Langsung ke konten utama
KETEMU HARI LAGI
Judulnya: Bilur

Hadir lebat jam sembilan tepat. Dikala manusiaNya menjemput asa.
Sebentar berhenti tapi tak tahu pasti. Menunggu Anugrah ini berhenti berikan toleransi.
Sambil menunggu pasti manusiaNya berinteraksi, tanyai kabar diri membangun relasi.
Waktu yang begitu kacau bagiku, bagi mereka ternyata sama saja.

Seorang kakek  membawa wanita jauh jarak usianya.
Kukira hidung belang, membawa wanita jalang. Ternyata cucunya. Wah pikiranku kotor ternyata.
Jadi fokusku pada mereka. terlihat menarik bagiku.
Entah menarik karena kelelakianku melirik pada sang cucu. Atau kucari tauladan kakeknya?
Tapi begini indra-indraku berpadu merekam mereka;
Begitu sayangnya sang kakek, menanyai apa mau cucunya.
"mau minum apa nduk, kita tunggu disini sampai hujan mengurangi bulirnya ya?"
Cucu itu manyun tapi hatinya dan pikirnya paham serbuk-serbuk kasih sayang kakeknya meluluhkan.
Ku tahu pasti dia berontak, seragamnya memberi sinyal terlambat.
Sang kakek tau cucunya tak enak rasa. Samar-samar kudengar kakek itu menenangkan lagi:
"Nanti kutanggung bebanmu, sabarlah. Maaf duniamu belum seberuntung yang lain.
Keluargamu belum bisa memberi SIM A, kakek saja tak punya.
Tapi hujan ini mendekatkan kita. Dengar, hidup tak selamanya harus berlari.
Kadang berhenti juga perlu, sambil menikmati bahkan menyesali.
Aku kakekmu tak mau menggurui banyak, aku mau kamu merasa dunia ini dengan rasamu,
dengan batinmu, dengan akalmu, dengan nilaimu sendiri. Sabarlah bulirnya sebentar lagi berhenti."
Kecapan kata kakek itu berhenti, menghela nafas panjang, dan tersenyum tulus.
Diam kemudian menghampiri mereka.
Dan sang Kakek tak mau kalah dalam diam, dia berujar lagi "sabar sebentar juga berhenti"
Sejalan dengan bulirNya.

Mungkin memang waktu itu untuk mereka berdua. Saling berkata untuk menata.
Bagiku, cukup untuk menikmati manusia berdamai dengan suasana yang dibentukNya.




Indrawan

Surabaya, 15 April 2016





Komentar