Langsung ke konten utama

Gemuruh Yang Panjang

Dua triwulan itu
Aku bersusah payah
Menemukan cara untuk pergi
Untuk mencari kesepakatan antara diri dan hati
Sebuah gemuruh yang panjang
Antara pergi atau tetap tinggal, menunggu.
Pergi ataupun menunggu, aku akan tetap merindu.
Segala tingkahmu membuatku pilu,namun ku setia menunggu.
Sampai pada akhirnya.
Di titik itu, aku mulai menyerah dengan rindu.

Dua triwulan itu, lelah tanpa berjuang untuk bisa denganmu.
Hanya lelah menepis rindu dan menutup pilu.
Suatu ketika, setelah sujudku
Aku menarik nafas panjang
Dan mengalir deras tetesan itu
Hari itu, rindu dan pilu luruh seketika

Nikmatnya hidup tanpa rindu yang fana
Indahnya hidup tanpa menunggu apa yang memang waktu itu ku kira tak mungkin kembali

Ku relakan segala tingkahmu
Melihatmu tanpa perlu pilu apalagi rindu
Jika kau hadir disela layar atau mimpiku
Ku hanya tersenyum dan kembali melanjutkan hidup
Tak seperti dulu, ada rindu yang menyengat jika melihatmu

Dan ketika kau jelas muncul,
Menanyakan hal yang ku anggap tabu
Syukurlah hati ini sudah mati rasa olehmu

Lama aku mendiami mati rasa itu
Teguh dengan segala apa yang aku yakini
Mencoba biasa menyikapi hadirmu
Mencoba biasa dengan segala ajakanmu
Menganggap semua adalah wajar

Dan kau menginginkan temu,
Sembari pamit untuk pergi, katamu.
Dengan yakin aku mengiyakan pertemuan itu.
Setelah dahulu aku sangat menginginkan pertemuan itu, dan akhirnya menjadi basi.
Aku dulu berharap bisa bertemu, untuk yg terakhir, membayar rasa rindu dan penasaranku.
Namun waktu tidak mengizinkan bertemu
Walaupun segala rencana telah kita sepakatkan

Pada saat itu, kau sangat memperjuangkan pertemuan kita
Dan aku menganggap "okay, sebelum tidak bertemu sama sekali, mungkin tidak ada salahnya bertemu, untuk membayar rasa penasaranku yang dulu, walaupun sekarang sudah luruh"
Dan segala aktivitas kita, aku menganggap hal yang wajar untuk dua orang yang pernah mengenal lalu akan berpisah.
Sesekali aku menguji hati
Untuk membuktikan apakah masih ada getaran yang tersisa
Ku coba menyandarkan kepala di lengan yang dulu setiap gelap malam kurindukan
Dan ternyata, rasanya sama, saat aku menyandarkan ke kawan-kawan lainya.
Sekali lagi aku bersyukur, bahwa rasa itu telah perlahan musnah.

Pertemuan itu..
Kita bercerita, kemana kita selama tidak bersua.
Membicarakan rencana-rencana masa depan masing-masing
Berdoa untuk kebaikan satu sama lain.
Segala gerak-gerik dan pertanda kau munculkan
Dan aku tetap menganggapnya lumrah.
Karena kau begitu adanya, mampu menerbangkan harapan wanita, yang ada di dekatmu.
Dan aku sudah pernah cukup tinggi kau terbangkan.
Kala itu, sayap sayap ku sudah ku patahkan.
Sekuat apa angin yang kau hembuskan aku tidak akan bisa terbang walaupun terkadang goyah.

Setelah hari hari itu, ketika setelah itu aku telah lega dan menganggap semuanya selesai.
Ternyata, yang selesai adalah yang terdahulu, ada hal baru lagi yang harus ku selesaikan yang masih ada kaitannya dengan kamu.

6-9 Januari 2017
Firda Fadhilah Lubis

Komentar