Langsung ke konten utama
Alkisah, sang diam memejamkan matanya.
Menelan ludah untuk menahan gejolak raga.
Ia terjebak dalam sebuah alur.
Terkesima tanpa tahu sang empu kapan kan kembali.

Dalam rangkaian pergantian malam,
sang empu mempertanyakan kesediaan untuk melupakan.
Dalam rangakaian pergantian siang,
sang diam menjawab dengan senyum ejaan rintik hujan.

Jangan kau buat alasan bagaimana sang diam mencintaimu.
Logika dan perasaannya masih mempunyai batas untuk menerima suap buah pikirmu. Jika kau ingin diperjuangkan, jangan ragu untuk meminta.
Karena sesungguhnya kasih, sedalam-dalamnya palung di samudera, sang diam siap menyelaminya untukmu.




Lelah dengan ujian akhir,
05 Januari 2016
Achmad Danang Rizqi Pratama

Komentar