Langsung ke konten utama

bukan (kah) kita?

Aku memang tak seindah mega
Tak seteduh sore
Tak selapang langit
Tak selembut salju
Tak sebening hujan
Tak seputih kapur
 Dan tak sekuat pikat

Parasku tak mampu mengalihkanmu
Tuturku tak mampu menenangkanmu
Hatiku tak mudah memaafkanmu, apalagi diriku
Yang bisa-bisanya terbelenggu oleh cinta yang palsu
Bahasa tubuhku meresahkanmu
Tangisku kau anggap layu
Jiwakupun mudah terbelenggu

Dan mataku tak mampu membuatmu jatuh
Kedalam sebuah masa bernama waktu
Dimana kau berharap detik akan berhenti
Agar kau bisa menatapku dalam-dalam
Sembari merasakan

Tawa dan senyumku pun tak mampu melemahkanmu
Menjadi sebuah candu yang selalu membuatmu rindu

Semoga kau segera menemukan
Senyum, yang selalu membuatmu rindu
Dan risau bila tak bergurau dan bertemu

Semoga kau segera menemukan segala teduh
Yang nanti menjadi tempatmu labuh
Berjuanglah untuk segala labuhmu
Jika waktu pernah menghentikanmu
Kembalilah ke masa itu, perjuangkan teduhmu
Jika waktu belum pernah menghentikanmu
Semoga kalian segera saling menemukan

Dan aku, biarkan disini mengabu menjadi debu
Semoga aku, segera, suatu saat
Menjadi penguat dan penyengat
Untuk kamu yang menganggap kita adalah perlu

Surabaya, 11 april 2017
00.45 - 01.1
firda fadhilah lubis

Komentar