seseorang yang memandang cinta dengan cara yang sedikit kuno,
sedang duduk di tepi jendela. di lantai dua sebuah rumah bergaya belanda
dengan lampu tidur masih menyala ia suguhkan siluet dirinya bagi siapapun yang melihatnya
renungan kali ini ditemani lagu lagu bernada sendu
rupanya dia sedang dirundung ragu
lalu memutuskan untuk menulis menggunakan pena saja
agar ketika ada diksi yang kurang tepat, dia bisa langsung mencoretnya
dia lebih suka meninggalkan jejak kesalahannya, sebagai pengingat agar tak diulangi lagi
sebagai pengingat bahwa tak ada yang sempurna
begini tulisannya:
lembar satu
rupa dan buah dada itu bukan cinta
cinta itu teduh akasia di hamparan hijau sabana
bukan yang sebentar berganti gurun stepa
cinta itu debar debar tak berirama
namun melantunkan nada nada
cinta itu ruh yang ditiupkan setelah dirimu
menyatu bersama arteri dan setiap detak jantungmu
cinta itu bahasa
bagaimana caramu berkata, sembari menatap matanya
lalu melihat ke dalamnya, merasakannya, dan mengarungi lautan waktu yang tak kian memberi jeda
cinta itu benih yang dititipkan Tuhan pada manusianya
layaknya raja pada serdadunya:
"bawalah ke bumi, lalu tanamkan dalam sebuah hati. rawatlah, sampai merekah dan mewangi. lalu buahnya, tuailah"
cinta itu ..........
cinta itu adalah titik titik dalam hidupmu
yang akan terjawab sendiri olehmu
karena kau adalah penerjemah bahasa kalbumu
lembar dua
kadang kau hanya tersanjung dalam lautan puji
menyelam terlalu dalam sampai hampir tenggelam
lalu terbuai dengan apa apa yang kau rasakan
kadang kau hanya mengagumi, ia yang menceritakan padamu sebuah kisah
hingga kau terjaga
seperti dalang yang mendongeng Rama-Sinta
ah, pasti kau terlena
kadang kau hanya merasa dihargai
ketika tetes tetes peluh yang mulai sulit kau hitung itu ternyata untukmu
hatimu itu bisa merasa sejuta rasa
tak perlu tergesa gesa
hati hati dengan hati
jangan sampai kau salah menamai perasaanmu sendiri
16 Maret 2017
Elfa Nandia Nuraga
sedang duduk di tepi jendela. di lantai dua sebuah rumah bergaya belanda
dengan lampu tidur masih menyala ia suguhkan siluet dirinya bagi siapapun yang melihatnya
renungan kali ini ditemani lagu lagu bernada sendu
rupanya dia sedang dirundung ragu
lalu memutuskan untuk menulis menggunakan pena saja
agar ketika ada diksi yang kurang tepat, dia bisa langsung mencoretnya
dia lebih suka meninggalkan jejak kesalahannya, sebagai pengingat agar tak diulangi lagi
sebagai pengingat bahwa tak ada yang sempurna
begini tulisannya:
lembar satu
rupa dan buah dada itu bukan cinta
cinta itu teduh akasia di hamparan hijau sabana
bukan yang sebentar berganti gurun stepa
cinta itu debar debar tak berirama
namun melantunkan nada nada
cinta itu ruh yang ditiupkan setelah dirimu
menyatu bersama arteri dan setiap detak jantungmu
cinta itu bahasa
bagaimana caramu berkata, sembari menatap matanya
lalu melihat ke dalamnya, merasakannya, dan mengarungi lautan waktu yang tak kian memberi jeda
cinta itu benih yang dititipkan Tuhan pada manusianya
layaknya raja pada serdadunya:
"bawalah ke bumi, lalu tanamkan dalam sebuah hati. rawatlah, sampai merekah dan mewangi. lalu buahnya, tuailah"
cinta itu ..........
cinta itu adalah titik titik dalam hidupmu
yang akan terjawab sendiri olehmu
karena kau adalah penerjemah bahasa kalbumu
lembar dua
kadang kau hanya tersanjung dalam lautan puji
menyelam terlalu dalam sampai hampir tenggelam
lalu terbuai dengan apa apa yang kau rasakan
kadang kau hanya mengagumi, ia yang menceritakan padamu sebuah kisah
hingga kau terjaga
seperti dalang yang mendongeng Rama-Sinta
ah, pasti kau terlena
kadang kau hanya merasa dihargai
ketika tetes tetes peluh yang mulai sulit kau hitung itu ternyata untukmu
hatimu itu bisa merasa sejuta rasa
tak perlu tergesa gesa
hati hati dengan hati
jangan sampai kau salah menamai perasaanmu sendiri
16 Maret 2017
Elfa Nandia Nuraga
Komentar
Posting Komentar