Aku pernah melantunkan irama harapan ke seluruh penjuru kota
Sehingga seisi kota itupun tahu, apa harapanku
Yang dulu belum menjelma sebagai kamu
Hanya menjelma asal pada orang di setiap keramaian yang kutemui
Aku pernah melantunkan doa ke seluruh penjuru langit
Sehingga semesta sangat tahu, apa mauku
Yang dari dulu adalah memang bentuk nyata dari kamu
Namun, langit memilih menyimpanmu sembari membenahi aku
Beberapa kali aku ditemukan oleh pendahulumu
Salah satu adalah bentuk nyata dari pengharapanku
Namun apa daya, kami berdoa dengan cara yang berbeda
Dan fisikku terlalu jauh dari pengharapannya
Salah satu juga pernah dikirimkan kepadaku
Untuk mempertebal iman dan akhlaq ku
Membantuku menemukan makna dari penciptaanku
Beberapa cucu hawa pernah bilang
“Kau menjadi lebih baik saat dengannya, tulus, tanpa di buat-buat”
Lalu kau datang, menjelma wujud sempurna
Dari semua lantunan irama pengharapan dan doa-doaku
Sampai saat itu aku tak bisa menemukan celahmu
Yang terbias oleh rasa syukur karena telah menemukanmu
Terimakasih telah menjadi doa ku yang terkabulkan
Namun, kau pernah mencintai dan dicintai
Oleh bulan, bintang, matahari dan senja yang begitu syahdu
Sedangkan aku?
Sangat jauh dari kata indah dan merdu
Hanya gadis yang masih mencari makna penciptaanku
Benar saja, tak lama kau pergi
Membuatku bertanya dalam diri
Apakah ini hukum kebutuhan berbeda dengan keinginan
Apakah Tuhan sedang memberitahuku perlahan
Bahwa yang aku inginkan selama ini, ternyata bukan yang aku butuhkan
Berpuluh minggu kita tak bersua
Aku dipertemukan lagi, dengan yang serupa tapi tak sama
Tak lama entah kenapa saat itu aku begitu yakin
Seperti ada dorongan hati dan bisikan Sang Maha Cinta
“Inilah yang kau cari, berhentilah disini”
Namun, sekali lagi kita memilih sama-sama pergi
Entah yakin ku berasal dari mana saat itu
Mungkin karena aku berdalih pasti ini renkarnasi dirimu
Mungkin Tuhan tahu, aku terlalu jahat menganggap pria itu adalah
jelmaan kamu
Sehingga menjauhkan kami, sangat jauh, sejauh jarak dan waktu.
Kamu kembali lagi
Setelah banyak rindu yang kubunuh mati
Setelah banyak harapan yang mengendap suri
Luruh bersama hujan , dan hilang seperti waktu
Setelah banyak sajak kepergian dan kehilangan
Yang tersaji dalam hujan di pipi
Sekali lagi, kau nyata, dan kau kembali
Setidaknya kau pernah ku kenang sebagai ruang kosong saat aku ingin
sendiri
Setidaknya kau pernah ku nanti atas segala kemungkinan ketidakpulanganmu,
kepadaku
Setidaknya dulu aku adalah yang pernah mencintaimu tanpa tapi
Coba kau lihat, dalam tulisan ini
Berapa bait yang kupersembahkan untukmu?
Coba tanyakan padaku, berapakah tulisanku yang objeknya adalah kamu?
Rasakan, kau adalah kasih yang paling aku kisahkan
Walaupun tak selalu bahagia
Walaupun banyak aku yang terluka
Namun luka dan sesak ini tak sehebat kasih dan rindu yang kupunya
Terimakasih pada Sang Pemilik Rasa
Kau mewujudkan apa yang kupinta
Semoga ini bukan cara-Mu menunjukan yang sebaliknya
Aku akan segera menemui-Mu kembali
Menceritakan harapan-harapanku lagi
Dan semoga Kau tak bosan mendengar dan menjadikannya nyata
Surabaya, 30 Maret 2017
10.30 - 11.00
Firda Fadhilah Lubis
Komentar
Posting Komentar