”
“Iya, aku ke
kamar dulu ya, Mas”
“Lho kamu
ngapain ke depan, Fir?”
“Mau ngunci
pager sama pintu, Mas”
“Nggak usah,
biar aku aja”
Aku melemparkan
badan ke kasur, mengecek alarm di HP,
kemudian meletakan HP di meja sebelah kasur tidurku. Ada dua kemungkinan juga
disini.
Pertama, aku
tertidur duluan sampai pada akhirnya kau datang lalu aku sedikit tersadar, kau
mendekat dan mencium pelipisku. Ketahuialah sayang, disitulah aku merasa bahwa
kau benar-benar mencintaiku, karena kau tak pernah mengatakan kata-kata cinta,
terakhir waktu awal kita jadian dulu sewaktu kuliah, menyedihkan mungkin bagi
beberapa wanita, namun segala perbuatan suamiku sudah cukup menunjukan bahwa
dia sangat mencintaiku dengan caranya sendiri.
Kedua, aku masih
terjaga sampai kau kembali ke kamar.
“Lho belum tidur
apa kebangun?”
“Belum tidur,
sampai di kamar kok nggak ngantuk sama sekali”
“HP-an sih,
ditaruh mangkannya HP nya”
Kemudian kita
berbincang, entah menceritakan kejadian di kantor tadi, atau membahas berita
yang habis dia tonton, sampai membahas tentang cicilan yang harus kita
selesaikan, oh iya kita sepakat untuk membebankan seluruh kebutuhan kepada kami
berdua, dia 70% dan aku 30% mulai dari cicilan rumah, perabotan, kendaraan,
biaya listrik, air dan kebutuhan sehari hari.
Setiap hari
seperti itu, berulang terus, kecuali kita sedang ada konflik. Sebenarnya permasalahan
kita adalah hal yang sepele, pernah suatu ketika aku tidak mengajaknya bicara
selama hampir dua hari karena dia tidak memberi tahuku kalau ada agenda makan
siang di mall dengan rekan-rekan
kerjanya.
“Eh Fir sampe
lupa bilang, waktu aku habis jemput anakku sekolah kemaren lusa, aku lihat
suamimu lho di resto ini sama temen-temen kerjanya gitu, lagi makan siang”
Sebuah kalimat chat di line dari seorang sahabat kuliah mampu membuatku panik seketika,
dan berguman dalam hati “Loh kok Mas gak bilang ya, kemaren lusa lho itu,
padahal tadi malem kita habis ngobrol banyak”
Tanpa menunggu
lama langsung ku balas chat line sahabatku
itu.
“Oh iyaaa? Kamu sapa
dia? Eh kamu apa kabar, anak mu kelas berapa sekarang?”
“iyaa ku sapa
kok, anak ku juga salim sama suamimu, oh kala sekarang kelas 1 SD fir, kamu
kapan nih nyusul, kala pengen punya sepupu wkwkwk, eh nanti malem pulang kerja
free nggak? Main kerumahku yuk, aku ada bikin kue kesukaan kamu nih, ambil yaaa
sudah ku siapin dua toples kastengel buat Onti Firda”
“SERIUSSS???????
OKEE NANTI KERUMAHMU AMBIL KUEEE, THANKSSSS LUVYU”
Masih dengan
perasaan yang tak karuan, sudah sering sekali ku komunikasikan dengan dia, ada
apapun cerita, karena aku pun begitu sebaliknya, hal terkecil, dan tersepele
apapun akan ku ceritakan kepadanya.
Malam ini aku
membeli makanan diluar untuk makan malam dan makan pagi besok, sesampainya
dirumah tenyata suamiku sudah datang terlebih dahulu. Aku hanya salam dan
langsung nyelonong masuk, menaruh makanan di dapur dan segera berbesih diri. Lagi-lagi
suamiku bukan hal yang peka terhadap hal seperti itu, karena aku sering
melakukan hal itu ketika aku telah suntuk seharian dengan pekerjaan dan
macetnya jalanan.
Makan malam ku
siapkan, dan aku bergegas ke kamar. Tak lama ketika waktu menunjukan pukul
22.30 suamiku datang ke kamar menyusulku untuk tidur.
“Lho tak kira
sudah tidur, sudah sholat isya?”
Aku hanya
mengangguk tanpa melihat wajahnya.
“Yaudah tidur
ya, aku matikan lampunya, HP nya ditaruh”
Dia pun tertidur
dengan pulasnya, dan aku meneteskan air mata atas ketidak peka-annya.
Adzan subuh
mulai berkumandang aku segera mengambil air wudhu dan memilih untuk shalat sendirian
tidak berjamaan dengan suamiku, setelah sholat aku membereskan rumah dan
menyiapkan sarapan.
“Eh sudah hampir
jam 5 pagi kamu kenapa kok nggak bangunin aku, Fir? Sudah shalat subuh?”
“Sudah, ini
makanannya juga sudah siap, aku mau mandi dulu terus berangakat kerja”
Aku berjalan
melewatinya tanpa melihatnya sedikitpun, aku tak mampu menahan amarah cukup
lama, tapi kenapa selalu saja kau menganggap semuanya biasa, sehingga aku mampu
bertahan dengan amarahku sampai kau sadar bahwa ada yang tidak beres.
“Kamu nggak
sarapan? Tadi malem juga gak makan malem? Kamu kenapa sih?”
Akhirnya kau pun
tersadar, batinku.
“Ya nggak laper
aja”
“Oke jangan sambat ya kalau nanti perut perih atau
uang menipis gara-gara makan diluar”
“Fir, itu kue
dari mana? Beli? Kamu tadi malem kok tumben pulang malem? Banyak kerjaan lagi
numpuk dikantor? Sarapan sana, jangan capek-capek”
“Perlu aku
bilang ke Mas? Darimana kue itu, kenapa aku pulang telat, Mas mau tahu?”
“Ya Allah kamu
kenapa lagi sih”
“Kan aku sudah
bilang, kalo ada apa-apa cerita, kenapa sih susah banget buat cerita?”
“Cerita apa? Ya emang
gak ada yang lagi perlu di ceritakan, Fir. Toh kalo ada apa-apa ya Mas selalu
cerita”
“Kemaren tiga
hari yang lalu Mas makan siang di mall kan
sama temen-temen kantor? Kenapa gak bilang? Aku kalo masalah mas dikantor
keseharian ya aku udah tau tapi kalo terlepas dari kebiasaan ya aku perlu tahu,
masak aku tau dari Arin, waktu itu dia bilang kalau ketemu kamu, ya akhirnya
aku pura-pura tahu kalo km makan siang diluar sama temen-temenmu, padahal dua
hari yang lalu kita ngobrol lama, kenapa gak cerita?” Tak ku sangka aku
meneteskan air mata, karena ku sudah lelah dengan permasalahan yang sama,
masalah ini yang paling sering terjadi sejak kita pacaran sampai awal-awal
menikah.
“Ya Allah soal
itu ternyata, ya aku lupa sayang, maaf yaaa”
“Terserah, aku
mau berangkat kerja dulu, Assalamualaikum!”
Yang kulihat
sekilas adalah suamiku sedang menggelengkan kepala, entah merasa bersalah atau semakin
menganggapku mudah marah karena hal kecil, sudahlah rasanya ingin berlama-lama
di kantor dan tak ingin melihat wajahnya untuk beberapa waktu.
“Fir aku
bener-bener minta maaf, aku lupa ngasih tau, waktu itu aku terlalu asyik
ndengerin kamu cerita, Mas minta maaf banget, kamu jangan lupa makan, dan
jangan lama-lama marahnya, besok lusa anniv
pernikahan kita yang pertama, masak iya kamu mau ngambek gini, I’m so sorry”
Tiba tiba ada chat seperti itu dari kontak yang ku
beri nama “Suamiku<3” , Oh Tuhan dia selalu saja berhasil membuatku
memaafkannya dan ku balas chat nya dengan “Ok”
“Masih marah ya,
yaudah gapapa deh, see you sayang,
cepet pulang ya”
Sore itu
ternyata aku yang pulang terlebih dahulu, sial berarti harus aku yang
membukakan pintu untuk suamiku. Tak lama suara derit pagar terdengar, ku
bukakan pintu lalu aku kembali ke ruang TV.
“Assalamualaikum”
“Walaikumsallam”
“Wah Alhamdulillah
kamu sudah pulang duluan, masih belum membaik ya moodnya?” sembari menghampiriku ke ruang TV.
“Mas mending
mandi, dan shalat dulu baru ngobrol sama aku”
“Oke, laksanakan”
langkahnya menjauhi ku namun dia berbalik lagi, dan mencium ubun-ubunku dari
balik sofa.
Aduh Mas, kau
selalu tahu obat pereda amarahku, setengah jam kemudian kau kembali duduk
disampingku.
“Aku udah mandi,
udah shalat brati boleh ngobrol ya? Aku minta maaf Fir, aku tau sudah sering
kita masalah kayak gini, dan selalu aku yang ngulangin salahku, dan tak harap
kamu gak bosen maafin aku, please lah
fir, besok kita anniv mumpung sabtu
juga kan, yuk jalan-jalan ke tempat yang kamu pengen, mau makan apa aja boleh,
mau beli apa aja boleh pokoknya gak mahal aku yang traktir deh”
“Iya Mas, lihat
besok ya, itu makan malem sudah tak siapin, aku nggak masak, aku beli lagi”
“Ayo makan
bareng, apa kamu sudah makan duluan?”
Tanpa menjawab
aku langsung ke meja makan dan mengambil makanan, aku masih membisu, biasanya
kalau aku terlalu lama marah, nanti suamiku juga ikut marah, akhirnya aku yang
mengalah, dan aku lelah dengan pola yang seperti itu, akhirya aku menurunkan
gengsi untuk memulai pembicaraan.
“Besok
rencananya, Mas mau kemana?”
“Lho ya Mas
ngikut kamu, kamu mau kemana?
“Kalau aku
bilang nggak pengen kemana-mana, gimana?”
“Serius nih?
Yaudah dirumah aja masak yang enak, sambil banyakin berdoa”
“Firda, tak rasa
sudah cukup ya kita pacaran setelah nikahnya, habis gini punya anak yuk, yang
banyak, tapi ceweknya satu aja”
Sambil tertawa
kecil aku menjawab ucapannya “Iya ceweknya tiga cowoknya tiga juga gakpapa kok
Mas”
Suamiku pun
tertawa “Kalau itu kebanyakan sayaaaaang”
Akhinya ganjalan
di hatiku sudah mulai hilang, aku sudah bisa tertawa lepas dan memandang
wajahnya lagi, keesokan harinya kita sudah shalat subuh berjamaah lagi, dan
untuk perayaan setahun pernikahan kita, kami memutuskan untuk seharian dirumah,
memebersihkan seisi rumah, mencuci mobil, merapikan taman, mengganti sprei
kamar, membersihkan kamar mandi, memasak makanan kesukaan kita beruda, semua
kita lakukan bersama-sama, hanya bedua, hanya aku dan suamiku yang paling
kucinta. Ah, sungguh perayaan yang paling menyenangkan!
Beberapa bulan
kemudian, Alhamdulillah kami diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi calon
orang tua dari seorang malaikat kecil yang sedang ada di rahim ku, kami pun
semakin bahagia dan hampir tidak pernah terjadi pertengkaran yang berarti.
Oiya, selain itu
ada ritual yang kami berdua lakukan setiap bulan, yaitu berkunjung ke rumah
orang tua kami, kadang diakhir pekan menginap, atau hanya singgah sebentar lalu
kita kembali pulang.
Orang tua ku dan
mertuaku sangat bahagia mendengar kabar bahwa aku sedang hamil, karena malaikat
kecil ini adalah sama-sama cucu pertama dari kedua belah pihak. Kehadiranmu
sangat dinantikan banyak orang, Nak.
Bulan-bulan
semakin berlalu tak kusangka sudah memasuki trisemester ke dua dari kehamilanku
ini, perutku semakin terlihat besar, dan kata suamiku aku semakin cantik haha. Setiap
malam aku selalu mencoba berbicara dengan malaikat ini, ku ceritakan kejadian
yang aku alami seharian, ku ceritakan bagaimana awalmula aku dan ayahnya
bertemu sampai malam itu, ku ceritakan harapan-harapanku untuknya sambil ku
belai dengan lembut perutku, sesekali bahkan sering dia mendang-nendang, senang
sekali rasanya Nak kau mendengar ceritaku.
Begitu juga
dengan suamiku, dia selalu menyempatkan untuk menyapa malaikat yang ada didalam
perutku, menyempaikan segala harapan-harapannya.
“Nak, kok bisa
ya ayah jatuh cinta sama kamu padahal ayah belum ketemu kamu, nak baik baik yaa
di dalem sana, jagain mama mu, jangan rewel-rewel, semoga semuanya lancar ya
nak”
Dikecupnya perutku,
kemudian keningku. Sungguh hari-hari yang sangat damai, tak henti-hentinya aku
mengucap dan berdzikir syukur di setiap nafas yang kuhembuskan.
Pada saat usia
kehamilanku yang ke delapan bulan, aku memutuskan untuk cuti kerja. Kedua orangtuaku
tinggal dirumah menemaniku menunggu waktu datangnya kelahiran malaikat kecilku.
Tepat di hampir
pengujung tahun, saat dirumah lengkap, ada orangtuaku dan suamiku, tiba tiba
saat sedang bergegas shalat isya, aku merasakan nyeri yang begitu hebatnya, aku
berteriak dan menangis sambil memengang perutku, suamiku bergegas menyalakan
mesin mobil dan aku di tuntun kedua orangtuaku menuju mobil. Di sepanjang
perjalanan aku di tenangkan oleh Ibuku, dan tibalah dirumah sakit yang memang
sudah kita sepakati bersama akan melangsungkan persalinanku disana.
Suami dan Ayahku
mengurus segala admnistrasi dan aku ditemani oleh Ibuku, tak lama,
direbahkannya aku ke sebuah kasur, dan dibawa ke kamar khusus persalinan. Sakit
yang luar biasa, tidak ada kata yang bisa terucap kecuali isak tangisan dan “Ya
Allah.. Ya Allah…”. Aku berdoa dalam hati, dan berharap Tuhan dan si bayi
mendengar doaku.
“Ya Allah lancarkanlah
persalinan ini, selamatkanlah kami ya Allah, selamatkanlah anak kami,
berikanlah kehidupan untuk kami”
“Sayang,
baik-baik ya di dalam, semoga kamu lekas keluar dan bisa melihat dunia, semoga
lancar ya” itu yang aku komunikasikan dengan bayi yang ada di dalam perutku.
Tanganku terus
digenggam oleh suamiku, sambil berucap kata yang menenangkan.
“Sakit banget ya
Fir? Ini tanganku remas aja, biar aku juga ngerasain sakit yang sama, jangan
lupa dalam hati berdoa, dzikir ke Allah biar semuanya lancar, tenang aja,
semuanya bakalan baik-baik aja, habis gini kita bakal dipanggil ayah dan ibu
dan mama papa mu bakal jadi Kakek dan Uti, Ibu dan Ayahku bakalan jadi Yangkung
dan Yangti, banyak banget yang bakalan berubah jadi tambah bahagia setelah ini,
terimakasih sudah berjuang sampai sejauh ini, tinggal dikit lagi, kamu pasti
bisa, ada aku disini, kamu boleh remas tanganku sampai sakitmu nggak kerasa”
“Iya Mas, maafin
aku ya kalau ada salah selama ini, sampein maaf juga ke mama, papa, ayah sama
ibuk, semoga lancar semuanya”
27 Desember
pukul 03.00 terlahirlah jagoan kecil ayah dan mama dengan persalinan normal. Dibawakanlah
bayiku ke pelukanku untuk diberi ASI eksklusif, ku timang-timang ku nyanyikan
lantunan doa-doa dan pengaharapanku padanya. Suamiku pun datang, dia mengecup
keningku dan bayiku.
“Selamat ya Mama
Firda, kamu hebat, tuh lihat gantengnya anak kita, mirip siapa ya itu? Mirip aku
ya kalau ganteng gitu?”
“Makasih mas, Alhamdulillah,
mama sama papa mana?”
“Pulang Fir, ku
antar barusan, kasihan, biarin mama sama papa istirahat, aku juga udah ambil
cuti dari hari ini sama jumat besok”
Masih di hari
yang sama waktu tepat menunjukan pukul 15.00 kita memutuskan untuk bergegas
pulang, karena kata dokter aku dan bayiku sehat dan baik baik saja jadi boleh
pulang, sungguh berkah yang sangat membahagiakan, terimakasih Tuhan.
Kami pulang
kerumah, sudah ada orang tua kami berdua yang menanti, air mataku mentes
melihat senyum mereka. Ibu mertuaku menciumku, memelukku, dan menggendong
jagoan kami. Mertuaku sepakat bermalam disini sampai hari Minggu, dan
orangtuaku tinggal disini sampai waktu yang cukup lama untuk mengajarkanku dan
suamiku cara-cara merawat bayi, memandikannya, mengganti popoknya, cara
menggendongnya, cara menidurkannya, dan lain sebagainya.
Segala perlengkapan
sudah kami siapkan sejak delapan bulan kehamilanku, kami sengaja memilih warna dominan
putih untuk segala pernak-pernik jagoan kami.
Di awal bulan
Januari kami mengadakan aqiqah untuk anak pertama kami dan pengenalan namanya
secara resmi ke kerabat-kerabat yang hadir, selama ini jika ada yang bertanya
kami hanya menginfokan bahwa bayi kami laki-laki dan bisa dipanggil “Mas” atau “Abang”.
Seremonial
aqiqah, potong kambing dan potong rambut pun berjalan dengan lancar dan semua
orang berbahagia atas kelahiran anak pertama kami “Diraya Nauval Sanaad” atau
bisa dipanggil “Raya” yang artinya adalah anak laki-laki yang tampan, baik
hati, dermawan, penuh kesabaran dan mampu menjadi sandaran bagi orang bayak. Semoga
arti nama mu mampu mengiringi seluruh perjalanan hidupmu nanti nak.
Waktu terus
berjalan, Raya pun sudah bisa jalan walaupun masih harus dalam pengawasanku,
usia Raya hampir dua tahun dan aku sedang mengandung adik untuk Raya, sungguh
berkah yang luar biasa. Anak keduaku ini diperkirakan lahir awal tahun, sekitar
bulan Maret yang berarti Raya sudah lebih dari dua tahun saat itu, semoga kau
bisa jadi Abang yang baik ya nak. Kehamilan kedua ini lebih rewel daripada
kehamilan yang pertama, iya aku tidak ingin jauh dari suamiku, kalau suamiku
belum pulang atau terlambat pulangnya kegelisahanku akan semakin parah, tak
jarang aku menangis, untungnya suamiku paham dan selalu menelepon jika pulang
sedikit terlambat.
Dikehamilan yang
kedua ini aku cenderung mudah lelah, oh iya aku memutuskan untuk tetap bekerja,
kasihan suamiku kalau harus menanggung semua beban ini sendirian, karena
semakin banyak kebutuhan kita, dan Raya selama aku bekerja di jaga oleh Uti dan
Kakeknya, jadi sepertinya Raya lebih dekat dengan orangtuaku ketimbang aku, ah
sudahlah kadang sedih rasanya, tapi ini juga demi masa depan Raya.
Bulan masih
menunjukan awal desember ini merupakan enam bulan kehamilan keduaku, berita buruknya
adalah suamiku dipindah tugas untuk beberapa bulan keluar pulau. Aku tak kuasa
menahan tangis melepas kepergiannya di bandara.
“Mas, kalau bisa
waktu aku lahiran mas pulang ya”
“Pasti sayang,
udah jangan nangis, malu dong perut gede gitu masih nangisan. Maaf ya aku juga
gatau kalau harus pindah tugas untuk beberapa bulan, baik-baik yaa”
“Abang Raya,
jagain mama ya, ayah mau kerja dulu nak”
“Pah, Ma aku
berangkat dulu yaa, kabarin kalau ada apa apa”
Raya yang tengah
asik bermain dan tertawa dengan kakeknya seketika diam, sepertinya dia tahu
ayahnya akan tidak berada di dekatnya dalam waktu yang cukup lama. Ritual salim
dan perpisahan singkat umumnya pun terjadi di bandara waktu itu.
“Sudahlah dek,
kan suamimu juga kerja, nggak aneh-aneh ngapain nangis terus, malu sama Raya”
hibur mama ku.
Hari-hari
kulewati dengan harap-harap cemas, aku harus tau kabar ter-detail dari suamiku,
setiap hari aku harus mendengar suaranya walaupun hanya satu menit karena dia
sudah lelah, atau kami membiarkan telepon kami tetap menyambung ketika dia
melakukan aktivitas selepas pulang kerja. Aku tahu ini sangat kolokan tapi
inilah adanya, kehamilanku yang kedua ini sangat memacu kereshanku bila jauh
dari suamiku. Pernah suatu ketika, suamiku tidak ada kabar selama seharian
karena HP nya tertinggal.
“Ya kenapa gak
ngabarin pake HP orang lain kalau HP nya Mas ketinggalan?”
“Ya Allah masak
harus sampai segitunya? Lagipula aku ninggalnya nggak sengaja, ini juga sampai
mess hal yang tak lakuin pertama ngehubungin kamu, aku pulang lebih awal,
khawatir kalo kamu bakalan resah dan mikir yang enggak-enggak. Aku tau ini
berat banget, di hamilmu yang ini kamu maunya deket terus sama aku, tapi lo
sayang… Allah malah ngasih aku tambahan kerja di luar pulau, itu tandanya apa? Ya
buat nambah sabarmu, sabarnya kita. Aku juga kepikiran sebenernya, tapi gimana
lagi ini tugas dan gakbisa tak tolak, aku gak minta kamu buat ngertiin aku kok,
karena selama ini kamu sudah cukup ngertiin aku, tapi tolonglah, aku pasti ngabarin,
aku tadi malem capek banget, sampe bangun kesiangan, gak sadar kalo hape ketinggalan,
sadarnya waktu mau shalat dhuhur, sangking banyaknya kerjaan yang belum selesai
sadarku lama, maaf ya, udah nggakusah nangis, Raya lagi apa?”
“Iya mas, itu
anaknya lagi main sama Uti di depan TV”
“Papa kemana?”
“Papa masih
tidur”
“Oalah yasudah,
kamu mending bulan ke tujuh udah ambil cuti aja sayang, kayaknya sekarang kamu
lebih gampang capek”
“Enggak, gamau,
bulan ke delapan aja, nanti kalau dirumah malah kepikiran kamu, bawaanya pengen
denger suaramu terus, kalo dikantor kan perhatianku teralih ke kerjaan yang
numpuk”
“Kayaknya anak
kita yang kedua ini mirip aku deh, buktinya kamu kepikiran aku terus”
Dan selalu, dia berhasil meredakan segala
amarahku dengan caranya. Aku semakin mencintainya, setiap saat kadar cintaku
bertambah, dan semakin sering doa yang ku ulang untuk kebaikan suamiku daripada
kebaikanku sendiri.
22 Maret pukul
07.00 aku dibawa kerumah sakit karena sudah mulai sakit perutku, sepertinya
malaikat keduaku akan segera hadir. Tak seberat perjuangan melahirkan yang
pertama, persalinan yang ini begitu mudah walau tak didampingi suamiku, tetapi
Papa ku menemaniku sepanjang proses persalinan, dan Mamaku diluar mengurus
segala administrasi dan menjaga Raya.
Akhirnya Raya
resmi menjadi kakak untuk jagoan kecilnya, iya aku kembali melahirkan anak
laki-laki. Papaku menelepon suamiku dan Papa menyampaikan padaku bahwa awal
April penugasan suamiku telah selesai dan akan kembali pulang, menetap dengan
kami.
03 April prosesi
aqiqahan kembali di laksanakan, tepat sehari setelah kepulangan suamiku,
suamiku memelukku berterimakasih kepadaku karena katanya aku sudah menjadi ibu
dan istri yang hebat.
“Aku tadi nahan
nangis di depannya Raya, Fir”
“Lho kenapa Mas?
Digigit?”
“Enggak, dia
udah bisa manggil aku –Ayah, aku shock bahagia banget”
“Iya Mas , Raya
banyak omong sekarang”
Pembicaraan kami
terpecah ketika rekan-rekan dekat kami mulai berdatangan dan mengucapkan
selamat kepada kami.
“Syukur
Alhamdulillah tepat 22 Maret jam 12.00 selepas adzan dhuhur telah lahir jagoan
kecil kami yang kedua, yang kami beri nama Bavrestya Dwi Saka atau bisa om dan
tante sekalian panggil Saka, yang artinya anak laki-laki kedua yang menjadi
tiang yang kuat yang bersinar dan membawa kebahagiaan, semoga selalu diberi
Ridha oleh Allah SWT sampai akhir hayat nanti”
“Aamiin”
semua tamu menjawab seperti itu.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Beberapa bulan
lagi adalah perayaan genap lima-belas tahun kita menikah, Raya sudah kelas dua
SMP, Saka sudah kelas enam SD, dan kedua jagoan kecilku mendapat dua orang adik
lagi. Anak ketiga kami adalah Ayse Putri Salsabila atau biasa dipanggil Ayse
yang sekarang masih kelas dua SD dan putra terakhir kami adalah “Delta Catra Abhiaksa”
panggilan sayang kami untuk jagoan yang paling kecil adalah Abi.
Kau tahu sayang,
lima belas tahun denganmu, dengan empat malaikat titipan Tuhan bukanlah hal
yang mudah, banyak sekali ritual dan rutinitas yang terus berulang sampai
kadang kita bosan, tapi aku tidak pernah berharap segala ritual ini berkahir,
aku ingin terus melakukan ritual ini bersamamu, bersama Raya, Saka, Ayse dan
Abi. Segala lelahku tergantikan dengan senyum dan kebahagiaan kalian, ku harap
engkau juga begitu, suamiku.
Terimakasih
telah menjadi bentuk nyata atas segala doaku dua puluh tahun silam, terimakasih telah menerima ragaku menjadi
tempat singgah untuk ke empat penerusmu. Terimakasih telah menemaniku lebih
dari limabelas tahun ini, menerima segala kekuranganku, kekurangan keluargaku,
terimakasih telah bersedia sabar menerima perubahanku untuk menjadi lebih baik,
terimakasih karena kehadiranmu dan anak-anak kita membuatku semakin dekat
dengan Tuhan, terimakasih telah membimbingku untuk menjadi istri dan ibu yang
baik.
Aku ingin terus
mengulang ritual ini, kau yang kulihat untuk pertama kali di pagi hari, kau yang
menjadi imam untuk setiap shalat jamaah kami, menyiapkan pakaian mu dan
anak-anak, menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, menyiapkan makan malam,
berlibur bersama, merayakan ulang tahun pernikahan dengan cara kita, sampai
nanti, sampai kita tua, sampai jadi debu kalau kata banda neira.
09.00 - 16.00 WIB
Firda Fadhilah Lubis
Komentar
Posting Komentar