Mungkin memang, ada sebagian kecil dari aku yang turut hilang bersama kepergianmu. Ada bagian dari aku yang turut kau bawa pergi, oleh sebab itu aku tak akan pernah menjadi sama, seperti aku yang dulu.
Aku adalah pengingat janji yang paling baik, sebenarnya kau tak perlu berjanji atau mengucapkan pengharapan kepada aku, alangkah baiknya jika waktu itu kau mengucapnya kepada langit. Dan semesta yang akan mengamini dan menjaga janji-janjimu. Jika sudah begini, aku adalah orang yang paling jahat, mengira kau adalah pengingkar janji, mengira kau adalah pria dewasa yang tak bisa komitmen dengan apa yang di ucapkan. Bukankah pria yang di pengang adalah segala tutur dan janji-janjinya? Sudah kau lihat kan? Betapa jahatnya perkiraanku, walaupun terkadang aku tau kau tidak seburuk itu.
Untuk sementara kubiarkan luka ini semakin menganga, ku biarkan kecewa ini semakin merajalela. Daripada harus kutimbun dan menghadirkan luka dan kecewa yang sama di kemudian hari. Aku tak pernah sekecewa ini terhadap cinta selama aku seperempat abad hidup, karena memang dari dulu aku berprinsip untuk tidak menaruh harapan kpd siapapun. Kalaupun harus kecewa, aku pasti kecewa dengan diriku sendiri. Tapi sekarang, aku sudah terlalu berharap banyak dari kamu, atas dasar janji-janjimu. Selain kecewa dengan diriku sendiri, terlebih aku sangat kecewa dengan dirimu.
Entah aku bodoh atau seperti apa, tapi yang jelas dulu aku menyadari bahwa aku dan kamu adalah "kita" oleh sebab itu aku meluruhkan beberapa idealisku, karna aku tau cinta itu "kita" bukan "aku".
Namun pada akhirnya dipenghujung cerita, kau pun tersadar, bahwa yang kau cari dan butuhkan ternyata bukan aku, akupun demikian, namun bedanya, kaulah yang ku cari selama ini, tapi ternyata aku tidak membutuhkanmu. Di akhir kisah pun kau seperti meminta aku untuk bersabar lebih lama, sebenarnya aku mau dan bisa, tapi kau juga harus berubah, kau selalu bersikukuh memang itulah kau adanya. Aku juga, maaf telah membuatmu lelah dan pada akhirnya enggan untuk menjadikanku lebih baik, aku ingin jd lebih baik, namun butuh proses, seharusnya kau tahan dulu lelah dan engganmu, seharusnya kau lebih sabar menemaniku dalam berproses. Namun sekali lagi, aku adalah aku tidak bisa kau paksa menjadi yang kau mau.
Disela-sela menulis inipun akhirnya aku juga ikut tersadar tentang apa yang membuat kita menjadi tiada, kita masih bersikukuh untuk menjadi "aku" dan tidak mencoba saling menerima dan bersabar lebih lama. Mungkin dari kita sama sama mencoba berubah menjadi lebih baik, namun tetap saja belum cukup bagi individu kita masing-masing. Ah bukan kita yang mencoba berubah lebih baik, hanya aku. Karena katamu, kau memang begitu adanya. Aku memang begini adanya, tp sekiranya hal yang membuatmu tidak nyaman aku selalu berusaha membenahi pelan pelan. Kalau kamu?
Lagi lagi, kata aku masih banyak aku gunakan disini, aku lah yang menjadi jurang ketiadaan kita.
Jika kau telah bersanding dengan perempuan lain, mungkin disatu sisi aku lega, disatu sisiku semakin membeci dirimu. Mengingat segala janji-janji kita dulu, entahlah.. aku masih belum tau kapan kecewa ini akan berakhir, dan harus ku luruhkan kemana segala janji janji yang selalu ku ingat ini.
Mungkin kita takkan pernah kembali, kalaupun kau kira ku masih berharap kita kembali, kau salah. Aku hanya berharap kita tak menjadi asing seperti ini, layaknya dua orang yang hanya tau tapi tak saling kenal. Jikalaupun kita kembali, kita masih pada "aku" yang sama dan pasti kita akan mengulang luka dan kecewa yang sama.
Jika dulu rasa rinduku melebihi rasa sakitku, oleh sebab itu aku mencoba bertahan walaupun tak lama, sekarang, rasa kecewaku melebihi rasa kasihku kepadamu. Jd mungkin itulah mengapa aku tak berharap kau kembali. Aku akan merelakan bagian bagian dari aku yang turut kau bawa pergi, aku akan kembali menata hidup dan hati untuk menjadi aku yang lebih baik lagi, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk ditemukan oleh seseorang yang berhenti mencari setelah menemukan aku.
Kita hanyalah sebatas janji. Yg tak pernah saling menepati.
Surabaya, 13 Mei 2017
09.00-10.00
Aku adalah pengingat janji yang paling baik, sebenarnya kau tak perlu berjanji atau mengucapkan pengharapan kepada aku, alangkah baiknya jika waktu itu kau mengucapnya kepada langit. Dan semesta yang akan mengamini dan menjaga janji-janjimu. Jika sudah begini, aku adalah orang yang paling jahat, mengira kau adalah pengingkar janji, mengira kau adalah pria dewasa yang tak bisa komitmen dengan apa yang di ucapkan. Bukankah pria yang di pengang adalah segala tutur dan janji-janjinya? Sudah kau lihat kan? Betapa jahatnya perkiraanku, walaupun terkadang aku tau kau tidak seburuk itu.
Untuk sementara kubiarkan luka ini semakin menganga, ku biarkan kecewa ini semakin merajalela. Daripada harus kutimbun dan menghadirkan luka dan kecewa yang sama di kemudian hari. Aku tak pernah sekecewa ini terhadap cinta selama aku seperempat abad hidup, karena memang dari dulu aku berprinsip untuk tidak menaruh harapan kpd siapapun. Kalaupun harus kecewa, aku pasti kecewa dengan diriku sendiri. Tapi sekarang, aku sudah terlalu berharap banyak dari kamu, atas dasar janji-janjimu. Selain kecewa dengan diriku sendiri, terlebih aku sangat kecewa dengan dirimu.
Entah aku bodoh atau seperti apa, tapi yang jelas dulu aku menyadari bahwa aku dan kamu adalah "kita" oleh sebab itu aku meluruhkan beberapa idealisku, karna aku tau cinta itu "kita" bukan "aku".
Namun pada akhirnya dipenghujung cerita, kau pun tersadar, bahwa yang kau cari dan butuhkan ternyata bukan aku, akupun demikian, namun bedanya, kaulah yang ku cari selama ini, tapi ternyata aku tidak membutuhkanmu. Di akhir kisah pun kau seperti meminta aku untuk bersabar lebih lama, sebenarnya aku mau dan bisa, tapi kau juga harus berubah, kau selalu bersikukuh memang itulah kau adanya. Aku juga, maaf telah membuatmu lelah dan pada akhirnya enggan untuk menjadikanku lebih baik, aku ingin jd lebih baik, namun butuh proses, seharusnya kau tahan dulu lelah dan engganmu, seharusnya kau lebih sabar menemaniku dalam berproses. Namun sekali lagi, aku adalah aku tidak bisa kau paksa menjadi yang kau mau.
Disela-sela menulis inipun akhirnya aku juga ikut tersadar tentang apa yang membuat kita menjadi tiada, kita masih bersikukuh untuk menjadi "aku" dan tidak mencoba saling menerima dan bersabar lebih lama. Mungkin dari kita sama sama mencoba berubah menjadi lebih baik, namun tetap saja belum cukup bagi individu kita masing-masing. Ah bukan kita yang mencoba berubah lebih baik, hanya aku. Karena katamu, kau memang begitu adanya. Aku memang begini adanya, tp sekiranya hal yang membuatmu tidak nyaman aku selalu berusaha membenahi pelan pelan. Kalau kamu?
Lagi lagi, kata aku masih banyak aku gunakan disini, aku lah yang menjadi jurang ketiadaan kita.
Jika kau telah bersanding dengan perempuan lain, mungkin disatu sisi aku lega, disatu sisiku semakin membeci dirimu. Mengingat segala janji-janji kita dulu, entahlah.. aku masih belum tau kapan kecewa ini akan berakhir, dan harus ku luruhkan kemana segala janji janji yang selalu ku ingat ini.
Mungkin kita takkan pernah kembali, kalaupun kau kira ku masih berharap kita kembali, kau salah. Aku hanya berharap kita tak menjadi asing seperti ini, layaknya dua orang yang hanya tau tapi tak saling kenal. Jikalaupun kita kembali, kita masih pada "aku" yang sama dan pasti kita akan mengulang luka dan kecewa yang sama.
Jika dulu rasa rinduku melebihi rasa sakitku, oleh sebab itu aku mencoba bertahan walaupun tak lama, sekarang, rasa kecewaku melebihi rasa kasihku kepadamu. Jd mungkin itulah mengapa aku tak berharap kau kembali. Aku akan merelakan bagian bagian dari aku yang turut kau bawa pergi, aku akan kembali menata hidup dan hati untuk menjadi aku yang lebih baik lagi, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk ditemukan oleh seseorang yang berhenti mencari setelah menemukan aku.
Kita hanyalah sebatas janji. Yg tak pernah saling menepati.
Surabaya, 13 Mei 2017
09.00-10.00
Sedih
BalasHapus