Langsung ke konten utama

Sayonara, hujan.

tetes demi tetes, lalu berkejaran, membuyarkan kerumunan
menghujam retakan tanah kemerahan
gemuruh berteriak bersautan
perlahan tenang dalam genangan
bersama semua itu
aku disini memilih diam
membiarkan butiran bening itu mengkristal
bersama dingin yang kuciptakan sendiri
bersama rintik yang menjanjikan warna warni fana bernama pelangi

entah kenapa aku tak pernah bisa
mencintai sang gerimis, yang kata sebagian orang adalah pemanis
mungkin seperti teh? atau kopi?
atau menikmati hujan yang menderas, yang memanjakan para perindu
perindu yang menyesapi aroma nikmat kala tanah bersetubuh dengan hujan
sembari meraciknya dengan aroma aroma kenangan
jika kau beruntung, kau akan merasa hangat... terdekap... bagaikan di awang awang
jika sebaliknya, ya, kau hanya akan menyajikan racikanmu dengan air mata
paling tidak, akan sedikit sesak di dada
tersedak dengan rasa pahit yang kau imbuhi sendiri

tetapi aku adalah aku
yang terkadang menyelipkan harapan di setiap kebencian
demi setiap hujan yang memunafikkanku
ada caci dalam butiran yang menyentuh bumi
bersama dengan itu, ada asa dan doa bersama udara yang meninggi
atas nama zat dan partikel pembawa bahagia
kini akan kunikmati lagi lukisan langit yang biru, seperti warna kesukaanku, dengan mentari dan kawanan awan yang berjalan perlahan
perlahan...
menghilang dan terganti ribuan rasi

sayonara, penghujan
terima kasih atas kesediaanmu untuk singgah dan membuatku berdoa lebih sering dari biasanya
datanglah lagi lain hari
doakan aku bisa menikmati, bukan mencintai
karena bagiku mencintai adalah diluar kendali
paling tidak, doakan aku menjadi peracik handal bagi cangkirku sendiri

Surabaya, Februari 2017
Elfa Nandia Nuraga

Komentar